Sepeda
kumbang butut itu mendarat darurat gara-gara tersandung batu bata besar yang
entah bagaimana ceritanya bisa ada ditempat yang engga tepat. Taman kebanggan
masyarakat komplek sekitar sini untung sedang sepi, karena jika tidak si pengendara
sepeda tadi pasti sudah jadi bahan tertawaan para baby sitter dan PRT yang biasa mengajak anak-anak majikanya makan
sore hari disini. Atau bisa juga para ABG-ABG tanggung yang biasanya kurang
modal dan memilih berpacaran di taman komplek ini.
Halaah,
terlalu GR si pengendara sepeda ini. Khayalanya kelewat lebay, berasa jadi artis
yang bakal jadi objek perhatian. Padahal walaupun posisi nyusruk-nya tadi sama sekali engga keren, sudah bisa dipastikan tidak
akan ada orang yang cukup kurang kerjaan untuk memperhatikannya.
Tapi
bagaimana bisa ya… komplek yang biasanya ramai dan lumayan sumpek ini mendadak
sore ini begitu sepi. Tidak ada terlihat satu mahluk pun sebangsa manusia yang
menikmati kebisuan taman ini. Taman yang cuma punya jungkit-jungkit kropos dan
prosotan batu yang banyak bagiannya sudak coak. Selebihnya hanyalah
bangku-bangku taman yang ala kadarnya. Ada yang terbuat dari pohon yang
tumbang, tempat sampah yang sudah membatu dan ember-ember cat sisa sampah
masyarakat komplek yang mungkin sembarangan dilempar.
“Hihihihi…,”ada suara terkikik centil
“Hah!” si pemilik sepeda kembali
meyakinkan dirinya bahwa memang TIDAK ADA bangsa manusia disekitarnya. Tapi
suara itu begitu dekat.
Dengan
seksama ditelitinya sepeda tua itu. Terdengar bodoh tapi dia memang yakin kalau
suara centil itu berasal dari radio sepeda. Ngg hmm, tapi seingatnya dia tidak
memasang radio disepeda.
“Siapa tuh?” katanya hati-hati sambil
mendekati sepeda penuh karat tersebut.
“APAAN TUH?” suara keras dan lebih
mengagetkan keluar lagi.
Kali
ini si pemilik yakin 100% kalau memang sepeda itu yang bersuara.
“KUIS DANGDUT!!” seru si pemilik latah,
lalu membekap mulutnya.
Jantungnya
tambah sports sehat, antara kaget,
takut, laper, bego dan ngayalin cewek kece.
“Hahahaha...,” kali ini suaranya ngakak.
Si
pemilik mulai bergidik. Tadi dia ngikik, sekarang ngakak… jangan-jangan nanti sepeda ini bisa ngukuk
juga. Waduh… nakutin juga, hiyy. Lehernya terasa geli.
“Eh sepeda… itu elo yang ngomong?”
“Eh orang… ini gue, masak loe gak
percaya!”
Brugg. Si pemilik sepeda itu terjatuh pingsan.
Rambutnya yang gondrong berantakan bikin penampilanya makin rusak.
Tidak
lama kemudian, separuh nyawanya mulai
terkumpul.
“Ya ampun, gue mimpi apaan nih,”
katanya sendiri sambil mengucek mata.
Dia
lalu bangun dan menghampiri sepedanya. Dengan genitnya si sepeda malah menjauh
lalu ngeles dan main petak umpat. Orang bego juga bisa lihat sepeda itu dibalik
pohon akasia besar dekat bangku taman yang terbuat dari ember cat kaleng ukuran
besar.
“Wow, bukan mimpi!!” teriaknya.
Hari
makin sore membuat suasana semakin menakutkan dan keganjenan si sepeda makin
menjadi. Analisa si pemilik, pasti sepeda ini berjenis perempuan atau betina-an
lah soalnya kecentilanya engga jelas banget. Cuma mau minta perhatian bos-nya
terus… ngg, ataukah sepeda ini tau kalau
bos-nya ganteng. Doile…Si pemilik melipat tangan didada sambil senyum tengil.
Si
bos berjenis manusia itu akhinya tiduran di salah satu bangku taman yang masih
layak diletakan tubuh. Dia benar-benar kecapean mengejar sepeda itu. Ulah
sepeda itu sudah sangat menguras tenaganya, dari acara naik pohon, lompat
pager, main prosotan sampe nangkring dipunggung si bos-nya.
“Gantian, khan biasanya elo yang
bikin begini sama gue,” protes si sepeda.
“HARDEY…!!!”
Sebuah
teriakan baru lagi, si pemilik sepeda yang ternyata bernama Hardey itu
buru-buru bangun. Si suara pendatang yang tidak kalah cempreng semakin mendekat
dan langsung menarik kuping Hardey dengan kejam.
“Sakit gila, gue capek banget tau,”
Hardey menepis tangan cewek itu dengan tidak kalah galak. Meringis demi panas
yang hampir 80° dikupingnya.
“Lagian kamu tuh ya keterlaluan, masak
nge-pos-in surat aja sampe setengah hari. Lili yang diomelin mama, jadi suruh
nyari kamu dech, emangnya Lili engga punya kerjaan yang lebih penting apa.
Belum lagi mas Unang tuh ngoceh-ngoceh sama pak RT, katanya kamu minjem sepeda
dia engga bilang-bilang. Kalau dalam tempo 1x24 jam sepedanya engga balik dia
mau lapoin kamu ke pak lurah. Mbak jamu juga jadi kacau, masak aku pesennya
kunyit asam dia bawanya cekokan.Mba Unik suruh masak apa malah belanja apa,
sebel sebel sebel. Seharian ini jadi banyak kecauan gara-gara kamu,” Lili melotot
marah.
‘Hah, apa hubunganya sama gue tuh
semua dongeng loe,” cibir Hardey kesal.
“Ya iya lah… orang..”
“Hei jangan senderan disitu!!” secepat kilat Hardey menarik adiknya yang
bermaksud sandaran disepeda centil tadi. Kesal kalimatnya terpotong Lili
mendelik lagi.
“Apaan siy, norak dech…”
“Engga, itu… ngg, anu… hmm,” kalimat
Hardey tidak selesai.
Otaknya
yang tidak terlalu terlatih itu mulai bekerja, siapa juga bakal percaya sama
cerita anehnya beberapa saat yang lalu. Tapi, ahh... Hardey malah bengong.
“Hardey ayo pulang,” seru Lili manja.
Tangan
Lili cepat meraih sepeda butut jelek yang bersandar dipohon kelapa pendek.
“Kelamaan nih,” Lili menepak tangan
Hardey yang masih terbengong-bengong.
Tidak
sampai beberapa detik kemudian pantat Lili sudah duduk disadel belakang sepeda.
“Hah!!” terperanjat dengan angka
dijam tangan Lili yang arahkan kewajahnya, juga terkesiap dengan kenormalan si sepeda
itu. Ternyata sudah pukul 22.15. Hardey merinding disko.
] ]
]
“Apa?”
“Gila!!”
‘Norak…”
Itulah
jawaban atau tepatnya komentar mama, Lili dan papa waktu Hardey cerita kalau
dia baru saja membeli sepeda butut mas Unang.
“Dey, papa emang belum mampu
membelikan kamu mobil tapi apa pelarian kamu engga kelewat ekstreme nih,"
komentar si papa. Entah ini hinaan atau pujian.
“Kamu sejak kapan mau bergerak
dengan sepeda, wong motor aja engga ke urus. Lagi juga khan ada sepeda Lili,
yang jauh lebih bagus dan pantas kamu pakai buat jalan-jalan,” mama menatap
Hardey kemudian ke Lili. si cewek galak itu malah melotot sinis ke arah sang
kakak.
‘What,
minjem… please dech ma, udah ilang
kalimat itu dikamus Lili. Walkman Lili aja sampe sekarang sudah hilang kabar
deritanya sama dia,” Lili mencibir judes.
Hardey
diam, engga tau bagaimana harus bercerita. Dia yakin jika dia menceritakan hal yang
kemarin-kemarin maka dia akan jadi bahan olok-olok keluarganya. Apalagi si
nenek lampir kecil itu−Lili−. Perempuan kurus berambut kuning jagung itu pasti
akan mengira dia gila.
] ] ]
Terjadi
sedikit kesalahan pada saat transaksi sepeda dengan Unang pagi tadi. Entah
mimik apa yang ditunjukan Hardey yang jelas Unang seperti mengerti kalau hari
itu Hardey telah tergila-gila dengan sepeda bututnya.
Jika
dilihat secara fisik sepeda jelek itu dihargai 20 ribu oleh tukang abu gosok pun
sudah sangat bersyukur. Tapi—seperti tadi yang sudah terceritakan diatas— Unang
bisa-bisanya pasang harga 300 ribu untuk si kumbang butut itu.
“Mas, loe yang bener aja dong,”
keluh Hardey
“300 ribu atau tidak usah sama
sekali,” balas Unang sombong.
“Taela mas, 100 rebu aja yah,” rayu
Hardey sok manja.
“300, paling mati 275 ribu.”
“Loe boleh nemuin mba Unik kapan aja
deh,” tawar Hardey.
“Atau gue minta ijinin papa biar loe
bisa ngapel ampe malem.”
“265 ribu boleh. Tapi sekarang,”
masih dengan gaya sombongnya Unang menadahkan telapak tangan kirinya kedepan
Hardey.
Berasa
kalah langkah Hardey mendelik, membuka
dompet coklatnya dengan malas.
Yang
paling bikin Hardey kesel nyaris semaput adalah mba Unik yang nyata-nyata
adalah orang satu rumahnya, malah cuma jadi penonton bukan bantuin dia
bernegosiasi. Sesekali dia malah main kedip-kedipan mata dan cengngengesan sama Unang dengan genit. Dan mata kepala
Hardey menyaksikan sendiri bagaimana pasangan assistant rumah tangga itu saling ber-high five sambil beradu pantat waktu Hardey menyerahkan duit yang 265
ribu. Grrr…
Langkah
selanjutnya adalah menurunkan harga dirinya sedikit lagi dan bersandiwara
sepanjang minggu. Merayu Lili, si bawel bin cerewet yang bikin kuping panas,
selain oleh ocehanya yang sering kelewat panjang juga kebiasaanya yang tepat
meniru si mama, menjewer kuping. Jatah mingguan Hardey sudah berpindah -tangan
dalam negosiasi alot selama 55 menit sore tadi.
] ]
]
“Bi, gue mau cuti seminggu ini,” lapor
Hardey dengan bersemangat pada Abi teman dekatnya dikampus.
“Jiaaa cuti, beranak loe,” ledek Abi
asal.
Dengan
wajah penuh keseriusan dan bersemangat Hardey menceritakan temuannya seminggu
yang lalu. Sepeda kumbang yang bisa bicara. Ini temuan beneran bukan cerita
dongeng boneka Doraemon. Setiap detail diceritakan Hardey dengan sangat jelas.
Sempat gondok setengah mati dengan air
muka Abi yang jelas menanggapi dengan tatapan aneh. Tapi Hardey tetap tidak mau menyerah.
“Okey kalu emang elo gak percaya
sama gue, loe buktikan aja sendiri.”
“Hem…” Abi masih ragu, sangat tidak
percaya.
“Kapan mau datang?”
“Kapan aja lah, loe siapin aja tuh
sepeda turunan Doraemon”
“Huh, siapa takut,” Hardey makin
kepancing kesel.
Keduanya
beradu pandang dengan keyakinan masing-masing. Saling beropositer.
“Oh ye, sepedanya cewek,” tambah
Hardey penuh keyakinan.
“Waw pasti seksi tuh,” Abi
memonyongkan bibirnya.
] ] ]
Abi
terbengong-bengong sambil mengaruk-garuk kepala, Hardey sudah tiba di posisi
kesal, marahnya siap meledak. Tapi tertahan gengsi. Sepeda kumbang itu sudah dipancing-pancing
selama 2 jam lebih tapi belum juga ada reaksi.
Mulai
dari pancingan makanan, yaitu gado-gado, sate padang, hamburger, pizza sampe
lalapan khas urang sunda. Juga segala jenis pakaian, mulai dari kebaya, daster,
baju pesta sampai bikini. Gila, gila, gila… umpat Hardey dalam hati. Aksi
mogoknya si sepeda benar-benar luar biasa.
Padahal
biasanya setiap pulang kuliah, benda inilah yang menjadi teman ngobrol Hardey di
kamar. Oh ya, Hardey memang memasukanya dikamar sejak transaksi itu terjadi.
Perjuangan juga sesungguhnya, selain mencari alasan yang tepat buat mama juga
mendengar ejekan nyinyir si kutu loncat, Lili.
“Serius Bi, ini bisa ngomong,”
Hardey membentuk V dengan jari telunjuk dan tengahnya.
“Oh man, lihat kalenderan Dey Dey…”
“Yeah asli man, sumpah banget coy. Sepeda ini bisa ngomong.”
“Ini udah abad 21 Brur, jangan lagi
ngarep hal-hal yang aneh.”
“Tapi Bi, gue…”
“Aah, udahlah Dey. Udah 2 jam gue
buang waktu natapin sepeda butut loe itu.”
“Sabar Bi, bentar lagiii aja,” harap
Hardey sangat.
‘Sorry lah Dey, gue mau ada janji
setengah jam lagi.”
Abi
merapihkan isi tasnya yang sedikit berhamburan diatas matras lantai Hardey.
“Oh ya, loe masih mau disalamin sama
Sasha gak?” goda Abi.
Hardey
cuma mesem datar. Biasanya dengar nama Sasha naluri kekutu locatanya yang rame
dan pecicilan akan muncul. Tapi kali ini dia Cuma menunduk pelan.
“Gue udah punya cewek,” kalimat yang
terdengar putus asa.
‘Hahaha… sarap loe man, Sasha mau lo bandingin sama besi
karat itu.”
“Yang penting cewek,” masih dengan
malas Hardey menjawab sembarangan.
“Makan tuh sepeda, hehehe..”
Hardey
mengepalkan tanganya dibalas dengan tabrakan kepalan tangan Abi, salam sebelum
Abi keluar dari kamar Hardey. Hardey tertunduk malu dan kesal.
Kamar
kosong. Masih dengan perasaan keki Hardey menghempaskan tubuhnya dengan kasar
keranjang. Matanya menatap kesal sepeda kumbang dekil berkarat yang terjajar
disudut kamarnya. Menambah sumpek skema kamar laki-laki nya yang memang tidak
jelas itu. Karena tidak semuanya berbau laki-laki. Pemasangan sprei dan gorden
kamarnya masih atas instruksi mama, dan indahnya lagi selera mama dan Lili
sama: kuning, ungu dan pink, belum lagi thema princes of tales-nya. Oh
Tuhan…
“Emang gue cewek elo?” tiba-tiba si
kumbang berkarat itu bersuara.
“Tauk ah gelap, loe bikin gue malu.”
“Jangan marah dong bos,” rayu si
kumbang dengan suara manja.
“Males gue sama elo.”
“Gue tau kenapa loe marah?”
“Halaah gak penting lagi.”
“Ya si bos gimana sih, kebayang gak
sih kalu ada orang lain tau selain si bos soal gue ini,”. Hardey kelihatan
masih ngambek, dia belum geming dari rebahannya.
“Loe bisa dikira penyihir atau malah
apalah….”
Hardey
mulai agak melunak, dia bangun dan duduk ngadepin si sepeda itu serius.
“Kenapa loe milih gue jadi tuan
loe?” tanya Hardey. Sepi sebentar.
“Ngg tau juga dech, cuma waktu liat
loe jatuh kesandung batu sore itu kayanya gimana gitchuu…,” hmm, persis seperti
yang dipikir Hardey. Sepeda ini emang lenjeh banget.
] ] ]
Begitulah
Hardey melalui hari-hari persahabatanya dengan sebuah sepeda kumbang butut yang
sekarang sudah agak berkurang karatnya. Dia sudah tidak lagi berusaha untuk memperkenalkan
si Cinta−begitu Hardey menamai si kumbang− kepada dunia nyata. Biarlah ‘suara’
itu hanya ada antara Hardey dan Cinta. Biarlah hanya Cinta yang mendengar semua
cerita-cerita keseharian yang penuh kebodohan milik Hardey. Cinta juga bukan malaikat
sebangsa dunia lain seperti Jinny atau Tuyul di sinetron yang mampu menyediakan
dan membantu apa yang menjadi kebutuhan Hardey. Mereka hanya terkoneksi dengan
pertemanan suara.
] ] ]
Hardey
yang lagi sibuk dengan tuts computer dicolek stang sepeda Cinta.
“Bentar dulu lagi sibuk.”
“Dey, ada yang penting mau gue
omongin sama elo”
“Iye denger ngomong aja…”
Dasar
sepeda genit, pokoknya setiap kali Hardey tidak cukup memperhatikan suaranya,
sepeda itu pasti bikin ulah. Sekarang dia loncat-loncat diatas tempat tidur.
Jelas aja pintu kamarnya digedor Lili.
“Woiii dah malem, jangan main bola
diatas tempat tidur,” omel Lili.
‘Iya-iya,” serunya bersamaan untuk
dua mahluk beda jenis dan macam itu.
“Wah parah loe Cin, lama-lama emak
sama adek gue bisa curiga nih.”
“Elo sih, diajak ngomong nyuekin aja,”
Cinta gak mau kalah.
“Bentaran doang napa, gue lagi lihat
tugas.”
Cinta
gak mau perduli, dia ngambek. Badannya dirapatkan pada tembok dengan posisi ban
nungging keatas. Kalau sudah begini, Hardey yang merasa lebih punya otak
mengalah, lalu duduk tenang sambil ngelus-ngelus sepeda itu sampai kembali
‘normal’.
“Apa Cinta?” ujar Hardey waktu si
Cinta mulai naro ban-nya dilantai lagi.
“Kita khan udah lama nih kenalan”
“Ho oh…”
“Ada rahasia kecil yang mau gue bagi
sama elo!”
“Hah, soal apaan tuh?”
“Inget gak gue pernah bilang ke elo
asal-usul gue.”
“Ehem”
“Sebenarnya ada 2 hal yang bisa loe
lakukan sama gue. Loe bisa bikin gue ngilang selamanya atau malah jadi ada
rupanya…”
“Ah serem loe ah,” Hardey yang agak
penakut ciut.
“Ih bos bego nih, bukan jadi setan
bos tapi jadi bentuk manusia”
“Ah serius loe Cin?”
“Iye, gimana?”
Alkisah
menurut Cinta, dia hidup dimasa jaman penjajahan. Mungkin dia sepantaran sama
si Pitung kalau masih hidup sampai saat ini. Terus, tersebutlah seorang meneer belanda yang kebetulan kurang
ganteng jadi sering banget ditolak cintanya sama cewek. Jangankan sama perempuan
Belanda, sama perempuan-perempuan kampung Indonesia aja dia selalu di tolak. Katanya
lagi nih, si meneer ini kolektor sepeda dan suka banget sama hal-hal klenik.
Hardey sih masih engga kebayang orang Belanda, bule, rambut pirang tapi
mulutnya penuh sirih sambil komat-kamit. Sama aja lihat Mariah Carey nanyiin
lagunya Iis Dahlia, hehehe.
“Kok ketawa Dey?” Cinta protes
dengan manja.
“Kagak, lagi inget kelakuan si Lili
siang tadi,” jawab hardey ngarang.
Terus
lagi, sebagai ABG tahun penjajahan si Cinta ini karena datangnya dari dusun
yang sangat udik dan terpencil dikira bakal ‘buta’ soal kegantengan. Makanya
oleh penasihat spiritual si meneer tadi, Cinta di persiapkan untuk menjadi
calon pengantinnya.
Disiapkan
juga pesta pernikahan yang meriah dengan mas kawin sebuah sepeda kumbang baru,
import dari Belanda, menurut kisah Cinta
sih begitu. Namun kemudian, Cinta sadar kalau calon pendamping hidupnya ini ternyata jauh dari sosok bule kemerah-merahan. Belanda yang jauh
dari kalimat ‘ganteng’, jelas Cinta
menolak dinikahkan.
Mulanya
Cinta mengira wajah si meneer sedikit mirip sama artis blasteran tahun 80-an,
Barry Prima. Ternyata eh ternyata jauh api dan arang, Cinta muntap menolak di
sandingkan. Karena kesal, malu dan dendam si meneer kemudian memerintahkan—orang
pintar— pengawalnya itu untuk mengutuk Cinta. Agar perempuan itu tidak bisa
lagi keluar rumah, agar dia tidak malu pada banyak orang. Maka dengan ilmunya,
embah dukun tersebut menangkap raga Cinta dan memindahkanya pada mas kawin tadi,
sepeda kumbang.
Demikianlah
selama puluhan tahun raga Cinta terkurung dalan bangkai sepeda tua ini. Semua
cerita ini menurut versi Cinta, dan Hardey tidak punya bukti untuk berargument.
“Yah namanya juga sihir Dey, pasti
ada penangkalnya dong.”
“Terus”
‘Masalahnya jawaban ada sama yang
menjadi Tuan gue Dey, loe mau gue ada apa hilang sama sekali. Engga boleh
diantaranya lho, hanya iya atau tidak. Gimana?”
“Jelas gue penasaran berat”
‘Jawabanya?”
“Gue pengen tau ABG tahun 40-an kaya
apa ya, berarti elo seharusnya sepantaran nenek gue ya. Hahaha…”
“Jawabanya?”
“Entar elo akan gue ajarin main computer dah, juga gue kenalin sama musik-musik jaman
sekarang. Walah banyak PR deh gue… eh, entar loe bantuin Mba Unik nyuci juga lagi
jangan-jangan. Hahaha”
“HARDEY!!!” suara mama dan Lili dari
kamar masing-masing tereak, tepat waktu Cinta menggedor-gedor plafon kamar
dengan kecang.
‘Iya sory, bola basketnya mental,”
Hardey beralasan, tidak kalah cepat.
Lalu
lompat mendekati Cinta sambil senyum-senyum getir, ”maaf-maaf, gue lupa. Gue
terlalu kaget denger elo bisa ada nantinya.”
“Jawabanya?”
“Iya gue mau elo ada, gue mau lihat
elo”
“Fuiiihhh…” Cinta ikutan bernafas lega. Entah
liang nafasnya sebelah mana.
Persyaratannya
lumayan perpaduan antara kampungan dan modern. Engga bisa dibilang gampang sih,
tapi engga sesulit jampi-jampi yang ada di sinetron itu kok. Jangan makan nasi putih selama 7 hari,
berpakaian dalam hitam, dilarang bergosip apalagi bicara kotor, hindari kontak
fisik dengan perempuan yang bukan muhrimnya dan bersarung selama dirumah.
Si
Cinta minta dibungkus kain putih sepanjang 5-meteran. Bagian tersulit adalah
membeli kain putih sepanjang 5 meter dan terus diberondong pertayaan, “siapa
yang meninggal?”.. hiyyy amit-amit. Bersarung dirumah juga punya tantangan
khusus. Mentulikan telinga dari ejekan “sakit bisul ya?” dari Lili. Si mama yang penasaran dan selalu megang kening
Hardey, selalu bicara kita bawa ke
dokter yah. Padahal jelas dibilang dalam persyaratan Cinta, Hardey jangan sampai
bicara sembarangan. Mengahadapi Lili dan tidak biacara asal-asalan?? pasti dia
manusia dari planet Mars. MUSTAHIL SEKALI.
7
hari yang sulit itu akhirnya berakhir. Setelah meminum air putih 7 gelasnya
yang terakhir, Hardey dan Cinta duduk berdekatan. Tapi kondisi Cinta—yang masih
sepeda—itu terbungkus kain putih dan Hardey masih bersarung.
Bla
bla bla, Hardey dan Cinta sama-sama merapal matra pendek yang Hardey tidak tahu
bahasa apa. Kata Cinta sih, itu bahasa Belanda yang artinya “sepeda jadilah
orang, sepeda hilanglah selamanya, hai orang selamat datang…”. Hardey nahan
cengiran susah payah, ini sebenarnya rapalan apa ucapan selamat datang receptionist di hotel yaks..
1
menit, 5 menit, 10 menit dan 15 menit… kemudian kain putih tadi berubah menjadi
awan putih yang bergumpal. Ruangan kamar Hardey berasap, dan asalnya dari
sepeda kumbang itu. Sesaat wangi-wangian jaman nenek moyang memenuhi kamar.
Lalu semua hilang bagai sihir, tidak ada bau tidak ada asap. Hardey hampir loncat
karena kaget, didepanya sekarang ada
perempuan berambut panjang dan berbungkus kain putih.
‘Ini gue, Cinta…,” seandainya Cinta
tidak cepat bersuara, Hardey pasti sudah ambil langkah 1000. Lupa dengan awal cerita
ini, hanya focus dengan kain putih dan rambur panjang yang lurus hitam.
Mengingatkannya pada tokoh Suzana dalam semua perannya. Hiyyy.
“Hai,,,,” sapa Hardey
“Hai bos,” Cinta cepat menggelung
ramburnya yang terurai.
Wajahnya
khas perempuan Indonesia jaman dulu. Versi tivi. Coklat kulitnya, hitam legam
ramburnya, celak matanya kenatara dan bibirnya merah kulit. Alami dan sedap
dipandang.
Keduanya
diam. Kecentilan Cinta jauh berkurang, apa sadar tubuhnya tidak memakai apa-apa
atau sadar kalau usianya memang sebenarnya bukan jam-nya untuk kecentilan. Ya,
dia memang terperangkap diusia 17 tahun selama 50 tahun. Besi rongsokan yang
setahun lalu Hardey beli seharga 275 ribu itu sekarang sudah bertranformasi.
Kekakuan
itu ternyata hanya berlangsung selama 10 menit, karena kemudian kegilaan dua
manusia muda itu kumat. Cinta yang katanya bernama asli Sarita−tapi Hardey
tetap menikmati memanggilnya
Cinta−kembali dengan adat gede ngambeknya. Belum lagi centil dan maksanya yang
bikin minta ampun-ampun. Hardey yang sembarangan menjawab dan suka nyuekin
orang membuat malam itu semakin tak terasa.
“Hah…,” mata hardey terbeliak kaget.
“Iye, dari dulu gue sih mau bilangin
juga tapi gimana ya.. ya githu dech.”
Hardey
terjengkakng kebelang, tidak lupa sarungnya buru-buru dibenarin. Cinta baru
saja menceritakan aib seorang Hardey.
“Jadi loe lihat selama ini kalau gue
ganti baju?”
“Ho oh…” Cinta mengangguk teratur
“Jadi elo tau…”
“Iya gue tau tompel loe yang segede
pulau Kalimantan itu di bokong.”
“Omegot,, kok loe diem aja.”
“Loe ngarep gue ngomong apa, woi
tompel loe kelihatan bos… trus loe bakal taro gue di gudang deket tempat sampah
sana,” Cinta mendelik.
“hehehe…”
Obroan
terus meluas, memanjang dan sesekali meruncing. Gelak tawa mereka tersisip diantara
radio yang sekarang tidak pernah mati, demi menyamarkan suara obrolan mereka setiap
malam.
Lupa
hari semakin pagi, Hardey belum menyiapkan kalimat pembuka apa yang akan
disampaikanya pada mama-papa dan Lili besok pagi. Jangan dulu ribet soal
asa-usul Cinta atau Sarita ini, jika
besok pagi mama membangunkan Hardey dan mendapatkan seorang gadis muda hanya
berlilit kain tanpa pakaian sama sekali dan seorang Hardey yang bersarung dalam
kamar, berduaan sepanjang malam, Mama bisa pingsan. Lili mungkin akan melongo
dengan mulut terbuka selama berjam-jam, dan harus mengakui kalau kakaknya
selama ini TERNYATA tidak gila. Sedangkan papa… mungkin papa akan setuju kalau punya—bakal—mantu
cantik. Unang bisa-bisa nangis nyesel sampai keubun-ubun. Uang 275 ribu-nya
tidak lebih dari secuil hadiah besar yang lebih mahal. Mba Unik? mungkin dia
akan mengira kalau mama sudah bosan dengannya dan berniat mengganti dengan
pembantu baru… hmmm.
Ahh,
Hardey masih belum mau pusing lebih
jauh. Dia masih menikmati bombardier si mata-mata yang terus saja mendaftar
aib-nya. Berusaha membalas pun semakin
sia-sia, karena kenyataanya si mantan besi usang berkarat itu yang punya
kendali cerita.
“No
way…,” sesal Hardey dengan penuh harap cerita Cinta akan stop disatu babak.
Tapi
sekali lagi dan sekali lagi, Cinta menderanya dengan mengorek aibnya.