Rabu, 18 April 2012

Karena kamu sahabatku,,,

“Ini engga bener,”  batin ku teriak.
Tapi tetap tidak ada hal lain yang dapat—atau tepatnya lagi yang mau— kulakaukan.
Wajah lugu milik Imel yang selalu membuat aku iba sekaligus geregetan kesal  tak juga mampu membuat aku tersadar.

Dapat kurasakan tangan besar  milik Armand membelai halus rambutku yang di cat agak  kemerahan.Aku dengan sukarela menyandarkan kepalaku dibahunya.
            “Rambut kamu bagus,” ucapnya lirih. Membuatku terlena dengan bodoh.
Tidak ada kata yang mampu keluar dari mulutku, lidah yang biasanya pandai bersilat ini mendadak tergugu kaku. Hanya menikmati getaran-getaran nakal yang diciptakan tangan Armand dipunggungku.
            “Kamu selalu terlihat cantik  buat aku..,” lanjutnya lagi.

Kalimat Armand terputus, handphone yang disakunya bergetar. Aku yang berada didekatnya bisa merasakan radiasi getarannya juga.
“Oh… hallo sayang. Engga,  lagi di studio nih,” Armand mengerlingkan matanya kearahku, dengan bahasa tubuh itu aku membuat jarak dengannya sembari geram.

Hah, mataku terbeliak. Dasar buaya darat!  Standard gaya Armandd: berbohong diatas bohong.  Tapi lidahku tetap saja kelu. Otak ku mati rasa, kubiarkan tangan Armand mendarat dibahuku dan telingaku mendengar kebohonganya kepada Imel yang merajuk manja disebrang  HP sana.  Rasanya detik ini Armand bukan saja mempesonaku tapi dia menghipnotis aku dengan dustanya.

*          *          *

“Imel  please Imel, percaya sama aku”.
“Kamu sakit ya Fan?” suara Imel mulai meninggi.
Percakapan yang lebih mirip sidang—dengan terdakwanya adalah salah satu sahabat baik ku, Imeda—ini akhirnya memanas. Imel yang sedari tadi diam mulai terusik.

Aku mendesah pelan, bola mataku berputar. Bagaimana cara menjelaskan pada sahabat baik ku ini bahwa cowok yang disukainya itu tidak lebih dari corong bocor, yang kalau diisi dari atas tetap akan terbuang  ke bawah juga. Omong kosong besar.

“Fani bener Imel. Gue khan udah pernah bilang sama loe. Armand tuh bahkan pernah coba ngerayu  gue. Gue Imel, siapa sih gue”.
Dadaku sedikit sesak mendengar pengakuan Amanda. Teman baikku yang satu ini terlalu sering sekali rendah diri. Tidak ada yang salah dengan Amanda. Gadis itu cantik, walau tidak terlalu pandai secara akademik tapi juga bukan gadis bodoh. Hanya saja Amanda tidak pernah sekalipun sepanjang hidupnya mengoleskan bedak atau benda  make up lain kewajahnya. Gadis yang sangat miskin dalam bergaya perempuan, Amanda terlalu tomboy.

“Kalian ini kenapa sih?” walau sudah berusaha tenang,  nada suara Imel tetap beraroma emosi.
“Loe ngerti lah maksud kita,” sambar Amanda lagi.
“Dulu kalian yang ribut nyuruh-nyuruh aku untuk kenalan sama cowok, supaya aku ngerti pacaran, supaya aku engga kuper,  supaya aku sama kaya kalian. LAKU. Supaya kalian engga malu jalan sama aku.” Imel mengakhiri kalimatnya dengan tatapan sedih, kentara sekali  Imel berusaha menahan tangis.
“Imel, kok loe ngomong gitu sih!” seru Amanda agak tersulut.
“Aku jadi serba salah!” potong Imel cepat.
“Loe pacaran atau tidak, kita gak pernah  tuh yang namanya malu jalan sama loe. Marah sih marah tapi jangan ngaco dong kalu ngomong.”

Keduanya nampak bersitegang. Amanda memang punya gelora emosi yang tinggi. Dia selalu tidak terima jika dipojokan untuk alasan apapun. Sedangkan aku, aku memilih untuk diam. Diam secara lahir juga batiniah.

Aku belum mampu membagi kisah minggu yang lalu dengan kedua sahabat baikku ini. Bagaimana tiba-tiba Armand muncul ditempat kost ku, dan bagaimana aku terlena hanya oleh tatapan bohong sosok Armand.

Sedangkan Imel, selama hampir 10 tahun ini kami bersahabat dekat dan hapal dengan segala karakteristik kami masing-masing. Semua tau kalau  Imel tidak pernah marah, apalagi teriak. Imel adalah perempuan sejati. Dia mother Theresa kami.

Imel akhirnya terisak, dengan tergesa dia menarik tas dan file kuliahnya. Berlari meninggalkan Amanda yang masih juga terlihat emosi  dan aku yang merasa tertekan. Tertekan oleh kebodohanku sendiri. Diam dalam kebohongan.

*          *          *

Digelari Thee Angels karena persahabatan perempuan kami bertiga, memang aku yang paling terlihat ‘normal’  diantara sahabat-sahabatku ini. Pertemuan kami di sebuah organisasi sewaktu masih SMP membuat hubungan kami menjadi sangat dekat. Bahkan orangtua kamipun jadi berhubungan kekeluargaan karena  persahabatan  ini.

Amanda yang cenderung tomboy. Sepatu kets, casual wear dan rambut cepaknya selalu  menjadi trade-nya. Mungkin beberapa tahun yang lalu gaya itu tidak terlihat asing, tapi belakangan ini dimana make up hampir menjadi kebutuhan pokok perempuan  maka  gaya Amanda semakin tidak menggigit. Malah engga banget!! Dan gaya tomboynya disempurnakan dengan karakternya yang keras dan emosional.

Imelda, dengan posturnya yang mungil anak itu lebih terkenal diamnya. Gayanya yang lembut,  dandanannya sederhana cenderung ke norak dan kampungan. Pokoknya berbau feminim dan keibuan. Sempat dimasa SMA teman-teman sekolah kami mengira Imel seorang lesbian. Ada juga yang secara kasar meng-abuse-nya dengan mengatakan, TKW yang belum siap berangkat ke Malaysia. Atau pembantu yang nyasar masuk sekolah.

Sedangkan aku, walau tidak terlalu cantik, aku termasuk orang yang tidak mau ketinggalan mode dan gaya. Tidak heran kepalaku selalu membesar karena tidak sedikit cowok yang naksir aku.

Menurut aku, akulah yang membuat persahabatan kami jadi tidak seaneh yang dikata-katai orang. Karena selain lebih ‘normal’ aku juga masih mau mengikuti club cheers leader dan beberapa club kesohoran perempuan lainya di sekolah. Tidak seperti Amanda yang ngotot mau masuk club basket anak laki-laki,  karena merasa level permainanya sudah sebanding dengan anak laki-laki atau Imel yang sama sekali anti dengan ‘orang banyak’.

Tapi kebaikan Amanda dan kesabaran Imel adalah payung besar yang selalu membuat aku berlabuh didermaga persahabatan kami. Jika pertemanan dengan mausia yang lain mulai pilah-pilih dan bersaing, aku pasti kembali ke kedua kawan baik-ku ini.

*          *          *

“Liat,  dandanannya Imel!” Amanda pura-pura menyeruput Juice jeruknya. Padahal semenit yang lalu matanya nyaris melompat dari kelopak mata. Aku memilih tersenyum, bangga dengan pemandangan baru ini.
“Cantik kok,” balasku.
Rambut panjangnya berganti ombak sebahu. Riasan-riasan tipis menonjolkan garis wajahnya dengan jelas. Metamorfosa Imel yang lainnya dalam beberapa bulan terakhir. Dia langsung memicing mata melihat kami yang terbengong-bengong.
“Hai, lo gak marah khan Man,” Imel mengigit bibir, berharap restu dari teman baiknya yang anti make up ini, sambil menggengam tangan Amanda.

Amanda tersenyum lalu  menggeleng pelan. Seperti biasa, segala hal yang amat dibencinya  tapi jika kita datang kepadanya dengan ‘kelembutan’ maka naluri perempuanya akan berbicara juga.  
“Kita khan sohib say, kenapa mesti marah. Hmm, tapi dandanan loe agak-agak gimana gitu,” komentarnya sembarangan.
“Loe rese deh Man, cakep kok. Manda gak terlalu suka liat loe dandan, katanya cakepan  alami. Tapi menurut gue keren kok Imel. Litle make over lagi ya,”  aku memuji Imel dengan tulus. Imel  kelihatan salting tapi bangga.

Selama berkawan tahunan aku tau pasti, bedak tipis hanya akan menepel diwajah Imel jika ada acara kawinan saudaranya. Pakaianpun tidak pernah yang seksi, okelah terkadang agak lebih modern daripada biasanya tapi seksi bukan pilihan Imel. Hari ini aku speechless dengan dandan alami wajahnya dan rok span-blazer keren yang menempel ditubuhnya.

“Armand suruh gue dandan,” ucapnya pelan-pelan mengatur intonasi dengan sangat tepat setelah menerima pesanan makanan dari Mbak Kantin tadi. Lalu  Imel  seperti  menyembunyi kan wajahnya dibalik  file kuliahnya.
“Hah! Apa?” Amanda pura-pura tenang walau resenya kumat, aku tau dia kesal demi nama Armand disebut.
“Segitunya loe Imel, kayanya Armand nyuruh loe apa aja loe nurut deh,” aku ikutan nyambung.
Sumpah mati aku engga tau ini pernyataan seorang sahabat atau rival.

Imel bener-bener salah tingkah, tapi kelihatan dia masih sangat menikmati semua moment ini. Makanya dia masih saja terus berjalan di 2 jalur itu, kembali kepada kami sahabatnya yang terus akan mengusili-nya soal Armand tapi juga tetap menyeruduk dibalik ketiak Armand, cowok pertama yang mengena dihatinya.

Mungkin karena  ini adalah cinta pertama buat dia. Tiga bulan sejak jadian  sama Armand Imel sudah banyak merubah gayanya. Paling pertama adalah  pakaian. Imel yang biasanya berpakaian sederhana, seputaran kaos dan jeans tahun jadulan atau kulot dan kemeja. Sekarang berganti baju strecht, tank top, baby doll… pokoknya model sekarang. Bahkan Imel udah mau pake rok mini. Pakaian yang selalu bikin tangannya gatel untuk mencubit pahaku setiap kali aku pakai.

Dan pola ini sudah berjalan selama 3 bulan ini. Berubah, berdebat, bersekutu lagi, berdebat lagi, berubah lagi… yups, selalu begini. Hanya lokasinya yang pindah. Kalau bukan dikantin kampus seperti sekarang, ya di kost-an aku, atau rumah Amanda bahkan rumah si tuan Rumah sekalipun, Imel. Kami masih belum sepaham soal “Armand” titik.

“Trus besok apalagi?”  aku  nyambung usil.
“Iya lho Imel, please dong jangan kalap gitu. Oke lah gue gak terlalu suka liat loe dandan, walau jujur gue akui loe lebih cantik. Tapi loe engga perlu dong nurutin semua peraturannya Mas-mu itu,” Amanda berusaha bersikap bijak.
Hapal karakternya aku tau Amanda berjuang untuk mengunakan intonasi berbahasa yang lebih bersahabat. Suasana kantin yang tidak terlalu ramai membuat kami agak leluasa untuk berdebat.

“Dia gak maksa aku kok” Imel membela diri, atau Armand kah?
“Nah kan lebih parah lagi, ngapain loe ber-metamorfosis gitu,” aku sedikit sewot juga. Belum bisa aku memastikan arah ‘sewot’ ku ini.

Setelah agak ku perhatikan rambut Imel berubah warna seperti rambut ku. Kami sama-sama terdiam. Sesekali wangi mie goreng buatan ibu kantin yang menggugah selera merayapi ruangan kantin.

“Imel gue tau lo jatuh cinta. So go a head sayang. Cinta milik semua orang, gue juga cinta beneran sama Leo. Gue sayang sama Leo. Tapi banyak hal yang harus gue pertimbangkan dan gue mau dia juga pertimbangkan lagi. Iya gue sayang dia dan dia sayang gue. So inilah gue, itulah dia. Terima dong apa adanya, engga usah suruh berubah lah, ganti gaya lah, ganti apalah…. So what next?”
“Lama-lama dia suruh elo tinggalin kita,” Amanda masih berusaha tenang.
“Engga mungkin, Armand gak kayak gitu kok Man”.
“Yach… melihat banyaknya perubahan yang elo bikin demi Armand, mana kita tau. Dan kalau sampe itu terjadi, suer gue akan hajar pacar loe itu!!”.

Imel terdiam sembari memaksakan diri untuk menikmati brunch-nya diantara celoteh sahabat-sahabatnya. Dia seperti yang berfikir keras untuk kemudian menimbang. Tapi aku tau, aku sangat-sangat mengerti apa yang dirasakan Imel.

Sejujurnya aku dan Imel berdiri diperahu yang sama, betapa perasaan itu menyiksa. Betapa cinta yang yang membutakan itu membuat hati tersesat bahkan menjadi bodoh. Betapa kebodohan itu sesungguhnya sudah menunjukan jalan untuk memilih apakah ingin keluar atau menikmatinya saja. Tapi kami, aku juga… adalah bagian dari orang bodoh yang tetap memilih untuk menikmati pembodohan itu. Sampai waktu tertentu… hmmm, semoga.

“Tau loe, biasa aja dong. Dari dulu kita suruh dandan loe susah banget. Masak mendadak dalam tempo tiga bulan Armand bias bikin loe berubah” aku sadar kalau kata-kataku terdengar munafik. Bahkan lebih jahat lagi kalau apa yang sesungguhnya ada didalam hatiku terpampang saat ini.
“Okelah, loe sekarang suka tampil cantik, sexy en segalanya lah buat si…,“
bahkan untuk menyebut nama Armand saja Amanda tidak mau.
“Loe ngerasa gak sih, loe udah bukan diri loe lagi. Loe udah makin maksain. Dan itu yang kita gak suka Imel. Loe berubah buat semua gombalnya….”
“Satu lagi Man, yang paling penting” sambungku gesit.
“Yah… loe tuh cuma dibohongin Armand Imel, Percaya deh sama kita-kita” Amanda sangat berusahan membuat suaranya selembut mungkin.

Aku ikutan merasa terjepit, aku tau perasaan melindungi Amanda seperti  aku juga tahu perasaan Imel. Kami teramat saling menyanyangi, 10 tahun persahabatan ini bukanlah tanpa gejolak. Tapi aku secara pribadi juga mengakui kalau masalah kita saat ini lumayan pelik.

Imelda yang setengah memaksakan diri sekarang berubah menjadi Imel yang baru, perempuan yang sesuai dengan keinginan pria yang baru pertama kali sepanjang hdup Imel sukai, dan kami semua sulit memaklumi hal itu.

Sejak semula Imel jadian sama Armand aku adalah orang yang paling menentang. Bukan apa, aku tau kalau selama ini cowok brengsek itu juga pernah menggodaku. Entah dari mana dia bisa mendapatkan nomor HP ku, lalu hampir setiap hari rayuan gombalnya yang maut meluncur baik memlaui voice mail ataupun sms. Dan aku membenci pria pembohong itu, sangat jijik… waktu itu.

Sedangkan Amanda, mulanya tidaklah terlalu tegang sampai Armand mencegatnya di tempat parkir, tepat diatas kap sedan Amanda, dan merayunya. Aku secara Pribadi tidak yakin kalau waktu itu Armand memang niat ‘menggoda’ Amanda secara attraction atau sekedar mengetes seberapa perempuanya sosok tomboy Amanda.

Yang jelas kemudian Amanda murka, dia menyesali hari itu pernah ada dalam hidupnya.  
“Pokonya gue najis liat tampang bajingan itu, masak gue di rayu,” makinya waktu itu dengan berapi-api.
“Tau engga loe… dia sok senyum manis sama gue, terus… ih amit-amit deh ngingetnya aja gue jijik. Dia mau pegang tangan gue Imel. Laki-laki sialan tuh!”  dengan gaya emosinya yang biasa Amanda berputar ditempatnya.

Seperti biasa pula setiap kal mendengar Armand dicap bajingan Imel pasti marah dan memilih untuk mengakhiri perdebatan kami. Lalu semuanya ‘tetep’ harus happy ending. Kami terlalu saling menyanyangi untuk terus mempertahankan pendapat. Biasanya tanpa komando jika—ada salah satu pihak yang mulai terlihat gusar— perdebatan kami akan terhenti. Tapi jika nanti ketemu lagi, kami tetap membahas hal yang sama. Huh,,,

*          *          *

“Hallo!” sapaku dengan gamang tapi memasang senyuman manis.
“Gue tau lo pasti dating. Tanks for trush me”.
Aku tidak sanggup berkata, kuletakan tubuhku tepat disisi cowok itu, tak dapat kupungkiri getaran nakal itu kembali menyerangku pelan tapi pasti seketika dia menyambar pipiku.
“2 soft drink.. engga pake lama,” setengah menggoda cowok itu melambai pada waitress yang berpakaian sexy serba merah.
“Penyakit loe ya!’ semburku, entah karena rasa risih atau cemburu.
“Please dong  Fan. Just kidding” cowok itu meremas bahuku dengan lembut. Sebuah kebodohan yang kunikmati lagi dalam hati.

*          *          *

“Dari mana loe kemarin malam?” Amanda menyulut rokok mild-nya.
Perlahan tapi pasti dia mengisapnya dalam-dalam. Amanda memang perokok, walau tak terlalu sering tapi hal ini tidak pernah ada masalah dengan Leo-nya.
“Jangan-jangan punya HTS-an,” goda Leo, yang juga menyulut rokoknya. Mengambil rokok Amanda sebagai penyala api daripada korek api. Aku yakin Leo hanya mengucapkannya dengan sembarangan, tapi dosa terselubungku sudah memaksaku untuk terkesiap dan segera pasang pembelaan baru.
“Rese loe,” balasku sekenanya.
Amanda melototin Leo tajam, yang dimaksud hanya tersenyum malu.
“Kamu jangan sembarangan deh Yang, gak ada kali rahasia Fani yang aku gak tau,” kerongkonganku tambah tercekat. Amanda membelaku dengan senyumannya.
“Ya khan Fan?”  jelas bahwa wajah Amanda tidak meminta aku menjawab karena dia sangat percaya kepadaku. Karena memang kami selalu saling terbuka.
“Tau nih Leo. bikin berita aja loh,”  umpatku sok tenang. Andai mereka tau betapa bergemuruhnya dadaku saat ini.

Kami tertawa bersama, aku dan Leo sudah seperti kakak. Leo bukan saja menjadi pacar Amanda tapi dia juga menjadi saudara bagi kami bertiga. Dia adalah bagian dari kisah persahabatan kami. Tapi aturan kami jelas, laki-laki tidak perlu bicara, mereka hanya cukup tau masalah perempuan.

“Hai. Sorry telat,” senyum Imel sumringah bahagia sejak dimuka pintu masuk. Dengan penuh percaya diri dia menggandeng tangan Armand memasuki halaman rumah Amanda. Seperti biasa  kebiasaan persahabatan kami, bahwa kami akan selalu menghargai pasangan kawan sekalipun disisi lain kami tidak suka.
“Hai apa kabar loe bro..?’ Armand menjabat ramah tangan Leo
“Baik, lama gak kelihatan bro?” balas Leo tidak kalah ramah
Entah apa yang selanjutnya mereka bicarakan. Telingaku seperti tuli mendadak, padahal jarak mereka kurang dari 2 meter dibangku seberang. Hanya yang pasti aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan degup jantungku yang jadi tidak karu-karuan. Dengan tanpa rasa berdosa sama sekali Armand menjabat ramah tanganku.
“Hai, lama gak kelihatan non?”  sapanya  palsu, sepalsu air mukaku yang berusaha tenang. Lalu kemarin, apa kamu janjian sama setan, rutuk-ku dalam hati.
“Biasa deh, eh kalian dari mana?” entah apa ada yang menyadarikah kalau nada suaraku penuh getar karena pita suaraku yang terikat oleh urat syaraf yang tegang.

Imel tidak mampu menutupi raut wajahnya yang bahagia. Sembari bergelayut manja dibahu kokoh milik Armand, tidak lama kemudian dia mengeluarkan bungkusan makanan.
“Nih tadi kita abis makan, gak lupa sama pesenan Manda,” ujarnya lembut.
“Wah asik nih. Sering-sering yah” Leo cepat menyambar bungkusan mie goreng tersebut. Amanda menyikut dengan reflek.
“Tenang aja Man,  makanan  itu engga gue taburi pellet kok. Loe bisa makan dan tetep gak akan suka sama gue,” dengan gayanya yang cool—seperti biasanya— Arman melempar senyumannya buat Amanda. Kedua lelaki itu terkekeh, dan aku tidak paham dibagian mananya yang lucu.

Amanda terbeliak. Aku tersentak dan segera mengambil satu bungkus makanan itu. Takut larut dalam sorot mata keki Amanda atau demi memecah kekecewaan yang nyaris mampir diwajah imel. “Let’s have an eat!” seruku cepat.

Itulah Armand, aku tau ke-asalan dan sembrononya teramat sangat. Mungkin itukah benih-benih yang bisa tiba-tiba memikatku? Dengan tidak kalah cueknya Amanda bangun dari bangkunya.
“Gue mau kekamar dulu, cari buku yang kemarin loe mau pinjem Fan”.
“Amanda kamu gak makan dulu aja,” rayu Leo.
Amanda menggeleng lalu masuk kamar.

*          *          *

Sepulang kuliah, aku langsung menghampiri parkiran. Amanda dan Leo sudah menunggu disana.
“Gue gak bisa ikut kalian dulu yach, gue udah keburu janjian sama pembimbing gue minggu ini. Gimana entarnya gue kabarin deh. Kali aja bu dosen-nya malah yang gak bisa.”
“Lagian ada-ada aja sih loe, minta bimbingan musim liburan?” Leo mengacak-acak kepalaku sambil bergaya mengomeli. Walaupun anak band dan bergaya gothic Leo orangnya sangat perhatian dan lembut.
“Hiyyy, bukan gue kali yang atur om..”balasku manja.
“Obsesi dia yang, mau jadi caume laude”, goda Amanda.
Sering aku merasa menjadi seperti adik dihadapan Amanda. Walaupun temper dan cenderung ribet ternyata justru itulah yang membuatnya jadi seperti ‘pelindung’ bagi aku. Kusampaikan semua alasan-alasan yang sudah aku atur dan skema-kan dengan baik sejak minggu lalu. And Thank God, kali ini Amanda sedang tidak ribet.  
“Ya udah hati-hati yach... bye bye,” aku mencium pipi kedua sahabatku itu dan melangkah pergi.

Belum lagi mobil Amanda begitu jauh,  terlihat imel datang setengah berlari.
“Kenapa loe Imel?”
“Yah udah perg dech,” Imel langsung menjajari langkahku.
“Aku mau liburan ke Bandung aja dech”
“Kenapa?”
“Habis Armand mau naik gunung, daripada aku bete sendirin dirumah”
Aku diam seribu bahasa.
So, gimana loe mau ikut gue aja sekarang ke kost-an,” tawarku
“Engga deh… gue mau ke rumah papa aja deh. Mau  ganti suasana dulu ah seminggu,” jawabnya cepat.  

Orangtua Imel broken home makanya kalau ada liburan lumayan panjang begini dia biasa memilih untuk berganti suasana dengan kerumah papa-nya jika tidak ada pilihan berlibur lainya. Makanya Imel sangat menghargai sebuah hubungan. Sekalipun hungan itu dilandasi kepalsuan. Dan Imel sangat bersandar pada aku dan Amanda. Kesatuan persahabatan kami ini seperti obat baginya diantara perceraian orang tuanya.

Amanda prinsipil tapi solidaritasnya sangat tinggi. Sedangkan aku, aku biasa gegabah dalam segala hal, makanya akulah yang sebenarnya paling tertopang dalam persahabatan ini.

Tapi saat ini aku sama sekali tidak minat untuk hitung-hitungan soal sahabat atau masalah mengenainya. Aku masih pusing memikirkan cara mengatur waktu dengan Armand agar segala sesuatunya terlihat biasa. Bukan seperti diatur, berharap orang lain ‘tidak’ salah paham.

*          *          *

Sebenarnya aku tidak ada niat untuk minum es kelapa bu Entin yang terkenal enak di kantin sebelah barat, tapi iseng untuk menunggu  kelas Pak Ricki yang masih 2 jam lagi aku kesana bersama Dita yang kebetulan mengajak.
“Bete tau, nunggu di perpus…  ke mall tanggung,” celotehnya.
“Kebetulan deh daripada gue gak ada temennya,” balasku
“Amanda ama Imel kemana.”
“Amanda udah balik ke Bandung dari kemaren. Imel  palingan ke rumah Bokapnya.”

Mendadak  langkahku berat, Dita sudah beberapa meter didepanku tapi aku masih terdiam di pintu kantin.
“Fan gue disisni!” Dita setengah berteriak.
Cepat-cepat cowok jelek dipojok sebelah kiri dari pintu masuk  melepas dekapannya. Armand mesra  memeluk cewek—yang pasti bukan Imel— lalu pura-pura dengan santainya ikutan melambai padaku.

“Si Monyong itu, pacar Imel yah?” Dita mengrundel pelan.
“Hiyy, nyebelin…,” lanjutnya masih kesal.
“Kenapa?” tanyaku  pura-pura bego.
Padahal nyaris 99% aku sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh Dita. Ini pasti soal kelakuan Armand yang playboy kelas kambing.
“Kasian tau  Imel kan anak baik-bak, kok bisa-bisanya pacaran sama playboy cap dodol itu,” Dita masih berapi-api.

Aku pura-pura sibuk dengan buku ctatan yang ada dihadapanku. Masih kudengar umpatan- umpatan Dita akan Armand. Aku terdiam seribu bahasa, hatiku terasa teriris entah untuk sosok Armand, Imel atau justru ibaku pada kebodohanku.

*          *          *

“Stefany…  ada tamu,” kudengar suara teman sekostku mengetuk perlahan pintu kamarku.  Dengan malas aku menarik bantal menekan  lebih dalam kekepalaku. Jam disisi ranjangku masih bagus aku yakin itu, jam 23.15.
“Manusia sinting,” batinku.
“Jangan lama-lama ya, takut entar ada yang ngadu sama ibu kost,” Metha, keponakan ibu kost. Selain pemegang kunci dia juga sangat baik pada semua orang kost.Penuh toleransi dan pengertian.  Mungkin dialah satu-satunya saksi mata yang melihat dengan mata-kepala sendiri bagaimana Armand menjemputku diam-diam belakangan ini. Orang yang sangat menyenangkan, sama sekali tidak mencoba untuk tau urusan orang lain.

Kamarku memang terpisah dari kamar yang lain. Aku memilih paviliun yang akan menjorok kebelakang dan tersendiri. Sekilas nampak seperti rumah tinggal. Tempat favorit kami berkumpul.

Aku masih malas-malasan melangkah, tiba-tiba sosok besar berdiri tegap dihadapanku. Jantungku nyaris copot, seketika hilang semua kantukku.
“ARMAND,” aku hampir terpekik seraya membeliakan mata.
“Sttt, sory-sory,” dia memasang jarinya diatas bibir sebagai tanda agar aku tidak terlalu berisik. Kemudian kami duduk diteras depan.

Rasanya mau kulempar asbak ke  wajah bajingan satu itu mengingat kejadian siang kemarin. Cewek itu bernama Raya, anak tingkat satu yang super lincah dan centil. Nyambi model—katanya— makanya gayanya mirip artis..
           
“Engga salah rumah,” semprotku sinis.
Entah untuk apa, entah untuk siapa. Sepenuh hati aku sadar Armand tidak punya kewajiban apa-apa terhadap aku, Armand juga tidak punya kepentingan untuk menjelaskan apa-apa padaku. Tapi hatiku galau, kepalaku sakit mengingat kelakuannya. Hatiku tersayat cemburu, perasaanku sembrawut.

Armand menyulut rokonya lalu tersenyum iblis, “apa sih maksud kamu?”.
“Engga usah pura-pura bego deh, emang kamu nyebelin banget,” aku mulai emosi. Kutampar bahu kirinya dengan tangan kananku. Aww, tangaku malah yang terasa panas. Dia malah menatapku lamat-lamat.
“Kamu  kenapa sih Fan, aku tuh datang kesini karna kangen banget sama kamu,” dia meraih pergelangan tanganku.
Oh Tuhan, sorot mata itu, aku tau itu palsu aku tau… tapi aku masih memaksakan diri untuk membangun harga diri bahwa ada ‘secuil’ kejujuran dimata Armand. Ahh,

Hatiku terus saja bergulat, seharusnya ini bukan aku. Okelah  may be I’m a lover tapi engga pernah setolol ini. Aku diam dan berusaha percaya padahal aku tau semua kebohongannya. Aku tau, karna aku ada didalam kebohongan ini. Aku bukan korban kebohongan Armand semata tapi aku juga pelaku kebohongan itu. Ahrggg….

“Sumpah Fan … aku gak bisa tidur. Terus kebayang wajah kamu. Aku perlu ngejelasin sesuatu  sama kamu. Aku  cuma mau ngomong kalo kemarin siang itu  kamu gak liat apa-apa. Raya itu cuma...”
“Selingan kamu,  kayak aku atau Imel” ketusku pendek.
“Fan, aku engga sejahat itu kali,” bela diri Armand.
“Oh ya… berani kamu bilang begitu?” aku menekan suaraku sekuat mungkin, berharap Armand menyadari emosi yang terbungkus di sepi malam ini.
“Aku malu tau gak Ar...  aku malu sama diriku sendiri. Setelah aku menekan Imel karena semua kebohongan kamu…,” aku mengatur kalimat yang tepat.
 “Kamu ternyata gak berubah” ketusku lagi.
“Stefany denger aku…,” tau-tau Armand sudah berdiri didepanku.
Aku menunduk dalam-dalam, kuhindari bertatapan langsung dengan lelaki yang selalu membuat otak dan perasaanku mati seketika.

 “Ini engga adil, ini engga bener,  ini engga adil buat semuanya,” bisikku.
Tiba-tiba seperti ada Amanda dan Imel yang sedang menyaksikan kami berdua. Aku seperti dikejar gumpalan pertanyaan yang menggunung.
“Aku udah salah besar. Aku udah membohongi semua orang. Ini engga adil Ar, tidak buat aku apalagi Imel. Dia sayang banget sama kamu” aku masih menunduk.
“Sttt… Fani Fani, denger aku,” wajah Arman sudah sejajar dengan aku. Dia berdiri dengan lututnya untuk mengangkat wajahku yang tertunduk.
“Bagaimana dengan perasaan kamu?” desisinya lirih.
“Armand, kamu...,” aku takut menatap lekat bola matanya.
“Semua orang  juga tau kamu deket sama Jimy, walau statusnya gak jelas. Tapi kalau kamu memang ingin aku menjauh, aku mau denger itu dari bibir kamu”
“Armand, denger dulu,” aku mendadak panic demi nama Jimy.

Ternyata aku lebih takut jika dia mengira masih ada sesuatu antara aku dan Jimy. Hubungan kami sedang dalam masa krisis 6 bulan ini. Kesibukanya didunia kerja yang baru belum  bisa kutoleransi.
            “What Fan?” kejarnya lagi, aku berusaha menolak sorot matanya.

Aku harus sudahi semua ini. Please Stefany bangun, bangun. Ingat Imel, ingat Raya, ingat Amanda… semua cuma sandiwara. Bangun Fan, bilang kamu masih jalan sama Jimy dan berhenti mengikutimu… bantinku berperang dengan sengit.

Armand melemparkan puntung rokonya, sorot matanya nanar menatapku sejurus, kepalanya terangguk seperti menunggu jawabanku.

Huh, tolol, bodoh… aku engga boleh diam. Aku harus selesaikan semua ini. Aku harus berhenti dari lingkaran setan ini. Ini sangat  engga adil buat Imel. Kasihan Imel, aku sudah keterlaluan. HENTIKAN STEFANY… jerit batinku.

Kenyataanya. Aku ternyata cuma terdiam,  tidak sanggup membalas tatapan liar Armand. Sekujur tubuhku merinding. Jantumgku pindah ke lutut. Terus memaksa diri untuk bicara.
“Stefany, aku mau jawaban dari kamu,” Armand mengangkat daguku.
Aku diam, sejuta hening semakin mengerogoti kami. Mataku terpaksa bertemu matanya.
“Kamu selalu disini..” Armand menyentuh dadanya, membawa tanganku dibawah tangannya. Mataku terpejam, lagi-lagi wajah  Imel dan Amanda  menari-nari dihadapanku.
“Bilang, kamu gak mau aku datang lagi,,” tantangnya.
“Ar, sudahlah…”
“Sekali aja..”
“Armand Please…”

Aku berharap waktu berhenti detik ini, tanpa harus kudengar lagi kata-kata Armand yang  melambungkanku ke awan untuk sesaat tapi kemudian membawaku untuk  terhempas kedasar. Untuk tidak kulalui  lagi hari-hari, sehingga besok atau besok lagi agar tidak  kuhadapi wajah-wajah manis dua manusia yang akan terus membuatku merasa berdosa.

Sepi, bau rumput dan malam menyatu menghadirkan suatu aroma yang khas. Suara jangkrik makin menggema diatara keheningan ini.  Tidak ada lagi yang mau kuucapkan. Tapi kenapa aku hanya diam ketika Armand mengangkat wajahku mendekatinya dan kemudian  keningku terasa hangat oleh  sentuhan bibirnya.
           
Sekujur tubuhku makin terasa panas dan degup jantungku berdetak hebat. Hatiku merasa tidak mau melanjutkan ini, tapi tubuhku lagi-lagi tak mampu menolak. Dan kali ini  tidak ada lagi bisikan rasa bersalah dari hatiku. Lalu kubiarkan Armand menarik tanganku  melingkari pingangnya. Aku bisa merasakan  bau tubuh Armand, bau asap rokok dari mulut Armand jelas terhirup olehku.

Kubiarkan malam pekat yang semakin dingin itu mengikat aku dalam kehangat pelukan pengkhianatan. Huff…
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar