Mata
meraka bertatapan dengan mesra, setelah kecupan hangat pada bibir Maya, Adnan
melanjut pada senyuman genit, Maya mencibir manja lalu mencium tangan Adnan
santun. Maya membalik badannya mengejar tangga busway yang padahal tidak beranjak. Kemudian sedan tua Adnan berbelok menerabas
jalur tol menuju luar kota Jakarta.
Adnan
masih terus berkutat dengan stiker-stiker merah bergambar garuda, simbol pilihannya
pada suatu partai yang mengusung calon presiden. Maya mantap dengan jacket
merah dan kemeja kota-kotaknya, rapih dengan celana jeans panjangnya. Ya, Adnan
dengan kaos putih dengan logo garuda di dadanya dan gambar Capres serta
bertulis No. 1 di punggungnya, gambar itu jelas, terang dan mencolok.
Tanpa
ada gambar presiden pun kemeja kota-kotak Maya sudah melambangkan suatu pilihan
juga, kalau kemarin Maya sudah berpakaian
kaos oblong putih dengan gambar hitam-putih pasangan Jokowi-JK, hari ini
kelihatanya Maya sudah kehabisan kaos sang usungannya. Maklum sudah seminggu
hujan terus mengguyur kota Jakarta tanpa pertanda apa-apa, yang hasilnya adalah
jemuran yang masih saja berkibar-kibar diteras depan.
Pagi
itu pasangan muda itu terpisah di pusat
kota Jakarta yang sudah dipenuhi orang-orang yang berolahraga sejak pagi.
Beragam warna dan potongan manusia berlalu-lalang di CFD pagi itu, sepertinya
ada juga even khusus sehingga
kerumunan manusia dengan seragam bertema khusus nampak membludak.
Seperti
kebiasaan mereka, Adnan menatap penuh cinta pada Maya dan seperti biasa pula
Maya membalas dengan perasaan yang hangat, kecupan, gigitan mesra di dada Adnan
akan mengakhiri gelak diantara mereka. Maya keluar dari mobil dan menghampiri
kawanannya yang sudah berpakaian rapih bergambar Jokowi-JK. Beberapa ratus
meter didepan Adnan memarkirkan kendaraannya untuk kemudian berbaur dengan gerombolan
teamnya yang menamai diri mereka Sahabat Prabowo.
Bosan
sudah baik Maya maupun Adnan menjawab pertanyaan rekan dan teman-temannya,
mulai dari pertanyaan usil, rusuh, keppo sampai pertanyaan diskriminatif soal paham
politik mereka.
Sebagai
golongan minoritas, Maya memilih mengusung nama Jokowi-JK sebagai jagoannya di
pilpres sedangkan Adnan dengan segala keyakinannya dan bumbu nasionalisme─yang
sudah jenuh dengan ‘perampasan’ pulau-pulau indonesia diperbatasan yang selalu
ditanggapi keprihatinan yang tak berkesudahan apalagi bersolusi─ Adnan yakin
100% dengan Prabowo-Hatta.
Kembali
kerumah dengan status sebagai suami dan istri juga bukan tanpa masalah rumah
tangga. Ditambah lagi dengan pandangan dan ideologi yang berbeda tidak membuat
Maya dan Adnan enteng dengan kata cerai. Tapi perselisihan niscaya sebuah
kepastian.
“Istri
harus tunduk sama suami,” nasihat seorang teman pada Maya.
“Oh
ya,” demikian selalu balas Maya enteng, segan rasanya berdebat dengan orang yang
sudah pasti berbeda pandangan dengannya. Seharusnya setiap orang tau dari
intonasi dan pertanyaannya, jenis apakah ini, dan perlukan diladeni??
“May,
as long as we can, better if we avoid to have conversations about ideology and
personal views with friend. Worthless” begitu nasihat sang suami berkali-kali pada Maya, yang walaupun
sudah berkali-kali diingatkan selalu saja ada celah dimana Maya terpancing
untuk menjelaskan, dan biasanya penjelasan ini akan berakhir pada penghakinan
dan kepastian kalau ada pihak yang harus bersalah. Dan buntutnya Maya akan
merepet pada suami.
Maya merapihkan peralatan sholat sang suami dan meletaknya
keatas keranjang pakaian harian. Sementara sang suami menyelesaikan sholat di
jam Isya biasanya Maya akan duduk menunggu di meja komputer belakang arah Kiblat.
“What?” Adnan memulai
percakapan sembari membuka-buka lemari baju, setelah dirasakan istrinya agak
gusar dengan kelambananya berpakaian.
“Lama bener sih,” benar saja Maya langsung menyemprot agak
kesal.
“Bajunya engga enak yang tadi, ganti dulu”
“Khan bisa ganti baju sambil nanya, masak harus rapih dulu
baru nanya?”
“Iya kamu cerita aja, kenapa sewot sih?”
“Ihh, kamu gak nanya apa-apa terus aku tetibaan cerita gitu,
apa susahnya sih nanya ‘ada apa’ sambil ganti baju, khan udah selesai juga
sholatnya... gitu aja lama dehh, kebiasaan” Maya masih terlihat keki. Tangannya
melipat-lipat sajadah yang sudah rapih sedari tadi.
Adnan
menggeleng, tanda mengalah dan menghindari debat kusir yang tidak akan
berkesudahan. Waktu 10 tahun lebih sudah cukup untuk mengetahui kalau ada hal
yang menggangu istrinya soal ‘harga diri perempuanya’, hal-hal seperti ini biasanya
akan membuat emosinya kembali ke masa ABG nya, labil dan berapi-api. Toh bukan
hal baru, Maya sama dengan ribuan atau bahkan jutaan perempuan lain diluaran disana,
suka yang tiba-tiba bercerita yang menurut para pria-pria bukan hal yang
penting dan patut diperbincangkan, Maya juga suka tiba-tiba terheboh-heboh dan
berjingkrat-jingkat sekedar untuk cerita “tadi ketemu di ini” atau “lihat”
sesuatu yanng menurut hormon laki-laki Adnan bukan suatu hal yang istimewa.
“Okey, I am sorry. Ada apa Maya??” Adnan
tau akan percuma membalas repetan perempuan bermata kecil itu, mata yang dulu
membuatnya terjatuh dalam cinta.
“Itu
si Riri, masih inget gak temen SMA aku
yang rajin banget ikut semua kegiatan jaman dulu. Kita pernah ketemu dia di
Atrium Senen, waktu baru-baru nikah dulu... ahh, pasti kamu inget dech. Kemarin
aku ketemu dia mas, trus dia ngajak ngobrol sambil makan-makan gitu.
Ujung-ujungnya malesin banget tau, pake ngajarin aku caranya supaya bisa bikin
anak, berobat apa gitu, supaya bisa hamil. Gilaa, dia kira dia siapa, emang dia
kawin udah berapa lamaa...”
“Nikah
kali..” potong Adnan enteng
“Sama
aja... kamu nih, ya pokonya aku gak nyaman banget sama bahasa dia, aku gak suka
sama nasihat-nasihat dia soal anak... lah dia aja belum punya anak. Mau nikah
sudah 10 tahun, 5 tahun 2 tahun bukan alasan lah, pokonya dia juga sama belum
punya anak, so gak pantes
nasihat-nasihatin aku soal anak” mata Maya masih menyala. Dadanya naik turun
karena emosi.
Adnan
tidak mengerti, bagian mana yang sangat membuatnya marah. Toh sebagai pasangan
menikah 10 tahun, sesungguhnya bukan hanya Maya yang bosan dengan
pertanyaan-pertanyaan soal anak. Walaupun “cuma” laki-laki Adnan juga sering
menerima pertanyaan soal anak, tapi toh Adnan menerimanya sebagai sebuah takdir
yang berlum berpihak, sedangkan Maya selalu mengganggap pertanyaan soal anak
sebagai sebuat granat yang siap melukai harga dirinya, Adnan duduk manis
dipinggir ranjang sambil mendengarkan kemarahan sang istri pada si Riri yang
sesungguhnya Adnan lupa, yang seperti apa rupanya si Riri ini.
“Gila,
loe ama laki loe bisa sepakat gitu soal pilpres cik?”
Ya ya
ya, Maya juga sudah sangat bosan dengan pertanyaan seperti ini. Apanya yang
hebat sih, apanya yang istimewa sih?? Maya pro Jokowi-JK, Maya terkagum dengan
sikap sederhana dan kerja keras pak Jokowi belum lagi nasionalismenya yang
tidak pernah masuk ke ranah agama dan sukuisme sebagai ‘jualan’ kampanye, Maya
terkagum-kagum dengan misi-visi Jokowi yang pro-tehnologi, sesuai dengan
bidangnya.
Sedangkan
Adnan suaminya itu, pria besar berkulit melayu asli yang sudah 10 tahun
menemani hari-harinya sebagai pasangan hidup itu menentukan pilihanya untuk
menjadi Sahabat Prabowo. Kesukaanya pada
pelajaran geografi, kesukaanya pada organisasi dan sikapnya yang memang tegas
dan bijaksana memberikan kemakluman pada Maya kalau sang suami merasa lebih sepaham
dengan misi dan visi yang sudah di dengungkan oleh pihak Prabowo.
Maya
juga merasa biasa saja dengan koleksi ke Jokowi-Jokowianya yang bersandingan
dengan atribut ke Prabowo-prabowoan sang suaminya di kamar.
Mereka sama-sama sepakat bawahma Prabowo dan Jokowi adalah 2 figur baik dan istimewa hari ini, mereka masing-masing akan membangun Indonesia lebih baik lagi, pasti dengan cita-cita yang lebih tinggi dari sekeda slogan dan bahasa kesedihan. Baik Maya maupun Adnan percaya, akan ada gebrakan yang lebih baik tahun ini, akan ada sesuatu yang luar biasa tahun ini, entah siapapun yang akan menjadi presidennya.
Akan
tetapi dalam segala kesepakan itu Maya masih merasa sedikit lebih unggul dari
pada Adnan, juga dalam segala cintanya buat sang istri Adnan percaya
pilihanyalah paling tepat. Kata hati yang
mereka tidak diskusikan dengan gamblang tapi jelas tersirat dari setiap
debat kusir yang terjadi diantara mereka ketika membahas soal pilihan presiden
ini.
Sambil
menunggu Adnan menyelesaikan sholat maghrib di mesjid yang bisa didapatinya
dijalan, Maya menunggu di bangku tunggu yang ada tidak jauh dari tempat
parkiran. Sembari membunuh waktu diantara suara adzan yang mulai menggema, Maya
membuka-buka media sosialnya lewat gadget. Kemudian yang bertaburan adalah
perang debat dan sindiran soal capres dan cawapres. Ada kegundahan yang luar
biasa dihatinya, ada kekesalan di wajahnya, mau rasanya membagikan betapa dia
lebih hebat bergulat tiap harinya dengan pilihan dan perbedaan. Betapa
kebodohan kelompok-kelompok entah itu pro No. 1 atau pro No. 2, Maya lebih
melihatnya sebagai kumpulan dagelan yang dilakonkan pemain pendatang baru yang
amatir, yang norak dan yang kampungan yang tidak sesungguhnya mengerti apa drama.
Para lover dan hater,
penyuka dan penguktuk, pencinta dan pemuja yang tidak tau artinya persaingan. Tidakah mereka belajar
ilmu ekonomi, cuma persaingan yang bikin bisnis maju, cuma kompetisi yang bisa
bikin orang menjadi lebih maju. Dengan diasahlah kemampuan orang semakin
terlihat. Dinding-dinding Buku Biru Maya
dipenuhi tulisan-tulisan amatir dan makian-makian, sedangkan TL si Burung Biru
banyak berisi umpatan sampah dan
sanjungan tak jelas dari mereka─menurut Maya─pasti bahkan tidak mengerti apa
arti dari substansi isi ‘janji’ kampanye si para tokoh utama ini.
Agama
dan misi itu beda, visi dan pendidikan itu beda, ras dan kinerja tidak ada
hubungannya man!!! Huh, desisnya galau... setiap kali membuka media sosial yang
lama kelamaan Maya sudah tidak lagi merasa itu sebagai sarana sosial, karena
didalamnya sudah jadi kumpulan-kumpulan komunitas, ektrimist, media niaga.
Bukan jarang dimana yang satu menjatuhkan yang lain. Dimana
koran/informasi/pengetahuan komunitas tertentu yang jelas-jelas tidak akan
menciptakan perdamaian jika dibagikan dengan umum akan tetapi dengan entengnya (sekarang)
dibagi-bagi secara umum. Ketika yang tidak mengerti ‘makna’ beriklan atau
mengiklankan hal-hal yang mereka tidak mengerti esensi sesungguhnya, padahal
mereka hanya tertarik dengan kalimat ‘agama’, kalimat ‘sukses’, kalimat
‘uang’ seandainya saja mereka lebih
cerdas, mereka mungkin akan sadar bahwa bukan selebar kepicikan para pendukung
fanatik yang tidak simpatik itu maksud
dan paparan para calon pemimpin besar itu.
Maya
menutup HP dengan kesal, memasukanya kedalam sarung. Masih saja tiap refreshing feed-nya berisi
link-kampanye, status dukungan yang lebih mirip ajakan berbau provokasi,
status-satus dengan diskriminasi agama, mengungkit masa lalu, mencari salah,
memaksa harus ada pihak yang salah dan entah siapa yang sesungguhnya harus
disalahkan.
Maya
merinding sekaligus bersyukur, lebih 10
tahun berumah tangga, tanpa keturunan,
tragedi 2 kali keguguran, suami yang berbeda keyakinan, berbeda ras dan
hari ini mereka berbeda pandangan
ideologi politik. Hampir setiap
hari Maya berhadapan dengan namanya pilihan. Pilihan untuk bertahan apa
selesai, pilihan untuk meributkan atau mengalah tapi─pastinya dia tau─tidak
iklas, pilihan untuk mendebat apa mendiamkan. Dan semuanya tidak mudah, sebagai
manusia Maya tau pasti kalau Adnan juga punya perasaan yang sama, karena mereka
sama-sama manusia, sama-sama punya rasa, sama-sama punya keyakinan, sama-sama
punya sudut pandang. Maya sadar setiap hari pun Adnan juga berjuang.
Sampai
hari ini Maya masih sangat menghargai keyakinan suaminya yang tidak jarang
mengganggu jam tidurnya. Tapi Maya menikmatinya sebagai keindahan sebuah rutinitas
harian, atau Adnan juga pernah komplen jika seandainya Maya lebih flexible
dengan jam ibadah minggunya, agar bisa disesuaikan saja dengan keperluan holiday mereka. Maya tetap kekeuh dengan
jadwal ibadah minggu paginya, dan kegiatan ibadah lainya yang jam-jamnya tidak melulu bisa disesuaikan
dengan jadwal kegiatan kepartaian maupun keagamaan Adnan.
Perbedaan
agama bukan hal mudah buat seorang berkeyakinan kuat seperti Adnan atau Kristen
taat seperti Maya. Tapi diusia muda, keinginan yang kuat mengalahkan logika
mereka, cinta yang menggebu dan perasaan ‘sepaham’ mereka dalam melihat
keragaman yang begitu liat membuat mereka menabung dengan tertatih-tatih untuk
melegalkan pernikahan mereka di Singapore.
Hari
ini Maya tau pilihanya tidak pernah salah, Adnan memang Tuhan ciptakan untuk
melengkapi hidupnya. Ketaatan Adnan pada keyakinanya justru membuat Maya
semakin kuat dengan agama yang diyakininya, ada penghormatan didalamnya, ada
kasih yang humanis dari seorang laki-laki. Keaktifan dan jiwa sosial Adnan pula
yang mempertemukan mereka pada suatu komunitas.
Adnan
yang tidak pernah berkomentar soal warna kulitnya, Adnan jelas menyatakan cinta
bahkan setelah dia tau waktu itu Maya tidak
lagi suci. Maya pernah korban pelecehan seksual masa sekolah, diskriminasi
rasial membuatnya jadi korban kebodohan anak-anak muda. Tatoo permanen bergambar singa mengaum punggung
kanan Maya seolah menjadi jawab atas
semua kegelisahanya sebagai korban dan objek penderita ditahun-tahun yang lalu.
Dan seorang Adnan melihat semuanaya sebagai paket kehidupan Maya, ini bukan
soal salah dan benar, ini bukan soal warna dan bentuk, ini soal jiwa, ini soal
hati, ini soal keyakinan, dan Adnan yakin sekali saat itu dan sampai hari ini,
dia harus menjaga Maya sepenuh hati, dia harus ada bersama Maya, dia tau Maya
membutuhkanya, dia tau dia semakin sempurna dengan menjadi malaikat pelindung
buat Maya. Lagi mata sipit Maya dan
lidah celatnya pada hurup R yang membuat
Adnan terpukau.
Bertahun-tahun
yang lalu, Maya sadar kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan tidak iklas sama
sekali, basa-basi yang menakutkan dan boomerang
yang dia tau dia tidak siap dengan jawabanya, tapi kesadarannya sebagai
permpuan tidak sempurna tidak boleh jadi alasan pembenaran Adnan harus ikut
menderita. Ini memang cinta tapi harus realistis, pernikahan ini bukan hanya
milik mereka, ada Bapak-ibu Adnan, ada saudara-saudaranya, ada Mami-papi Maya
dan juga banyak kerabat Maya dan mereka semua melihat, mereka pasti
berkomentar.
“Kamu
boleh nikah lagi kalau kamu pegen punya anak”
Adnan
yang masih berkutat dengan komputernya, mengintip kearah Maya didepanya,
“Serius??” tanya Adnan berbalik dengan antusias.
“Kamu
khan harus punya keturunan supaya ada yang doa’in, supaya ada penerus, supaya
saudara-saudara kamu engga mengucilkan kamu”
“Lalu
mami-papi kamu gak pengen cucu??”
“Iya,
tapi kamu khan laki-laki”
“Dan
kamu perempuan”
“Iya
beda lah... agama kamu juga menghalal-kan kamu menikah lagi,’ setengah mati
Maya mencoba mengatur agar suaranya senormal mungkin tapi sejujurnya hatinya
hancur, takut dengan sikap antusias Adnan barusan.
“Maya
May, aku menikahi kamu dengan segala konsekwensi kehidupan yang tidak normatif
sejak semula. Dan tiba-tiba, kamu minta aku normal dengan egoku sebagai
manusia??” Adnan bangun dan berdiri disisi pintu kamar, Maya berganti duduk
dari ranjang ke kursi Adnan tadi, kedepan komputer. Adnan sedang membuat
artikel sosial, pekerjaan sampinganya selain sebagai karyawan swasta.
“Ya
aku mau realistis aja, dokter juga udah bilang kecil kemungkinan aku akan punya
anak, rahim aku terlalu lemah, dan kamu gak harus kasihan sama aku toh”
“Gosh, Maya Maya... kita nikah baru 5
tahun, jalan kita masih panjang, ada 10 tahun lagi, 15 tahun, 20 tahun lagi
bahkan aku minta sama Allah SWT supaya kamu jadi jodoh pertama dan terakhir
aku... kita masih punya banyak kesempatan untuk menunggu bersama”
“Get real lah mas??” ada semangat kecil
yang sesungguhnya merasuk hati Maya.
“Aku
mau ibadah aku dengan Tuhan-ku, bukan dengan pandangan orang lain. Aku mau
menjalankan kewajibanku dengan tidak menyakiti hati orang lain, apalagi hati
istri aku” ujarnya, seperti biasa teduh dan menenangkan.
“Aku
percaya jodoh, mati dan rejeki sudah ada yang atur dan anak itu adalah rejeki dari Tuhan, kalau
belum dikasih masak aku perlu shortcut
cuma sekedar membuktikan bahwa aku juga bisa punya anak” sambung Adnan lagi.
“Khan
kamu yang selalu ajarin aku, semua akan indah pada Waktu Tuhan karena..”
“Tiada
yang mustahil bagi orang percaya...” Maya melanjut kalimat Adnan bersamaan,
membelit tangannya dipinggang suaminya. Dan ditahun-tahun kemudian Maya tidak
pernah lagi memberikan ‘penawaran’ pada Adnan, karena Maya tau itu hanya bahasa
kemunafikannya sebagai perempuan.
Terkadang
Maya bersyukur dan berfikir betapa ketidak-adanya keturunan dalam perkawinan
mereka sesungguhnya adalah anugrah, jika ada anak diantara mereka, mungkin akan
ada kepicikan yang kemudian merayapi mereka. (Mungkin) mereka akan berharap
anak memilih keyakinan yang dianut salah satu pihak. Dan keberpihakan si anak
seperti menjadi ‘pilihan’ kebenaran mutlak atas perbedaan yang mereka yakini.
Maya
berfikir, jika anak kemudian berfihak padanya, mungkin dia akan menjadi sama
pandirnya dengan orang-orang yang hidup dalam zona nyaman itu, seperti
teman-teman di halaman birunya atau burung biru. Mereka si Mayoritas yang
kelewat PD, si minoritas yang nyolot, si amatir yang sok pinter, mereka yang
melalui hari dengan mencari-cari kesalahan orang lain, mengorek-ngorek borok
kecil lawan dan memunculkan kebenaran semu yang menjadi milik si manis mulut,
manusia-manusia dengan citra. Mungkin
jika hidup terlalu mudah buat Maya dan Adnan maka penghakiman dan realita hidup
akan manjadi wacana saja bukan sudut pandang perjalanan hidup mereka.
Maya
mencium tangan Adnan sopan, lalu mengenggamnya erat menuju mobil yang diparkir
tidak jauh dari tempat Maya menunggu tadi. Maghrib baru saja usai.