“Ini engga bener,” batin ku teriak.
Tapi tetap tidak ada hal lain yang dapat—atau
tepatnya lagi yang mau— kulakaukan.
Wajah lugu milik Imel yang selalu membuat aku
iba sekaligus geregetan kesal tak juga
mampu membuat aku tersadar.
Dapat kurasakan tangan besar milik Armand membelai halus rambutku yang di
cat agak kemerahan.Aku dengan sukarela
menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Rambut
kamu bagus,” ucapnya lirih. Membuatku terlena dengan bodoh.
Tidak ada kata yang mampu keluar dari mulutku,
lidah yang biasanya pandai bersilat ini mendadak tergugu kaku. Hanya menikmati
getaran-getaran nakal yang diciptakan tangan Armand dipunggungku.
“Kamu
selalu terlihat cantik buat aku..,”
lanjutnya lagi.
Kalimat Armand terputus, handphone yang disakunya bergetar. Aku yang berada didekatnya bisa
merasakan radiasi getarannya juga.
“Oh… hallo sayang. Engga, lagi di studio nih,” Armand mengerlingkan
matanya kearahku, dengan bahasa tubuh itu aku membuat jarak dengannya sembari geram.
Hah, mataku terbeliak. Dasar buaya darat! Standard gaya Armandd: berbohong diatas
bohong. Tapi lidahku tetap saja kelu.
Otak ku mati rasa, kubiarkan tangan Armand mendarat dibahuku dan telingaku
mendengar kebohonganya kepada Imel yang merajuk manja disebrang HP sana. Rasanya detik ini Armand bukan saja
mempesonaku tapi dia menghipnotis aku dengan dustanya.
* * *
“Imel please Imel, percaya sama aku”.
“Kamu sakit ya Fan?” suara Imel mulai meninggi.
Percakapan yang lebih mirip sidang—dengan
terdakwanya adalah salah satu sahabat baik ku, Imeda—ini akhirnya memanas. Imel
yang sedari tadi diam mulai terusik.
Aku mendesah pelan, bola mataku berputar. Bagaimana
cara menjelaskan pada sahabat baik ku ini bahwa cowok yang disukainya itu tidak
lebih dari corong bocor, yang kalau diisi dari atas tetap akan terbuang ke bawah juga. Omong kosong besar.
“Fani bener Imel. Gue khan udah pernah bilang
sama loe. Armand tuh bahkan pernah coba ngerayu gue. Gue Imel, siapa sih gue”.
Dadaku sedikit sesak mendengar pengakuan
Amanda. Teman baikku yang satu ini terlalu sering sekali rendah diri. Tidak ada
yang salah dengan Amanda. Gadis itu cantik, walau tidak terlalu pandai secara
akademik tapi juga bukan gadis bodoh. Hanya saja Amanda tidak pernah sekalipun
sepanjang hidupnya mengoleskan bedak atau benda
make up lain kewajahnya. Gadis
yang sangat miskin dalam bergaya perempuan, Amanda terlalu tomboy.
“Kalian ini kenapa sih?” walau sudah berusaha
tenang, nada suara Imel tetap beraroma
emosi.
“Loe ngerti lah maksud kita,” sambar Amanda
lagi.
“Dulu kalian yang ribut nyuruh-nyuruh aku untuk
kenalan sama cowok, supaya aku ngerti pacaran, supaya aku engga kuper, supaya aku sama kaya kalian. LAKU. Supaya
kalian engga malu jalan sama aku.” Imel mengakhiri kalimatnya dengan tatapan sedih,
kentara sekali Imel berusaha menahan
tangis.
“Imel, kok loe ngomong gitu sih!” seru Amanda
agak tersulut.
“Aku jadi serba salah!” potong Imel cepat.
“Loe pacaran atau tidak, kita gak pernah tuh yang namanya malu jalan sama loe. Marah
sih marah tapi jangan ngaco dong kalu ngomong.”
Keduanya nampak bersitegang. Amanda memang
punya gelora emosi yang tinggi. Dia selalu tidak terima jika dipojokan untuk
alasan apapun. Sedangkan aku, aku memilih untuk diam. Diam secara lahir juga
batiniah.
Aku belum mampu membagi kisah minggu yang lalu
dengan kedua sahabat baikku ini. Bagaimana tiba-tiba Armand muncul ditempat
kost ku, dan bagaimana aku terlena hanya oleh tatapan bohong sosok Armand.
Sedangkan Imel, selama hampir 10 tahun ini kami
bersahabat dekat dan hapal dengan segala karakteristik kami masing-masing.
Semua tau kalau Imel tidak pernah marah,
apalagi teriak. Imel adalah perempuan sejati. Dia mother Theresa kami.
Imel akhirnya terisak, dengan tergesa dia
menarik tas dan file kuliahnya. Berlari meninggalkan Amanda yang masih juga
terlihat emosi dan aku yang merasa
tertekan. Tertekan oleh kebodohanku sendiri. Diam dalam kebohongan.
* * *
Digelari Thee
Angels karena persahabatan perempuan kami bertiga, memang aku yang paling
terlihat ‘normal’ diantara
sahabat-sahabatku ini. Pertemuan kami di sebuah organisasi sewaktu masih SMP
membuat hubungan kami menjadi sangat dekat. Bahkan orangtua kamipun jadi
berhubungan kekeluargaan karena
persahabatan ini.
Amanda yang cenderung tomboy. Sepatu kets, casual wear dan rambut cepaknya
selalu menjadi trade-nya. Mungkin beberapa tahun yang lalu gaya itu tidak terlihat
asing, tapi belakangan ini dimana make up
hampir menjadi kebutuhan pokok perempuan
maka gaya Amanda semakin tidak
menggigit. Malah engga banget!! Dan gaya tomboynya disempurnakan dengan
karakternya yang keras dan emosional.
Imelda, dengan posturnya yang mungil anak itu
lebih terkenal diamnya. Gayanya yang lembut,
dandanannya sederhana cenderung ke norak dan kampungan. Pokoknya berbau feminim
dan keibuan. Sempat dimasa SMA teman-teman sekolah kami mengira Imel seorang
lesbian. Ada juga yang secara kasar meng-abuse-nya
dengan mengatakan, TKW yang belum siap berangkat ke Malaysia. Atau pembantu
yang nyasar masuk sekolah.
Sedangkan aku, walau tidak terlalu cantik, aku
termasuk orang yang tidak mau ketinggalan mode dan gaya. Tidak heran kepalaku
selalu membesar karena tidak sedikit cowok yang naksir aku.
Menurut aku, akulah yang membuat persahabatan
kami jadi tidak seaneh yang dikata-katai orang. Karena selain lebih ‘normal’
aku juga masih mau mengikuti club cheers
leader dan beberapa club kesohoran perempuan lainya di sekolah. Tidak
seperti Amanda yang ngotot mau masuk club basket anak laki-laki, karena merasa level permainanya sudah
sebanding dengan anak laki-laki atau Imel yang sama sekali anti dengan ‘orang banyak’.
Tapi kebaikan Amanda dan kesabaran Imel adalah
payung besar yang selalu membuat aku berlabuh didermaga persahabatan kami. Jika
pertemanan dengan mausia yang lain mulai pilah-pilih dan bersaing, aku pasti
kembali ke kedua kawan baik-ku ini.
* * *
“Liat,
dandanannya Imel!” Amanda pura-pura menyeruput Juice jeruknya. Padahal
semenit yang lalu matanya nyaris melompat dari kelopak mata. Aku memilih
tersenyum, bangga dengan pemandangan baru ini.
“Cantik kok,” balasku.
Rambut panjangnya berganti ombak sebahu.
Riasan-riasan tipis menonjolkan garis wajahnya dengan jelas. Metamorfosa Imel
yang lainnya dalam beberapa bulan terakhir. Dia langsung memicing mata melihat
kami yang terbengong-bengong.
“Hai, lo gak marah khan Man,” Imel mengigit
bibir, berharap restu dari teman baiknya yang anti make up ini, sambil menggengam tangan Amanda.
Amanda tersenyum lalu menggeleng pelan. Seperti biasa, segala hal
yang amat dibencinya tapi jika kita
datang kepadanya dengan ‘kelembutan’ maka naluri perempuanya akan berbicara
juga.
“Kita khan sohib say, kenapa mesti marah. Hmm, tapi
dandanan loe agak-agak gimana gitu,” komentarnya sembarangan.
“Loe rese deh Man, cakep kok. Manda gak terlalu
suka liat loe dandan, katanya cakepan alami. Tapi menurut gue keren kok Imel. Litle make over lagi ya,” aku memuji Imel dengan tulus. Imel kelihatan salting tapi bangga.
Selama berkawan tahunan aku tau pasti, bedak
tipis hanya akan menepel diwajah Imel jika ada acara kawinan saudaranya.
Pakaianpun tidak pernah yang seksi, okelah terkadang agak lebih modern daripada
biasanya tapi seksi bukan pilihan Imel. Hari ini aku speechless dengan dandan alami wajahnya dan rok span-blazer keren
yang menempel ditubuhnya.
“Armand suruh gue dandan,” ucapnya pelan-pelan
mengatur intonasi dengan sangat tepat setelah menerima pesanan makanan dari Mbak
Kantin tadi. Lalu Imel seperti
menyembunyi kan wajahnya dibalik file kuliahnya.
“Hah! Apa?” Amanda pura-pura tenang walau
resenya kumat, aku tau dia kesal demi nama Armand disebut.
“Segitunya loe Imel, kayanya Armand nyuruh loe
apa aja loe nurut deh,” aku ikutan nyambung.
Sumpah mati aku engga tau ini pernyataan
seorang sahabat atau rival.
Imel bener-bener salah tingkah, tapi kelihatan
dia masih sangat menikmati semua moment ini. Makanya dia masih saja terus
berjalan di 2 jalur itu, kembali kepada kami sahabatnya yang terus akan
mengusili-nya soal Armand tapi juga tetap menyeruduk dibalik ketiak Armand,
cowok pertama yang mengena dihatinya.
Mungkin karena ini adalah cinta pertama buat dia. Tiga bulan
sejak jadian sama Armand Imel sudah
banyak merubah gayanya. Paling pertama adalah
pakaian. Imel yang biasanya berpakaian sederhana, seputaran kaos dan
jeans tahun jadulan atau kulot dan kemeja. Sekarang berganti baju strecht, tank top, baby doll… pokoknya
model sekarang. Bahkan Imel udah mau pake rok mini. Pakaian yang selalu bikin
tangannya gatel untuk mencubit pahaku setiap kali aku pakai.
Dan pola ini sudah berjalan selama 3 bulan ini.
Berubah, berdebat, bersekutu lagi, berdebat lagi, berubah lagi… yups, selalu
begini. Hanya lokasinya yang pindah. Kalau bukan dikantin kampus seperti
sekarang, ya di kost-an aku, atau rumah Amanda bahkan rumah si tuan Rumah
sekalipun, Imel. Kami masih belum sepaham soal “Armand” titik.
“Trus besok apalagi?” aku
nyambung usil.
“Iya lho Imel, please dong jangan kalap gitu.
Oke lah gue gak terlalu suka liat loe dandan, walau jujur gue akui loe lebih
cantik. Tapi loe engga perlu dong nurutin semua peraturannya Mas-mu itu,” Amanda berusaha bersikap
bijak.
Hapal karakternya aku tau Amanda berjuang untuk
mengunakan intonasi berbahasa yang lebih bersahabat. Suasana kantin yang tidak
terlalu ramai membuat kami agak leluasa untuk berdebat.
“Dia gak maksa aku kok” Imel membela diri, atau
Armand kah?
“Nah kan lebih parah lagi, ngapain loe ber-metamorfosis
gitu,” aku sedikit sewot juga. Belum bisa aku memastikan arah ‘sewot’ ku ini.
Setelah agak ku perhatikan rambut Imel berubah
warna seperti rambut ku. Kami sama-sama terdiam. Sesekali wangi mie goreng buatan
ibu kantin yang menggugah selera merayapi ruangan kantin.
“Imel gue tau lo jatuh cinta. So go a head sayang. Cinta milik semua
orang, gue juga cinta beneran sama Leo. Gue sayang sama Leo. Tapi banyak hal
yang harus gue pertimbangkan dan gue mau dia juga pertimbangkan lagi. Iya gue
sayang dia dan dia sayang gue. So inilah
gue, itulah dia. Terima dong apa adanya, engga usah suruh berubah lah, ganti
gaya lah, ganti apalah…. So what next?”
“Lama-lama dia suruh elo tinggalin kita,”
Amanda masih berusaha tenang.
“Engga mungkin, Armand gak kayak gitu kok Man”.
“Yach… melihat banyaknya perubahan yang elo
bikin demi Armand, mana kita tau. Dan kalau sampe itu terjadi, suer gue akan hajar pacar loe itu!!”.
Imel terdiam sembari memaksakan diri untuk
menikmati brunch-nya diantara celoteh
sahabat-sahabatnya. Dia seperti yang berfikir keras untuk kemudian menimbang. Tapi
aku tau, aku sangat-sangat mengerti apa yang dirasakan Imel.
Sejujurnya aku dan Imel berdiri diperahu yang
sama, betapa perasaan itu menyiksa. Betapa cinta yang yang membutakan itu
membuat hati tersesat bahkan menjadi bodoh. Betapa kebodohan itu sesungguhnya
sudah menunjukan jalan untuk memilih apakah ingin keluar atau menikmatinya
saja. Tapi kami, aku juga… adalah bagian dari orang bodoh yang tetap memilih
untuk menikmati pembodohan itu. Sampai waktu tertentu… hmmm, semoga.
“Tau loe, biasa aja dong. Dari dulu kita suruh
dandan loe susah banget. Masak mendadak dalam tempo tiga bulan Armand bias
bikin loe berubah” aku sadar kalau kata-kataku terdengar munafik. Bahkan lebih jahat
lagi kalau apa yang sesungguhnya ada didalam hatiku terpampang saat ini.
“Okelah, loe sekarang suka tampil cantik, sexy
en segalanya lah buat si…,“
bahkan untuk menyebut nama Armand saja Amanda
tidak mau.
“Loe ngerasa gak sih, loe udah bukan diri loe
lagi. Loe udah makin maksain. Dan itu yang kita gak suka Imel. Loe berubah buat
semua gombalnya….”
“Satu lagi Man, yang paling penting” sambungku
gesit.
“Yah… loe tuh cuma dibohongin Armand Imel, Percaya
deh sama kita-kita” Amanda sangat berusahan membuat suaranya selembut mungkin.
Aku ikutan merasa terjepit, aku tau perasaan
melindungi Amanda seperti aku juga tahu
perasaan Imel. Kami teramat saling menyanyangi, 10 tahun persahabatan ini
bukanlah tanpa gejolak. Tapi aku secara pribadi juga mengakui kalau masalah
kita saat ini lumayan pelik.
Imelda yang setengah memaksakan diri sekarang
berubah menjadi Imel yang baru, perempuan yang sesuai dengan keinginan pria
yang baru pertama kali sepanjang hdup Imel sukai, dan kami semua sulit memaklumi
hal itu.
Sejak semula Imel jadian sama Armand aku adalah
orang yang paling menentang. Bukan apa, aku tau kalau selama ini cowok brengsek
itu juga pernah menggodaku. Entah dari mana dia bisa mendapatkan nomor HP ku,
lalu hampir setiap hari rayuan gombalnya yang maut meluncur baik memlaui voice mail ataupun sms. Dan aku membenci
pria pembohong itu, sangat jijik… waktu itu.
Sedangkan Amanda, mulanya tidaklah terlalu
tegang sampai Armand mencegatnya di tempat parkir, tepat diatas kap sedan
Amanda, dan merayunya. Aku secara Pribadi tidak yakin kalau waktu itu Armand
memang niat ‘menggoda’ Amanda secara attraction
atau sekedar mengetes seberapa perempuanya sosok tomboy Amanda.
Yang jelas kemudian Amanda murka, dia menyesali
hari itu pernah ada dalam hidupnya.
“Pokonya gue najis liat tampang bajingan itu,
masak gue di rayu,” makinya waktu itu dengan berapi-api.
“Tau engga loe… dia sok senyum manis sama gue,
terus… ih amit-amit deh ngingetnya aja gue jijik. Dia mau pegang tangan gue Imel.
Laki-laki sialan tuh!” dengan gaya
emosinya yang biasa Amanda berputar ditempatnya.
Seperti biasa pula setiap kal mendengar Armand
dicap bajingan Imel pasti marah dan memilih untuk mengakhiri perdebatan kami.
Lalu semuanya ‘tetep’ harus happy ending.
Kami terlalu saling menyanyangi untuk terus mempertahankan pendapat. Biasanya
tanpa komando jika—ada salah satu pihak yang mulai terlihat gusar— perdebatan
kami akan terhenti. Tapi jika nanti ketemu lagi, kami tetap membahas hal yang
sama. Huh,,,
* * *
“Hallo!” sapaku dengan gamang tapi memasang
senyuman manis.
“Gue tau lo pasti dating. Tanks for trush me”.
Aku tidak sanggup berkata, kuletakan tubuhku
tepat disisi cowok itu, tak dapat kupungkiri getaran nakal itu kembali menyerangku
pelan tapi pasti seketika dia menyambar pipiku.
“2 soft drink.. engga pake lama,” setengah
menggoda cowok itu melambai pada waitress
yang berpakaian sexy serba merah.
“Penyakit loe ya!’ semburku, entah karena rasa
risih atau cemburu.
“Please dong
Fan. Just kidding” cowok itu
meremas bahuku dengan lembut. Sebuah kebodohan yang kunikmati lagi dalam hati.
* * *
“Dari mana loe kemarin malam?” Amanda menyulut
rokok mild-nya.
Perlahan tapi pasti dia mengisapnya
dalam-dalam. Amanda memang perokok, walau tak terlalu sering tapi hal ini tidak
pernah ada masalah dengan Leo-nya.
“Jangan-jangan punya HTS-an,” goda Leo, yang
juga menyulut rokoknya. Mengambil rokok Amanda sebagai penyala api daripada
korek api. Aku yakin Leo hanya mengucapkannya dengan sembarangan, tapi dosa
terselubungku sudah memaksaku untuk terkesiap dan segera pasang pembelaan baru.
“Rese loe,” balasku sekenanya.
Amanda melototin Leo tajam, yang dimaksud hanya
tersenyum malu.
“Kamu jangan sembarangan deh Yang, gak ada kali
rahasia Fani yang aku gak tau,” kerongkonganku tambah tercekat. Amanda
membelaku dengan senyumannya.
“Ya khan Fan?”
jelas bahwa wajah Amanda tidak meminta aku menjawab karena dia sangat
percaya kepadaku. Karena memang kami selalu saling terbuka.
“Tau nih Leo. bikin berita aja loh,” umpatku sok tenang. Andai mereka tau betapa
bergemuruhnya dadaku saat ini.
Kami tertawa bersama, aku dan Leo sudah seperti
kakak. Leo bukan saja menjadi pacar Amanda tapi dia juga menjadi saudara bagi
kami bertiga. Dia adalah bagian dari kisah persahabatan kami. Tapi aturan kami
jelas, laki-laki tidak perlu bicara, mereka hanya cukup tau masalah perempuan.
“Hai. Sorry telat,” senyum Imel sumringah
bahagia sejak dimuka pintu masuk. Dengan penuh percaya diri dia menggandeng
tangan Armand memasuki halaman rumah Amanda. Seperti biasa kebiasaan persahabatan kami, bahwa kami akan
selalu menghargai pasangan kawan sekalipun disisi lain kami tidak suka.
“Hai apa kabar loe bro..?’ Armand menjabat
ramah tangan Leo
“Baik, lama gak kelihatan bro?” balas Leo tidak
kalah ramah
Entah apa yang selanjutnya mereka bicarakan.
Telingaku seperti tuli mendadak, padahal jarak mereka kurang dari 2 meter
dibangku seberang. Hanya yang pasti aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan
degup jantungku yang jadi tidak karu-karuan. Dengan tanpa rasa berdosa sama
sekali Armand menjabat ramah tanganku.
“Hai, lama gak kelihatan non?” sapanya
palsu, sepalsu air mukaku yang berusaha tenang. Lalu kemarin, apa kamu
janjian sama setan, rutuk-ku dalam hati.
“Biasa deh, eh kalian dari mana?” entah apa ada
yang menyadarikah kalau nada suaraku penuh getar karena pita suaraku yang
terikat oleh urat syaraf yang tegang.
Imel tidak mampu menutupi raut wajahnya yang
bahagia. Sembari bergelayut manja dibahu kokoh milik Armand, tidak lama
kemudian dia mengeluarkan bungkusan makanan.
“Nih tadi kita abis makan, gak lupa sama
pesenan Manda,” ujarnya lembut.
“Wah asik nih. Sering-sering yah” Leo cepat
menyambar bungkusan mie goreng tersebut. Amanda menyikut dengan reflek.
“Tenang aja Man, makanan itu engga gue taburi pellet kok. Loe bisa
makan dan tetep gak akan suka sama gue,” dengan gayanya yang cool—seperti biasanya— Arman melempar
senyumannya buat Amanda. Kedua lelaki itu terkekeh, dan aku tidak paham
dibagian mananya yang lucu.
Amanda terbeliak. Aku tersentak dan segera
mengambil satu bungkus makanan itu. Takut larut dalam sorot mata keki Amanda
atau demi memecah kekecewaan yang nyaris mampir diwajah imel. “Let’s have an eat!” seruku cepat.
Itulah Armand, aku tau ke-asalan dan
sembrononya teramat sangat. Mungkin itukah benih-benih yang bisa tiba-tiba
memikatku? Dengan tidak kalah cueknya Amanda bangun dari bangkunya.
“Gue mau kekamar dulu, cari buku yang kemarin
loe mau pinjem Fan”.
“Amanda kamu gak makan dulu aja,” rayu Leo.
Amanda menggeleng lalu masuk kamar.
* * *
Sepulang kuliah, aku langsung menghampiri
parkiran. Amanda dan Leo sudah menunggu disana.
“Gue gak bisa ikut kalian dulu yach, gue udah
keburu janjian sama pembimbing gue minggu ini. Gimana entarnya gue kabarin deh.
Kali aja bu dosen-nya malah yang gak bisa.”
“Lagian ada-ada aja sih loe, minta bimbingan
musim liburan?” Leo mengacak-acak kepalaku sambil bergaya mengomeli. Walaupun
anak band dan bergaya gothic Leo orangnya sangat perhatian dan
lembut.
“Hiyyy, bukan gue kali yang atur om..”balasku
manja.
“Obsesi dia yang, mau jadi caume laude”, goda Amanda.
Sering aku merasa menjadi seperti adik
dihadapan Amanda. Walaupun temper dan cenderung ribet ternyata justru itulah
yang membuatnya jadi seperti ‘pelindung’ bagi aku. Kusampaikan semua
alasan-alasan yang sudah aku atur dan skema-kan dengan baik sejak minggu lalu. And Thank God, kali ini Amanda sedang
tidak ribet.
“Ya udah hati-hati yach... bye bye,” aku
mencium pipi kedua sahabatku itu dan melangkah pergi.
Belum lagi mobil Amanda begitu jauh, terlihat imel datang setengah berlari.
“Kenapa loe Imel?”
“Yah udah perg dech,” Imel langsung menjajari
langkahku.
“Aku mau liburan ke Bandung aja dech”
“Kenapa?”
“Habis Armand mau naik gunung, daripada aku
bete sendirin dirumah”
Aku diam seribu bahasa.
“So,
gimana loe mau ikut gue aja sekarang ke kost-an,” tawarku
“Engga deh… gue mau ke rumah papa aja deh.
Mau ganti suasana dulu ah seminggu,”
jawabnya cepat.
Orangtua Imel broken home makanya kalau ada liburan lumayan panjang begini dia biasa
memilih untuk berganti suasana dengan kerumah papa-nya jika tidak ada pilihan
berlibur lainya. Makanya Imel sangat menghargai sebuah hubungan. Sekalipun
hungan itu dilandasi kepalsuan. Dan Imel sangat bersandar pada aku dan Amanda.
Kesatuan persahabatan kami ini seperti obat baginya diantara perceraian orang
tuanya.
Amanda prinsipil tapi solidaritasnya sangat
tinggi. Sedangkan aku, aku biasa gegabah dalam segala hal, makanya akulah yang
sebenarnya paling tertopang dalam persahabatan ini.
Tapi saat ini aku sama sekali tidak minat untuk
hitung-hitungan soal sahabat atau masalah mengenainya. Aku masih pusing
memikirkan cara mengatur waktu dengan Armand agar segala sesuatunya terlihat biasa.
Bukan seperti diatur, berharap orang lain ‘tidak’ salah paham.
* * *
Sebenarnya aku tidak ada niat untuk minum es
kelapa bu Entin yang terkenal enak di kantin sebelah barat, tapi iseng untuk
menunggu kelas Pak Ricki yang masih 2
jam lagi aku kesana bersama Dita yang kebetulan mengajak.
“Bete tau, nunggu di perpus… ke mall tanggung,” celotehnya.
“Kebetulan deh daripada gue gak ada temennya,”
balasku
“Amanda ama Imel kemana.”
“Amanda udah balik ke Bandung dari kemaren. Imel palingan ke rumah Bokapnya.”
Mendadak langkahku berat, Dita sudah beberapa meter
didepanku tapi aku masih terdiam di pintu kantin.
“Fan gue disisni!” Dita setengah berteriak.
Cepat-cepat cowok jelek dipojok sebelah kiri
dari pintu masuk melepas dekapannya. Armand
mesra memeluk cewek—yang pasti bukan Imel—
lalu pura-pura dengan santainya ikutan melambai padaku.
“Si Monyong itu, pacar Imel yah?” Dita mengrundel
pelan.
“Hiyy, nyebelin…,” lanjutnya masih kesal.
“Kenapa?” tanyaku pura-pura bego.
Padahal nyaris 99% aku sudah bisa menduga apa
yang akan dikatakan oleh Dita. Ini pasti soal kelakuan Armand yang playboy kelas kambing.
“Kasian tau Imel kan anak baik-bak, kok bisa-bisanya
pacaran sama playboy cap dodol itu,”
Dita masih berapi-api.
Aku pura-pura sibuk dengan buku ctatan yang ada
dihadapanku. Masih kudengar umpatan- umpatan Dita akan Armand. Aku terdiam
seribu bahasa, hatiku terasa teriris entah untuk sosok Armand, Imel atau justru
ibaku pada kebodohanku.
* * *
“Stefany… ada tamu,” kudengar suara teman sekostku
mengetuk perlahan pintu kamarku. Dengan
malas aku menarik bantal menekan lebih
dalam kekepalaku. Jam disisi ranjangku masih bagus aku yakin itu, jam 23.15.
“Manusia sinting,” batinku.
“Jangan lama-lama ya, takut entar ada yang
ngadu sama ibu kost,” Metha, keponakan ibu kost. Selain pemegang kunci dia juga
sangat baik pada semua orang kost.Penuh toleransi dan pengertian. Mungkin dialah satu-satunya saksi mata yang
melihat dengan mata-kepala sendiri bagaimana Armand menjemputku diam-diam belakangan ini. Orang yang
sangat menyenangkan, sama sekali tidak mencoba untuk tau urusan orang lain.
Kamarku memang terpisah dari kamar yang lain.
Aku memilih paviliun yang akan menjorok kebelakang dan tersendiri. Sekilas
nampak seperti rumah tinggal. Tempat favorit kami berkumpul.
Aku masih malas-malasan melangkah, tiba-tiba
sosok besar berdiri tegap dihadapanku. Jantungku nyaris copot, seketika hilang
semua kantukku.
“ARMAND,” aku hampir terpekik seraya
membeliakan mata.
“Sttt, sory-sory,” dia memasang jarinya diatas
bibir sebagai tanda agar aku tidak terlalu berisik. Kemudian kami duduk diteras
depan.
Rasanya mau kulempar asbak ke wajah bajingan satu itu mengingat kejadian
siang kemarin. Cewek itu bernama Raya, anak tingkat satu yang super lincah dan
centil. Nyambi model—katanya— makanya gayanya mirip artis..
“Engga salah rumah,” semprotku sinis.
Entah untuk apa, entah untuk siapa. Sepenuh
hati aku sadar Armand tidak punya kewajiban apa-apa terhadap aku, Armand juga
tidak punya kepentingan untuk menjelaskan apa-apa padaku. Tapi hatiku galau,
kepalaku sakit mengingat kelakuannya. Hatiku tersayat cemburu, perasaanku
sembrawut.
Armand menyulut rokonya lalu tersenyum iblis, “apa
sih maksud kamu?”.
“Engga usah pura-pura bego deh, emang kamu
nyebelin banget,” aku mulai emosi. Kutampar bahu kirinya dengan tangan kananku.
Aww, tangaku malah yang terasa panas. Dia malah menatapku lamat-lamat.
“Kamu
kenapa sih Fan, aku tuh datang kesini karna kangen banget sama kamu,”
dia meraih pergelangan tanganku.
Oh Tuhan, sorot mata itu, aku tau itu palsu aku
tau… tapi aku masih memaksakan diri untuk membangun harga diri bahwa ada
‘secuil’ kejujuran dimata Armand. Ahh,
Hatiku terus saja bergulat, seharusnya ini
bukan aku. Okelah may be I’m a lover tapi engga pernah setolol ini. Aku diam dan
berusaha percaya padahal aku tau semua kebohongannya. Aku tau, karna aku ada
didalam kebohongan ini. Aku bukan korban kebohongan Armand semata tapi aku juga
pelaku kebohongan itu. Ahrggg….
“Sumpah Fan … aku gak bisa tidur. Terus
kebayang wajah kamu. Aku perlu ngejelasin sesuatu sama kamu. Aku cuma mau ngomong kalo kemarin siang itu kamu gak liat apa-apa. Raya itu cuma...”
“Selingan kamu, kayak aku atau Imel” ketusku pendek.
“Fan, aku engga sejahat itu kali,” bela diri
Armand.
“Oh ya… berani kamu bilang begitu?” aku menekan
suaraku sekuat mungkin, berharap Armand menyadari emosi yang terbungkus di sepi
malam ini.
“Aku malu tau gak Ar... aku malu sama diriku sendiri. Setelah aku
menekan Imel karena semua kebohongan kamu…,” aku mengatur kalimat yang tepat.
“Kamu
ternyata gak berubah” ketusku lagi.
“Stefany denger aku…,” tau-tau Armand sudah
berdiri didepanku.
Aku menunduk dalam-dalam, kuhindari bertatapan
langsung dengan lelaki yang selalu membuat otak dan perasaanku mati seketika.
“Ini
engga adil, ini engga bener, ini engga
adil buat semuanya,” bisikku.
Tiba-tiba seperti ada Amanda dan Imel yang
sedang menyaksikan kami berdua. Aku seperti dikejar gumpalan pertanyaan yang menggunung.
“Aku udah salah besar. Aku udah membohongi
semua orang. Ini engga adil Ar, tidak buat aku apalagi Imel. Dia sayang banget
sama kamu” aku masih menunduk.
“Sttt… Fani Fani, denger aku,” wajah Arman
sudah sejajar dengan aku. Dia berdiri dengan lututnya untuk mengangkat wajahku
yang tertunduk.
“Bagaimana dengan perasaan kamu?” desisinya
lirih.
“Armand, kamu...,” aku takut menatap lekat bola
matanya.
“Semua orang juga tau kamu deket sama Jimy, walau statusnya
gak jelas. Tapi kalau kamu memang ingin aku menjauh, aku mau denger itu dari
bibir kamu”
“Armand, denger dulu,” aku mendadak panic demi
nama Jimy.
Ternyata aku lebih takut jika dia mengira masih
ada sesuatu antara aku dan Jimy. Hubungan kami sedang dalam masa krisis 6 bulan
ini. Kesibukanya didunia kerja yang baru belum
bisa kutoleransi.
“What Fan?” kejarnya lagi, aku berusaha
menolak sorot matanya.
Aku harus sudahi semua ini. Please Stefany
bangun, bangun. Ingat Imel, ingat Raya, ingat Amanda… semua cuma sandiwara.
Bangun Fan, bilang kamu masih jalan sama Jimy dan berhenti mengikutimu…
bantinku berperang dengan sengit.
Armand melemparkan puntung rokonya, sorot
matanya nanar menatapku sejurus, kepalanya terangguk seperti menunggu
jawabanku.
Huh, tolol, bodoh… aku engga boleh diam. Aku
harus selesaikan semua ini. Aku harus berhenti dari lingkaran setan ini. Ini
sangat engga adil buat Imel. Kasihan Imel,
aku sudah keterlaluan. HENTIKAN STEFANY… jerit batinku.
Kenyataanya. Aku ternyata cuma terdiam, tidak sanggup membalas tatapan liar Armand.
Sekujur tubuhku merinding. Jantumgku pindah ke lutut. Terus memaksa diri untuk bicara.
“Stefany, aku mau jawaban dari kamu,” Armand
mengangkat daguku.
Aku diam, sejuta hening semakin mengerogoti
kami. Mataku terpaksa bertemu matanya.
“Kamu selalu disini..” Armand menyentuh dadanya,
membawa tanganku dibawah tangannya. Mataku terpejam, lagi-lagi wajah Imel dan Amanda menari-nari dihadapanku.
“Bilang, kamu gak mau aku datang lagi,,”
tantangnya.
“Ar, sudahlah…”
“Sekali aja..”
“Armand Please…”
Aku berharap waktu berhenti detik ini, tanpa
harus kudengar lagi kata-kata Armand yang melambungkanku ke awan untuk sesaat tapi
kemudian membawaku untuk terhempas
kedasar. Untuk tidak kulalui lagi
hari-hari, sehingga besok atau besok lagi agar tidak kuhadapi wajah-wajah manis dua manusia yang
akan terus membuatku merasa berdosa.
Sepi, bau rumput dan malam menyatu menghadirkan
suatu aroma yang khas. Suara jangkrik makin menggema diatara keheningan ini. Tidak ada lagi yang mau kuucapkan. Tapi kenapa
aku hanya diam ketika Armand mengangkat wajahku mendekatinya dan kemudian keningku terasa hangat oleh sentuhan bibirnya.
Sekujur tubuhku makin terasa panas dan degup
jantungku berdetak hebat. Hatiku merasa tidak mau melanjutkan ini, tapi tubuhku
lagi-lagi tak mampu menolak. Dan kali ini tidak ada lagi bisikan rasa bersalah dari
hatiku. Lalu kubiarkan Armand menarik tanganku melingkari pingangnya. Aku bisa merasakan bau tubuh Armand, bau asap rokok dari mulut
Armand jelas terhirup olehku.
Kubiarkan malam pekat yang semakin dingin itu
mengikat aku dalam kehangat pelukan pengkhianatan. Huff…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar