Setiap kebijakan baru pasti akan selalu membawa suasana baru juga. Dan tidak terkecuali disemua aspek kehidupan. Tidak juga terkecuali pada satu orang. Seperti saat ini. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi keaktifan Jakarta sebagai kawasan Industri yang bepolusi, apalagi jika perusahaan tersebut berada di tengah-tengah kota Jakarta. Maka Perusahaan tersebut diharuskan ‘sedikit’ bergeser lokasi di pinggiran kota, demi bagian dari implementasi peraturan .
Alkisah agar kebisingan dan
polusi suasana kota bisa sedikit berkurang. Yang sedikit merasa terusik dengan peraturan baru ini
adalah Dean, seorang eksekutif muda salah satu perusahaan milik asing besar di
kota Jakarta. Lelaki itu harus mulai menyusun sebuah program baru untuk mengantarnya tiba di kantor sesuai jadwal.
Sia-sia sudah pilihanya untuk tinggal disebuah apartemen dengan lokasi cantik
dekat dengan kantornya terdahulu.
“ It’s not a good
story to starting a day?,” gerundelnya berkali-kali.
“Cerewet amat sih lo Dean. Take it esay man, entar juga terbiasa”.
“Yeah,” balas
Dean lebih mirip erangan pelan.
Adam masih tidak
perduli dengan gerutu Dean sepanjang jalan, dia masih asyik menikmati tembang
lawas milik Toto sambil sesekali mengiyakan tanpa arti semua omelan Dean.
Kebulan asap rokok diantara jendela mobil yang setengah terbuka dan AC mobil
yang antara hidup dan mati, benar-benar melehakanya seorang diri.
Sudah sebulan lebih
sejak kantor Dean berpindah dari tengah-tengah kota Jakarta ke pertengahan kota
antara Jakarta dan Jawa Barat, dan hampir setiap hari pula selalu ada ganguan
yang cukup berarti dijalan. Maka dipastikan hampir setengah absennya tidak lagi
sesuai jam kantor yang semestinya. Untuk orang yang ferfeksionis terhadap
perekerjaan seperti Dean, jelas ini cukup
mengusiknya.
* * * *
“ Guys besok meeting ya, si Bos minta monthly report soal masalah kemarin di
dahulukan, mumpung mister bule lagi di Indonesia,” Si cantik Laura menyembul
dari balik pintu. Adam yang memang dasarnya punya otak sedikit ngeres, segera
bangkit dan memberi tempat buat Laura disampingnya.
“Apa sih kamu Dam? kurang ajar”, kalimat yang tidak
sesuai dengan apa yang terpancar dari
wajah Laura yang senyum mesem, demi tangan jahil Adam yang menepuk
pantatnya.
“Hi Dean met siang, serius amat ngerjain apa sih?”, Laura
mengambil posisi tepat dihadapan Dean. Blazer biru terang yang setengah
kancingnya terbuka itu jelas menampakkan dada Laura yang mulus dan seuntai mutiara bermata mungil membuat penampilannya
luar biasa. Dean sedikit menelan ludah.
Omong kosong kalau
orang tidak akan tertarik dengan Laura. Selain penampilanya yang memang sexy,
ada suatu dimata birunya yang selalu membuat setiap lelaki seolah tersihir. Sudut bibirnya yang berbicara tanpa
kata, senyumanya yang liar dan geliatnya yang manja. Semua tentang Laura adalah
impian laki-laki normal. Dan Dean termasuk seorang pria yang pernah terlena
dengan tatapan genit Laura yang seperti tadi. Adam juga, ah rasa-rasanya hampir
separuh lelaki yang ada di kantor ini merupakan pengagum kecantikan Laura.
“Nanti pulang bareng ya”, suara manja Laura disebrang
telepon. Tanpa arti Dean mendesah. Mengangguk mengiyakan.
“Dean, kamu denger gak sih, mobil aku masuk bengkel nih”.
“Oh iya sorry, silahkan lady. Be my guess”, balas Dean ramah.
Belum lagi satu menit gagang
telepon itu tertutup ditempatnya, line
intercom Dean sudah bunyi kembali. Line
Adam muncul dilayar telepon.
“Pasti Laura, ngajakin lo pulang bareng”, terabasnya
dengan cepat.
Dean tersenyum sinis,
dasar musuh dalam selimut batinnya terkekeh lucu.
“So what?”,
ucapan Dean datar.
Sesungguhnya Dean tahu—tapi
entah untuk maksud buruk atau baik hanya Tuhan saja yang tahu— kalau Adam sesungguhnya
bukan saja naksir Laura, tapi dia
tergila-gila, dia terobsesi dengan seorang Laura. Tapi ironisnya Laura seolah
tidak pernah cukup perduli, walau pastinya Laura sudah bisa merasakan kalau
Adam sudah mengusahakan semua tehnik PDKT yang dia bisa terhadap Laura.
“Please Dean dia masih
naksir elo, ladenin dong”, ada nada memelas diaura suara Adam. Tapi Dean
tau pasti tidak ada ketulusan didalamnya.
“Basi kalimat kamu Dam, aku nih udah bukan ABG lagi”,
Dean menggeleng.
“Yah, daripada gue gak bisa dapetin dia paling engga loe
ajalah. Loe jaga dia buat gue, gue tau loe orang baik Dean”, dengan gayanya yang
‘sok tua’ Adam menatap Dean dengan lamat-lamat, seolah ada perjanjian diantara
mereka. Dean malas meladeni kegilaan Adam, dia milih untuk diam.
* * * *
“Pagi
pak, gimana dinas luarnya?”, Paramitha, salah satu staf department accounting yang imut-imut. Perawakannya mengingatkan
pada sosok cantik yang mungil, Yuni Shara.
“Hai, kapan pulangnya pak?”.
“Musim apa di Jepang?”.
Berbagai sapaan manis
Dean terima nyaris sepanjang bulan ini, selain karena memang dia baru pulang
dari luar negri setelah 2 tahun ikatan dinas, Dean termasuk salah satu manager
yang selain ramah juga ganteng. Tidak sedikit yang menganggap Dean dan
Laura adalah pasangan yang sangat
serasi. Status sederajat, keindahan pisik pun sama-sama bisa disandingkan.
Walaupun Laura terkesan lebih berkelas karena sikapnya yang sedikit angkuh
berbeda dengan Dean yang terkenal sebagai ‘bos merakyat’.
“Ngapain aja lo kemaren?”, Adam mengawali percakapan
dengan Dean tidak dengan hangat. Mendadak rekan yang secara jabatan
sesungguhnya masih satu level lagi dibawah Dean itu menyeruak masuk ruangan.
Tanpa salam tanpa senyuman, duduk dengan tatapan penuh curiga di bangku tamu, tepat didepan meja Dean.
“Ya ngapain ya... menurut kamu kalo 2 orang dewasa
berduaan ngapain, apalagi semalam aku banyak kerjaan, jadi kita baru balik
sekitar jam 9an?”.
Dean malah sengaja
membolak-balik document ditangannya, berpura-pura lebih sibuk lagi. Dering
telepon memutuskan percakapan mereka pagi itu, Adam meninggalkan ruangan Dean
dengan agak kesal. “Ketemu dikantin tar siang”, dengan bahasa tubuhnya Adam
member isyarat pada Dean yang masih online di telephone.
“Kalian having sex?”,
entah ini lebih mirip pertanyaan atau jawaban dari Adam atas pertanyaanya sendiri pagi tadi. Terlontar
dengan seenaknya, lalu sesendok penuh nasi masuk mulutnya. Percakapan makan
siang yang tidak menyenangkan, pikir Dean. Agak memicing mata Dean kemudian
menggelengkan kepalanya, dia bukan tipe pria yang suka berkisah apalagi
berdebat. Karena tau benar perasaan Adam terhadap Laura, Dean juga sudah
membaca alur pertanyaan Adam. Lagi-lagi Dean memilih diam. Akhirnya sedikit
bersuara juga, lebih seperti statement
pendek.
“Sinting , emangnya kamu. That’s all on your mind”.
“Oh come on Dean,
siapa yang gak kepengen tidur sama Laura”, dalam bisik Adam menekankan
suaranya, wajahnya mendekati wajah Dean.
“Not this case
again, folk”, Dean menarik wajahnya agak menjauh.
Adam menyeringai jahat,
“ Not again. Kenapa?”.
Dean terkekeh pahit,
ucapan Adam barusan kembali menggugah hati
kecilnya, membangunkan alam bawah sadar yang ingin terus ditidurkannya. Sebuah
memory yang Dean sendiri tidak cukup menikmati untuk mengingatnya. Sebuah
kesenangan dan kekonyolan yang kemudian
menguatkan sudut pandangnya terhadap perempuan.
Sampai saaat ini. Dia tahu ini tidak adil, tapi rasa itu memang memaksanya
untuk hidup dalam ‘pilihan’ menjadi tidak adil itu.
Seharusnya setelah
pesta New Year 2 tahun lalu, Dean dan Laura akan meresmikan
bertunangan mereka setelah masa pacaran
singkat yang manis. Pesta yang diadakan sejak sore memang meriah dan
menghibur semua pengunjung. Setelah puncak menyambut kedatangan tahun yang
baru, beberapa orang teman laki-laki—saat itu Adam tidak ikut— mengadakan
permainan antar lelaki.
Dimana se-sloki minuman
alcohol taraf tinggi menjadi ‘hukuman’ untuk setiap kesalahan permainan. Mirip Rusian Roulete dengan memutar botol
sacara acak. Entah kenapa dan bagaimana setelah berkali-kali berpindah tempat,
kesialan terus mengejar Dean. Setelah setengah mabuk selanjutnya bukan lagi
permainan ‘laki-laki’ tapi lebih kekonyolan para lelaki. Malam itu beberapa
rekan-rekan sejawat Dean menikmati mempermainkan si anak baik ini sampai mabok
tingkat tinggi.
Setelah berapa lama tubuh
Dean semakin terasa panas dan tiba-tiba ada gairah penuh menjalar. Sampai hari
ini pun Dean tidak pernah mempertanyakan, “ada apa dengan sloki terakhirnya dan
siapa peramu minuman panas itu?”. Lampu
disko masih lagi berkilat-kilat, tawa-tawa ceria makin membahana dan bau
minuman beralkohol makin menyengat. Kelihatan mereka semua memang mabok berat,
tapi ada hasrat yang lain memperkosa Dean dalam mabuknya.
Setelah mencumbu Laura
dibawah ayunan lampu dan music yang sepertinya seirama, ditariknya tubuh Laura
yang juga hangat dengan gelora menuju kamar. Dean yakin kalau saat itu dia
tidak bercinta kepalanya akan pecah, dan Laura adalah kekasih yang sangat baik.
Tanpa ada argument dan penantian sedikitpun, malam itu mereka lalui dengan
masyuk.
Dean lupa protokolernya
secara pasti sampai keesokan malamnya, setelah semua kepenatan-nya sedikit
berkurang. Dia mendapati tubuhnya dan Laura hanya dalam balutan seprei. Lamunan Dean tiba-tiba buyar.
“Ma… maaf, sa… saya
engga sengaja bu”.
* * * *
“Maaf….”, suara yang sama dengan gesture
yang tidak jauh berbeda dengan yang Dean lihat seminggu yang lalu. Ditempat
yang berbeda tapi juga ditempat yang
sama. Dean dan Adam sama –sama berbalik
ke arah suara itu. Seorang gadis dengan seragam kerah biru tebal menjatuhkan mangkuk sayur Paramitha. Terlihat
bolamata Mitha membesar, seandainya jam istirahat
tidak seramai ini dia pasti akan
mendamprat anak itu berkali-kali.
“Siapa tuh?” Dean menyeruput soft
drink-nya..
“Mitha”, Adam
membalas sekenanya. Menurutnya tidak ada yang istimewa dengan kecelakaan
kecil barusan.
“Aku juga tau Mitha bung. Bukan dia, tapi anak yang nabrak dia?”.
“Oh..”,
hanya itu yang terlontar dari mulut Adam, seperti tidak perduli dengan
pertanyaan Dean. Adam masih menikmati makan siangnya dengan seksama.
Dean masih belum
melepaskan tatapannya dari anak itu. Dia nampak jadi salah tingkah. Selain
banyaknya mata yang menatap mereka sejurus juga seragamnya yang setengah basah.
Demi statusnya yang lebih tinggi Mitha masih bisa menunjukan kemarahan dengan
ekor mata dan kesinisan kata-katanya. Kemudian si gadis tadi bersama seorang
temannya mengambil duduk dipojok, dekat jendela, menjauhi rombongan Mitha yang
terus mengekor dengan sorot mata panas. Jelas tersirat ketakutan dan malu yang
tertahan dipias wajahnya.
* * * *
Seharusnya ini adalah
hari yang indah, entah apa yang Adam lakukan terhadap mobil yang kemarin dipinjamnya. Yang pasti sejak pagi
tadi sedan dengan merk Jepang itu ngambek. Bunyi mengkerit-keritnya yang sudah
berulang tetap tidak membangunkan sang mesin yang terlelap. Dean melempar
tatapan bertanya pada Adam.
“Sumpah Dean, masa iya gue ngisengin mobil lo”.
“Aku gak nyalahin kamu kok, asal kamu tau aja mobil aku
masih dibengkel. Jadi pastinya hari ini kita perlu jalan lebih pagi untuk
nunggu jemputan”.
“Hah, kenapa gak telpon Laura aja, dia pasti bawa mobil”.
“Please, kalo
kamu mau. Aku mau siap-siap ketempat
jemputan”.
“Taxi khan banyak man?”,
Adam masih belum bisa terima kenyataan bahwa dia akan naik bus jemputan. Bus
besar yang hanya akan dia naiki jika semua kendaraan didunia ini mogok. Itu
janjinya pada dirinya sendiri.
Dean mengangkat alis matanya dan meninggalkan
Adam dalam kebingungan, dengan menahan kesal Adam mengikuti langkah Dean menuju
kamarnya dilantai 5.
“Salah
hari nih numpang nginepnya”, sesalnya berkali-kali.
* * * *
Entah sebuah kemajuan
atau kebodohan. Sejak hari Dean mendapati dirinya dan Laura dalam keadaan yang tidak
bisa dibilang bisa itu, segala simpati dan rasa cinta Dean menguap terhadap
Laura. Hari-hari yang berjalan, kemudian kepindahanya ke luar negeri demi
tugas, semua seperti menjadi alasan tambahan. Kemudian berpuncak ketika di luar
negeri Laura sempat mengabarkanya sebuah berita berita.
“Aku sih engga yakin juga kalu aku hamil Dean, aku Cuma
gak nyaman aja dengan kondisi aku belakangan ini”, cerita Laura dengan enteng
ketika Dean mempertanyakan kegunaan dari beberapa obat yang diceritakan Laura.
“Just inchase
darling..”, dan tawa renyah Laura yang biasanya menghapus semua gundah
dihati Dean seakan menjadi auman singa lapar yang tidak puas setelah memakan
anaknya sendiri.
Sejurus kemudian Dean
merasa rendah, karena dia sudah melanggar komitmennya sendiri. Komitmen untuk
tidak akan menggauli gadis yang belum menjadi istrinya. Dan yang lebih membuat
simpatinya terhadap Laura hilang adalah kenyataan bahwa kesalahan yang mereka
pernah lakukan coba ditutupi dengan ‘kesalahan’ yang lain lagi. Dan kemudian
Dean juga sadar ini bukan pertama buat Laura. Lamunan Dean terhenti, kakinya terijak.
“Eh sory pak, sorry… maaf, saya engga sengaja”.
Anak itu terbungkuk
menjumput tasnya yang jatuh, rambut hitamnya tergerai. Tubuh Dean yang lumayan
besar cukup mengganggu langkah orang untuk maju dalam bus jemputan tersebut.
“Loe sih, udah gue bilang jangan deket pintu”, Adam
setengah ngomel.
“Lagian coba kalo kita naik mobilnya Laura, engga bakal sengsara
gini deh”, sambungnya lagi, masih dengan rasa tidak puas.
Bus berhenti.
“Morning Dean, lho tumben naik jemputan,” bu Desy,
wanita setengah usia itu adalah salah satu teman baik Dean yang lain. Dengan
segala kedewasaan dan pengertian yang dalam biasanya asisten manager personalia
berperawakan tambun itu sealu menjadi last
shelter Dean setelah dia merasa
mentok dengan Adam.
“Pagi Bu Desy”, sapa Dean dengan hangat.
Dengan ekor matanya
Dean mencoba menangkap wajah orang yang menginjak kakinya tadi. Gadis yang
kemarin menabrak Mitha. Banyak geram yang tertahan mulai terdengar dibelakang.
“Kamu itu ceroboh banget sih”, bisik-bisik yang tidak
pelan. Dean bisa mendengar suara itu. Dan beberapa komentar kesal lainnya.
Entah sebuah simpati pada Dean atau memang omelan yang tertunda buat si gadis
itu.
.
* * * *
“Aku mau pulang dengan naik jemputan”, ucap Dean datar.
“WHAT! Are you nuts”,
Adam kebakaran jenggot.
“Kenapa sih kamu Dam, aku kan gak bilang pulang mau jalan
kaki tapi naik jemputan. Oke,,, kalau aku bilang mau pulang jalan kaki baru namanya. I am nuts”.
Dengan entengnya Dean kembali
melanjutkan pekerjaannya, sementara Adam masih ternganga keki, aneh dan semua
yang tidak umum dia dengar. Seharusnya dia mampir keruangan teman ini untuk
minta dirayukan Laura, agar sepanjang minggu ini mereka diperbolehkan menumpang
mobilnya. Dan Adam yakin, permintaan Dean akan selalu tak tertolak oleh Laura.
Tidak pula dicari asal muasalnya.
“Loe ngejatohin martabat manager Dean”, Adam menahan
kesal dalam suaranya. Berlagak santai dan tenang tapi hatinya sudah gondok
sekepalan tangan.
“Engga terbalik tuh bung… aku justru
menunjukan kesahajaan seorang manager”, diplomasi Dean.
“Apalagi
manager ganteng en keren kaya gue”, Dean tau Adam paling keki dengan kalimatnya
barusan. Kemudian pura-pura cuek.
“Oh yeah. I see…”
Adam keabisan kata-kata. Mukanya terasa panas, kuping terasa sakit dengan
kalimat barusan Dean. Ganteng, heh…
Adam sebenarnya tidak
kurang ganteng daripada Dean. Mereka sama-sama punya bodi yang oke, tampang
juga oke. Adam lebih kepada manis sedangkan Dean mungkin karena sedikit berdarah
kauskasia kelihatan lebih ganteng. Litle
bit only. Soal tajir, emang Adam kalah satu level sama Dean. Tapi soal
selera Adam dua tingkat diatas Dean. Keduanya terdiam, suara tuts computer Dean
seperti memecah kesunyian. Adam membolak-balik buku tentang keberangkatan kapal
yang tidak dia pahami sama sekali. Mau langsung balik ke meja tidak etis, masih
sedikit jaga gengsi.
* * * *
“Cleo nelpon semalem”, kata Dean memulai.
“Baguslah, kalo loe emang udah engga mau sama Laura sama
bule itu aja”.
Dean mendesah agak
kesal, menatap Adam dalam-dalam.
“Apaan loe. Ada yang salah sama kata-kata gue”
Dean menghela nafas
dalam-dalam, seulas senyum tipis tapi
penuh arti mengembang diwajahnya.
“Dam, this is my
last word”.
Adam menganguk dalam
diam yang penuh pengertian. Memang Adam seperti
memancing Dean untuk terus mengucapkan kalimat ini.
“Laura was my
past, swear I didn’t love her anymore.
And for that, I mind it”
“Iya gue tau lo serius Dean”, Adam setengah memelas.
Seulas senyum tipis
tersungging malas disudut bibir Dean.
“Lo khan tau gue udah
lama suka banget sama Laura”
“Sorry tapi aku gak kira
kamu serius, I think you just
kidding for her”.
Adam membanting tubuhnya disofa kerja Dean.
“Tapi gue yakin Laura masih cinta mati sama loe”.
“Itu hak dia, never
mind”.
“Dan dia engga bakal terima cinta gue”.
“Itu masalah Loe”, sambar Dean cepat.
“Harusnya ini jadi
masalah kita Dean, karena dia bandingin gue sama loe?”.
“Dam… gue ngomong ini sama loe buat yang terakhir
kalinya, kalo sampe loe nanya soal masalah
Laura lagi, I’ll kick your ass”, sembur Dean kesal.
Adam terhela, Dean menarik nafas panjang.
“Aku sudah melanggar komitmen, dan yang paling engga bisa
aku terima adalah… Laura mengganggap semua ini biasa. I was love her, tapi ternyata prinsip kita beda, aku udah sumpah
sama diri sendiri untuk menjaga gadis yang bakal jadi istri aku. Never hurt her apalagi merenggut
kegadisannya”.
“Laura mau
ngelakuin ini pasti gara-gara cintanya sama lo Dean”.
“Whatever, tapi
gue sendiri merasakan kalau itu adalah bagian dari kebiasaan dia. Sorry man, gue gak bisa berdamai dengan
ginian”
“Loe terlalu
menghakimi Dean”.
“Dam loe denger ya, if
I need sex I’ll do it with others. Gue akan bayar setinggi dia mau, tapi
sekali lagi gue bilang. Tidak
dengan wanita yang akan nemenin gue
sampai beranak-cucu. Tidak dengan perempuan yang bahkan tidak sayang dengan
bakal anaknya sendiri. Harga diri aku
belum bisa nerima kalau gadis yang harus jadi istri aku seperti itu. Aku gak bisa Dam, bukanya aku
gak nyoba… memang gak bisa”. Beban Dean seperti terpajang dibahunya.
Adam ikutan terdiam.
Kalau boleh jujur Adam sendiri sebenarnya ragu dengan perasaannya sendiri.
Kadang dia yakin kalau dia cinta mati sama Laura, tapi disisi lain Adam sadar
kalau memang Laura sedikit ‘liar’
walaupun selama ini Adam menanggapiya
sebagai sebuah kewajaran karena dasar segala daya tarik laura. Tapi sampai
kapan Adam bisa mentoleransi ‘kenakalan’ itu, Adam juga tidak berani menjawab,
* * * *
“Hah, lo gak serius khan?”, mata Adam terbeliak, mulutnya
mengnganga.
“I don’t know, but
its bother me a lot”
Adam tidak tau harus
bersikap bagaimana. Selain kebaikan Dean hal seperti inilah yang selalu membuat Adam terkagum pada sosok seorang
Dean. Pemikirannya yang agak konservatif. Adam sendiri sama sekali bukan
penganut paham tersebut tapi jauh didasar lubuk hatinya Adam—tidak bisa
berbohong bahwa dia berharap cukup confidence
untuk bisa jadi diri sendiri—tapi Adam sadar dia belum berani.
“Namanya Diana,
anak produksi”
“Tau dari mana loe?”
“Pertama tiba di kantor ini dompet aku jatuh di parkiran,
ternyata anak itu yang nemuin dan aku
baru taunya minggu kemaren”
“Lalu what!”
“Engga taulah, yang pasti aku suka aja kalo liat anak
itu”
“Dia itu Fresh
graduate Dean, dia masih teenager”
“Tau lah mungkin aku yang kelewat konyol, naksir anak yang harusnya lebih cocok
jadi adik aku”.
Adam terdiam lagi. Bukan
itu yang sebenarnya mau dia omongin sama Dean. Tapi Adam berusaha menahan
lidahnya. Setengah melempar papperwork
ditangannya ke depan Adam, Dean tersenyum simpul.
“Kenapa kamu jadi
kaku gitu”
“Entah lah Dean gue kehabisan kata-kata. Tapi loe cuma
iseng khan?”
Dean mendesah,
meletakan pantatnya disisi Adam seraya menepuk bahu teman baiknya ini. Sebentar
kemudiam mengambil minuman kaleng dari kulkas kecil yang ada tepat disebelah
kirinya.
“Aku tau apa yang kamu pikir Dam”
Adam ikut mengambil minuman ringan, belum lagi
menenggaknya dia tersentak dengan kata Dean. Hampir minuman itu terjatuh dari
genggamanya.
“Status sosial”, sambung Dean padahal pelan.
Yup, tepat jawab Adam
dalam diam. Dia masih terbatuk-batuk, Dean tertawa lepas.
Kalau boleh jujur Adam
sadar kok banyak juga anak-anak produksi yang lumayan manis dan cantik,
walaupun mereka berpenampilan sederhana. Tapi kalau harus terang-terangan
naksir dan dilihat orang, apalagi rekan sekantor? waduh entar dulu deh. Bisa
menjatuhkan pangsa pasar, genggsi dong!! Apalagi kalo harus dikomper sama Laura atau minimal Mitha. Huh,,, Adam
lebih milih makan perasaan daripada jatuh genggsi. Terdengar konyol ? Tidak
juga.
* * * *
“Itu siapa bu?”, Dean mencoba mengatur otaknya untuk
tenang.
Bu Desi sedang merekap
daftar absen karyawan, tersenyum tipis. Malam ini sebenarnya bukan jatahnya
untuk piket menjaga anak shif malam dan memang tidak pernah. Karena ‘menjaga’
adalah bagian dari job desk staf HRD
saja. Akan tetapi demi mengikuti permohonan Dean untuk menemaninya melihat
produksi malam hari wanita dengan kacamata lumayan tebal itu luruh.
“Itu Aris dia anak Quality. Kalau kamu tegesin mukanya
pasti kamu kenal lah, dia itu udah hampir 3 tahun kok disini”.
Dean diam, bukan
masalah itu yang dia mau tau sebenarnya tapi bagaimana Dean perhatikan dari
ruangan ini kalau lelaki itu terus dekat
pada Diana. Seharusnya control
checking produk tidak dilakukan dengan posisi sedekat itu. Pikirnya lagi. Dean
tidak lagi bertanya, ada secuil kesal didadanya. Walau dia tahu alasanya tapi
Dean berusaha menutupinya.
* * * *
Waktu terus berjalan, tipuanya
dengan sering menumpang di bus jemputan mulai membuat tidak nyaman hubungan
pertemanannya dengan Adam. Sandiwara dengan ‘menggunakan’ Cleo sebagai alasan
untuk memutuskan hubungan dengan Laura juga masih tidak efektif. Laura masih
memaksakan perasaanya terhadap Dean. Padahal sejak 6 bulan bertugas di luar
negeri Dean sudah memutuskan hubunganya dengan Laura. Alasanya, khilaf
terlanjut merajut cinta lokasi dengan seorang gadis pirang berkulit putih
bernama Cleopatra. Walau sadar dicampakan Laura tidak juga menunjukan sikap
mundur barang selangkah, harga dirinya sebagai gadis idaman semua pria tidak
memperbolehkanya menerima nasib dengan semudah itu. Laura masih berjuang atau
paling tidak harus terus menjaga image
bahwa tidak ada yang berubah dari hubungan antara si Putri cantik dan pangeran
ganteng. Bahwa setampan-tampanya Dean, dia bukan orang yang punya bargain power untuk mengakhiri kisah
ini. Laura masih kuat memegang prinsip itu dan menjaganya dengan baik.
Tapi waktu juga tidak
lagi bisa membuat Dean membohongi dirinya lagi, dia yakin dengan perasaanya.
Dean merasa sudah waktunya untuk jujur.
“Just can’t stant
it”, dasahnya ditempat gym.
“Gue gak mau
komentar apapun, yang pasti jangan sampai loe bertindak bodoh. Diana itu engga
kenal loe, ada apa dia sama si Aris itu kita juga gak tau. So kendalikan diri loe. Kalem man,
don’t be silly Man”.
Dean meletakan dumbel 2
kg tersebut, menarik nafas pelan untuk relaksasi.
“Heh, aku gak
sangka diusia yang udah nyaris kepala 3
gini, aku malah jadi sentimental”, matanya seperti berpikir tajam.
“That’s what’s call
love”, Adam mengangkat bahu. Seperti tidak yakin dengan jawabanya.
Melanjutnya tarik beban dengan tumpuan bahunya yang kokoh.
“Gue kacau ya?”,
kalimat Dean seperti tertahan.
Adam menarik nafas
panjang, berhenti sesaat dari exercisenya.
“Gue mau loe tau, loe selalu jadi orang yang gue kagumin
Dean. Gue salut loe berani jadi diri loe sendiri. Loe berani nunjukin siapa
diri loe, gue mungkin belum seberani loe Dean. So apapun selanjutnya, gue selalu dukung keputusan loe”.
“Hmmm,
setelah gue perhatiin, kelihatanya Diana emang anak walaupun sederhana”, sambung Adam, ada
ketulusan terpancar dari matanya.
Mereka ber high five, “thanks Dam”.
“Go head man, star
your war”, kembali Adam tersenyum
tulus.
* * * *
“Kamu yang nemuin dompet saya waktu itu ya?”.
“I... iya pak”, wajah putih gadis itu Nampak pucat. Bagaimana
tidak, belum ada sejarahnya seorang Manager Exim bertegur sapa dengan orang produksi
secara formal dan langsung begini.
“Kamu engga usah panik gitu dong”, Dean jadi merasa
sedikit bersalah.
“Hmm…”, Diana hanya mesem. Kepalanya masih tertunduk
dalam-dalam.
Rambut hitamnya
digelung penjepit, beberapa ekor anak rambut jatuh dipipinya. Menurut Dean itu seksi,
kaos putih membalut tubuh kecil itu, Dean
baru sadar ternyata Diana itu mungil. Tingginya hanya sampai sebahu nya.
Celana jeans semi ketat memadu pantas ditubuh kecilnya.
“Saya suer gak ngambil apa-apa lho pak”, dengan suara
agak ditekan Diana memecah kesunyian, Diana menggigit bibirnya, berasa ngilu
dengan sepi ini.
“Oh, it’s not about
that. Sorry sorry... I lost nothing. Aku eh saya… eng ngg bahasanya enakan
mana ya, manggilnya apa ya?”, Dean terkekeh.
Diana tidak bisa
menahan senyum, rentetan gigi putihnya menyembul manis.
“Terserah bapak aja, aku atau saya khan artinya sama aja”.
Alis Dean terangkat,
sudut bibirnya terangkat angkuh tapi kalinya siratnya hangat.
“Oh, oke oke. Aku eh Saya cuma mau bilang thanks”.
Tangan Dean terjulur
untuk menjabat, senyum manis Diana terkembang lagi. Mendadak Dean jadi salah
tingkah sendiri. Jabatan tangan itu terasa seperti aliran listrik bertegangan
tinggi yang membuat tangan mereka tidak bisa terkenaan lebih lama dari 2 detik.
“Kebetulan aja kok pak, gak penting kok”, suara Diana
masih terbata hanya sesekali dia berani mengangkat kepalanya. Seperti menyadari
bahwa lawan bicaranya seorang pimpinan Diana berusaha lupa kalau lelaki itu ganteng, dan melupakan
naluri perempuanya untuk mempertegas dimana garis-garis kegagahan itu secara
pasti.
“Apanya nih yang engga penting? dompet saya atau sayanya”,
seharusnya Dean bermaksud untuk sedikit mencairkan suasana dengan sedikit
guyon.
“Eh.. anu, maksud saya, engga pak bukan.. bukan, saya
engga maksud..hmm”, wajah itu semu merah, benar-benar anak intovert. Guyonan
Dean malah membuat Diana langsung mati kutu.
“Maaf pak, saya… tidak, maaf..”, kemudian Diana seperti
menyesali diri, sedikit mengngutuki diri sendiri. Bulir bening nyata disudut
matanya.
Entah syndrome apa ini dinamakan para ahli,
Diana tidak terbisa dengan orang baru, Diana selalu tidak pandai menyusun
kalimat, Diana terlalu sering menunduk, Diana terbiasa menabrak orang.. Diana
begitu mudah kikuk dan biasanya akan berakhir dengan mata yang sembab. Selain
degup jantung—yang jika bukan karena terbiasa—pasti bisa membuat orang pingsan
seketika.
Dering intercom
telepon. Sesaat memberi kesempatan bagi keduanya untuk menghela napas lega. Cepat
Dean menyambut.
“Gimana, sukses!!”, tidak perlu ditebak lagi.
“Gila loe, entar lagi gue telpon loe balik”, Dean senyum
sendiri.
Buru-buru Diana
menghapus bulir bening disudut matanya.
“Jangan nangis dong, aku engga ada maksud lho”, Dean juga
bingung sendiri.
Hening lagi. Diana
seharusnya sudah pulang sejak 45 menit yang lalu tapi pembicaraan yang cuma
sedikit ini ternyata lumayan menbuang waktu. Dean masih diposisi berdiri,
sedikit bersandar dimeja kerjanya. Diana duduk dipinggir bangku dan masih
dengan wajah yang tertunduk. Dean hanya bisa menatap leher gadis kecil itu.
“Pulang bareng ya… ?”, pintu ruang kerja Dean tiba-tiba
terseruak.
Wajah cantik Laura
muncul dengan ceria, walau sudah sesore ini riasan wanita cantik itu tidak
nampak memudar sedikitpun. Dean hanya
bisa ternganga karena kaget. Beberapa detik kemudian Adam setengah berlari
berusaha mengejar Laura tapi tidak ada gunanya lagi. Dan yang juga tidak kalah
kaget dan takut adalah Diana. Wajahnya
seketika lebih memucat lagi, tubuhnya bergetar, matanya terasa panas dan
dadanya sesak. Rasanya ingin secepat kilat kabur dari ruangan penuh bos-bos
ini, tapi lututnya seperti terpatri dengan sudut sofa. Telapak kakinya terasa
lengket dengan lantai.
“Ngapain kamu disini, kamu anak produksi khan?”, tembak
Laura dengan cepat, begitu sadar kalau disisi kanannya ada seorang gadis kecil
duduk dengan santai.
“Sss... sa… saya..aa.. mmm..”, lidah Diana kelu.
Laura membalik
tubuhnya, mengejar Dean dengan mata membulat. Sorot mata elang yang pernah Dean
kagumi, sorot mata yang pernah menatap Dean dengan penuh gairah dengan sebatang
rokok terselip manis dijarinya disuatu petang yang membara.
“Ngapain dia disini, apa maksudnya... kamu mgurusin anak
produksi”, Laura berputar diantara mereka, tatapanya masih sinis dan tajam.
“Engga engga La, ini gue yang mau ketemu anak ini”, Adam memotong.
Laura kembali beraksi
dengan matanya, manatap ketiga manusia didepannya dengan pongah dan penuh
selidik.
“Dalam rangka apa nih, ada udang dibalik batu. Or, jangan bilang…”, senyum sinis menungging disudut bibirnya.
Senyum penuh ejekan.
‘Dean, you must say
something… aku mau penjelasan dari kamu”, serunya dengan memaksa, nada
manja itu membuat darah Dean terdesir.
Dean merasa sangat
bodoh karena tidak ada hal yang berusaha untuk dilakukannya, malah Adam yang
terlihat berusaha membela. Diana Cuma bisa mematung dalam tangis. Walau tanpa suara
tetesan airmatanya terus membasahi wajah.
Kesal tidak juga ada
penjelasan dari 2 manusia yang biasa disematnya dengan gelar teman itu, membuat
Laura melangkah mendekati Diana.
“Kamu ini siapa, mau berganjen ganjen sama bos ya, anak
line apa sih kamu, siapa leader kamu, tau diri sedikit dong. Heh siapa nama
kamu?”
Seperti junior dalam
perploncoan, dan Laura senior yang dalam action,
semua hanya bungkam.
“Lelaki tolol mana nih yang naksir bocah ini!”, sembur
Laura panas.
“Laura..”, nyaris bebarengan Dean dan Adam.
Ketakutan dan kesedihan
yang dalam makin jelas terpancar pada wajah Diana yang polos tanpa riasan.
Jelas dia tidak punya nyali sama sekali untuk membantah, bahkan utuk mengangkat
kepalanya dia tidak sanggup. Bahunya bergerak-gerak, dadanya semakin sesak demi
menahan tangis yang nyaris tak terbendung lagi. Laura mengangkat dagu mungil
Diana.
“Kamu mau ngomprengin Bos ya, mau jadi Venus liar”.
“Laura kamu udah keterlaluan”, Dean menyesali diri, dia
tidak mampu berbuat lebih. Hanya menatap Laura dengan kecewa.
Kesinisan kembali
mengembang di wajah cantik Laura, memperhatikan Dean dari atas kepala sampai
kaki demikian juga terhadap Diana.
“Hi Boy, it’s that
all your taste”, senyumanya bermakna ejekan.
“Cewek jalang kecil, mau ngerayu Bos khan. Perempuan apa
kamu, berani-berani masuk ruangan bos, kamu tuh bener-bener gak punya malu!!”,
Laura menuding kening Diana dengan penuh umpatan.
“Laura”, sebuah tarikan spontan. Laura terjegang beberapa
langkah demi hempasan tangan Dean
“Dean, kamu gila ya?”, Adam juga terhenyak.
“Dean kamu… berani kamu bikin gitu sama aku”, Laura
merapatkan tubuhnya pada Dean. Menampar Dean dengan keras. Lalu setengah
berlari meninggalkan mereka. Plakk…
Adam terkaget. Kepala
Diana terangkat sebentar tapi jelas dia lebih sering mengatupkan bolamatanya.
Dean menahan nafas sesaat. Hening, suara hak sepatu Laura makin menjauh.
“Laura, tunggu…” Adam kebingungan. Dean menggeleng.
Akhirnya Adam menjatuhkan
tubuhnya di sofa. Diana hanya mampu termagu sambil menutupi mulutnya, shocked.
Dean masih belum bergeming dari posisinya.
“Pak maaf. Sa..saya bi..bisa pulang”, dengan segala sisa
kekuatan dan tenaga yang ada Diana membuka mulutnya untuk minta ijin keluar.
Tanpa menunggu jawaban, Diana mengambil langkah panjang untuk menjauh,
kepalanya masih belum berani terangkat. Dean dan Adam tertunduk bersamaan,
sebenarnya Dean merasa masih setengah hati dengan kejadian baru saja.
“Mas… aku takut, aku engga tau ada apa?”.
“Ssstt udah udah. Sekarang kamu tenangin dulu diri kamu”.
Diana menjatuhkan
kepalanya penuh ketenangan dibahu Aris, isak tangis yang sedari tadi ditahan
akhirnya pecah. Sesegukanya masih sesekali terdengar. Dengan lembut Aris menarik tangan Diana
menuju parkiran motor. Aris membiarkan jaketnya tergantung dibahu Diana. Agin
menjelang malam mulai mendesir.
“Udah dong sedihnya, nanti dikira bibi aku engga bisa
jagain kamu. Lagi udah malam kamu juga belum
makan lagi”, Aris seperti menyalahkan situasi.
“Nanti kita terusin ceritanya dirumah”. Aris mengatur
motornya agar bisa keluar dari tempat parkir tanpa mengganggu beberapa motor
security yang sudah berjejer disebelahnya.
Belum lagi Diana bisa membuka
mulutnya hanya linangan airmatanya yang masih jatuh satu-satu. Rembulan petang
membuat air bening itu berkilat-kilat diwajah Diana.
Mereka berpapasan dengan Dean dan Adam di area
parkiran mobil.
“Malam pak”, sapa Aris hormat sembari mendorong motor.
Diana hanya tertunduk disebelahnya, tidak berani menatap para bos yang beberapa
menit yang lalu dihadapinya diruangan atas dengan sebuah ‘drama’.
“Oh, malam juga. Belum pulang kamu”, balas Adam tenang.
“Saya habis nunggu temen pak, mari pak udah malam”.
“He eh..”, senyuman bos seorang Adam terpasang. Dean
memaksa tersenyum.
Diana semakin
merapatkan tubuhnya pada Aris, masih mencoba melupakan kejadian beberapa menit
yang lalu. Nampak wajah Pak Dean dan Pak Adam juga sudah sangat kelelahan.
Dean hanya diam dalam
mobilnya, Adam berusaha mengerti.
“Calm down Man,
Diana itu cantik. Wajar kalo udah punya pacar”, ujar Adam pelan seperti membaca
kegalauan hati Dean demi pemandangan baru saja diparkiran.
Dean menunggu sampai
motor lelaki itu lewat, hanya untuk melihat hal yang dia tau dia tidak mau
lihat.
“Argg… semua berantakan. Anak itu malah ketakutan”,
sesalnya.
Adam menstater mobil,
lalu merayap pelan dibelakang sepeda motor hitam Aris. Sampai akhirnya terpisah
di perempatan jalan. Dean masih sempat menatap punggung Diana sebelum Adam mengambil
arah jalan tol, sedangkan mereka
memasuki jalan umum.
Tidak ada hal yang
terlalu istimewa sama anak itu, tapi entah kenapa Dean tertarik. Padahal semua
orang menjulukinya si ceroboh, si kikuk, si bodoh. Betapa tidak, entah
menyenggol mangkok di jam makan, menginjak kaki orang di mobil jemputan,
terkunci dikamar mandi bahkan hampir tiap hari anak itu menabrak orang yang
berpapasan dengannya, baik di line kerja sampai di area parkir.
Seperti tadi, Dean
bahkan bisa mencium wangi rambut
hitamnya yang panjang itu karena anak itu bahkan tidak mengangkat
kepalanya ketika berjalan. Entah apa yang pasti
tapi gadis ABG itu seperti
memikat Dean dengan segala ‘kelemahan’nya.
Diana bergidik,
mengingat hal tadi. Mencoba melupakannya dengan memejamkan mata tapi tidak
membuahkan hasil. Seminggu sejak melihat pak Dean,sebagai orang kontak baru
gadis itu setuju dengan semua yang
dikatakan orang-orang lama.
“Manager paling ganteng, yang baik hati”.
Ya ya, sangat baik
hati. Beberapa kali tanpa sengaja Diana menabraknya di ruang quality. Bahkan 2
kali menginjak kakinya waktu di bus jemputan. Bukan kecelakaan yang menyenangkan
sebenarnya, karena setelahnya tidak sedikit staff yang menegur dengan ketus kecerobohoanya
tersebut. Diana sudah berusaha lebih hati-hati tapi tetap saja salah satu
kebiasaan buruknya itu terukang lagi.
Dan seperti biasa pula hanya
senyuman yang sangat teramat manis itu yang terlontar dari wajah pak
Dean. Padahal beberapa orang dibelakang complain dan complain.
Diana cepat membuka
kelopak matanya yang nyaris terpejam, hembusan angin menapar pelan wajahnya.
Motor Aris melaju lambat, sepupu gantengnya itu terus berbicara tapi Diana
terlalu hanyut dalam angannya untuk mendengarkan kata-kata Aris dengan seksama.
Waktu tanpa sengaja
menemukan dompet coklat yang ternyata milik pak Dean diparkiran, bukanya tidak sejuta bunga
tiba-tiba bermunculan di hati Diana. Mungkin kesampean juga mimpinya utuk
bertatapan langsung sama manager ganteng yang baik hati itu. Walau dia sadar kalau
nyalinya tidak akan sebesar itu.
MIMPI KALI YE… hati
kecilnya meledek dengan seringai.
Bahkan untuk membayangkannya
saja Diana malu sendiri.
“Bener
kata Bu Laura, akau harus tau diri“, teriaknya berkali-kali dalam hati.
Tapi memang pikiran itu
yang menggoda hatinya, angan-angan konyol mengelitik dikepalanya. Jika,
seandaninya, mungkin, mungkinkah kalau tadi Bu Laura tidak keburu datang ‘mungkin’
Pak Dean bermaksud mengajaknya pulang
bersama.
Diana merasa malu
sendiri dengan mimpinya itu, tapi memang hayalan itu sempat terbersit kok.. Dia
mencoba melupakannya dengan membenamkan wajahnya dibalik jaket merah milik Aris.
“Ah…” desisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar