Selasa, 17 April 2012

Angan di penghujung petang


Setiap kebijakan baru pasti akan selalu membawa suasana baru juga. Dan tidak terkecuali disemua aspek kehidupan. Tidak juga terkecuali pada satu orang. Seperti saat ini. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi keaktifan Jakarta sebagai kawasan Industri yang bepolusi, apalagi jika perusahaan tersebut berada di tengah-tengah kota Jakarta. Maka Perusahaan tersebut diharuskan ‘sedikit’ bergeser lokasi di pinggiran kota, demi bagian dari implementasi peraturan .

Alkisah agar kebisingan dan polusi suasana kota bisa sedikit berkurang. Yang sedikit  merasa terusik dengan peraturan baru ini adalah Dean, seorang eksekutif muda salah satu perusahaan milik asing besar di kota Jakarta. Lelaki itu harus mulai menyusun sebuah program  baru untuk  mengantarnya tiba di kantor sesuai jadwal. Sia-sia sudah pilihanya untuk tinggal disebuah apartemen dengan lokasi cantik dekat dengan kantornya terdahulu.
            “ It’s not a good story to starting a day?,” gerundelnya berkali-kali.
            “Cerewet amat sih lo Dean. Take it esay man, entar juga terbiasa”.
            “Yeah,” balas Dean lebih mirip erangan pelan.

Adam masih tidak perduli dengan gerutu Dean sepanjang jalan, dia masih asyik menikmati tembang lawas milik Toto sambil sesekali mengiyakan tanpa arti semua omelan Dean. Kebulan asap rokok diantara jendela mobil yang setengah terbuka dan AC mobil yang antara hidup dan mati, benar-benar melehakanya seorang diri.

Sudah sebulan lebih sejak kantor Dean berpindah dari tengah-tengah kota Jakarta ke pertengahan kota antara Jakarta dan Jawa Barat, dan hampir setiap hari pula selalu ada ganguan yang cukup berarti dijalan. Maka dipastikan hampir setengah absennya tidak lagi sesuai jam kantor yang semestinya. Untuk orang yang ferfeksionis terhadap perekerjaan seperti Dean, jelas ini cukup  mengusiknya.

* * * *

            “ Guys besok meeting ya, si Bos minta monthly report soal masalah kemarin di dahulukan, mumpung mister bule lagi di Indonesia,” Si cantik Laura menyembul dari balik pintu. Adam yang memang dasarnya punya otak sedikit ngeres, segera bangkit dan memberi tempat buat Laura disampingnya.
            “Apa sih kamu Dam? kurang ajar”, kalimat yang tidak sesuai dengan apa yang terpancar dari  wajah Laura yang senyum mesem, demi tangan jahil Adam yang menepuk pantatnya.
            “Hi Dean met siang, serius amat ngerjain apa sih?”, Laura mengambil posisi tepat dihadapan Dean. Blazer biru terang yang setengah kancingnya terbuka itu jelas menampakkan dada Laura yang mulus dan seuntai  mutiara bermata mungil membuat penampilannya luar biasa. Dean sedikit menelan ludah.

Omong kosong kalau orang tidak akan tertarik dengan Laura. Selain penampilanya yang memang sexy, ada suatu dimata birunya yang selalu membuat setiap lelaki seolah  tersihir. Sudut bibirnya yang berbicara tanpa kata, senyumanya yang liar dan geliatnya yang manja. Semua tentang Laura adalah impian laki-laki normal. Dan Dean termasuk seorang pria yang pernah terlena dengan tatapan genit Laura yang seperti tadi. Adam juga, ah rasa-rasanya hampir separuh lelaki yang ada di kantor ini merupakan pengagum kecantikan Laura.

            “Nanti pulang bareng ya”, suara manja Laura disebrang telepon. Tanpa arti Dean mendesah. Mengangguk mengiyakan.
            “Dean, kamu denger gak sih, mobil aku  masuk bengkel nih”.
            “Oh iya sorry, silahkan lady. Be my guess”, balas Dean ramah.
Belum lagi satu menit gagang telepon itu tertutup ditempatnya, line intercom  Dean sudah bunyi kembali. Line Adam muncul dilayar telepon.
            “Pasti Laura, ngajakin lo pulang bareng”, terabasnya dengan cepat.
Dean tersenyum sinis, dasar musuh dalam selimut batinnya terkekeh  lucu.
            “So what?”, ucapan Dean datar.
Sesungguhnya Dean tahu—tapi entah untuk maksud buruk atau baik hanya Tuhan saja yang tahu— kalau Adam sesungguhnya bukan saja naksir   Laura, tapi dia tergila-gila, dia terobsesi dengan seorang Laura. Tapi ironisnya Laura seolah tidak pernah cukup perduli, walau pastinya Laura sudah bisa merasakan kalau Adam sudah mengusahakan semua tehnik PDKT yang dia bisa terhadap Laura.

            “Please Dean dia masih  naksir elo, ladenin dong”, ada nada memelas diaura suara Adam. Tapi Dean tau pasti tidak ada ketulusan didalamnya.
            “Basi kalimat kamu Dam, aku nih udah bukan ABG lagi”, Dean menggeleng.
            “Yah, daripada gue gak bisa dapetin dia paling engga loe ajalah. Loe jaga dia buat gue, gue tau loe orang baik Dean”, dengan gayanya yang ‘sok tua’ Adam menatap Dean dengan lamat-lamat, seolah ada perjanjian diantara mereka. Dean malas meladeni kegilaan Adam, dia milih untuk diam.

* * * *

“Pagi pak, gimana dinas luarnya?”, Paramitha, salah satu staf department accounting  yang imut-imut. Perawakannya mengingatkan pada sosok cantik yang mungil, Yuni Shara.
            “Hai, kapan pulangnya pak?”.
            “Musim apa di Jepang?”.    

Berbagai sapaan manis Dean terima nyaris sepanjang bulan ini, selain karena memang dia baru pulang dari luar negri setelah 2 tahun ikatan dinas, Dean termasuk salah satu manager yang selain ramah juga ganteng. Tidak sedikit yang menganggap Dean dan Laura  adalah pasangan yang sangat serasi. Status sederajat, keindahan pisik pun sama-sama bisa disandingkan. Walaupun Laura terkesan lebih berkelas karena sikapnya yang sedikit angkuh berbeda dengan Dean yang terkenal sebagai ‘bos merakyat’.

            “Ngapain aja lo kemaren?”, Adam mengawali percakapan dengan Dean tidak dengan hangat. Mendadak rekan yang secara jabatan sesungguhnya masih satu level lagi dibawah Dean itu menyeruak masuk ruangan. Tanpa salam tanpa senyuman, duduk dengan tatapan penuh curiga di bangku  tamu, tepat didepan meja Dean.

            “Ya ngapain ya... menurut kamu kalo 2 orang dewasa berduaan ngapain, apalagi semalam aku banyak kerjaan, jadi kita baru balik sekitar jam 9an?”.
Dean malah sengaja membolak-balik document ditangannya, berpura-pura lebih sibuk lagi. Dering telepon memutuskan percakapan mereka pagi itu, Adam meninggalkan ruangan Dean dengan agak kesal. “Ketemu dikantin tar siang”, dengan bahasa tubuhnya Adam member isyarat  pada Dean yang masih online di telephone.

            “Kalian having sex?”, entah ini lebih mirip pertanyaan atau jawaban dari Adam  atas pertanyaanya sendiri pagi tadi. Terlontar dengan seenaknya, lalu sesendok penuh nasi masuk mulutnya. Percakapan makan siang yang tidak menyenangkan, pikir Dean. Agak memicing mata Dean kemudian menggelengkan kepalanya, dia bukan tipe pria yang suka berkisah apalagi berdebat. Karena tau benar perasaan Adam terhadap Laura, Dean juga sudah membaca alur pertanyaan Adam. Lagi-lagi Dean memilih diam. Akhirnya sedikit bersuara juga, lebih seperti statement pendek.
            “Sinting , emangnya kamu. That’s all on your mind”.
            “Oh come on Dean, siapa yang gak kepengen tidur sama Laura”, dalam bisik Adam menekankan suaranya, wajahnya mendekati wajah Dean.
            “Not this case again, folk”, Dean menarik wajahnya agak menjauh.
Adam menyeringai jahat, “ Not again. Kenapa?”.

Dean terkekeh pahit, ucapan Adam barusan kembali menggugah hati  kecilnya, membangunkan alam bawah sadar yang ingin terus ditidurkannya. Sebuah memory yang Dean sendiri tidak cukup menikmati untuk mengingatnya. Sebuah kesenangan dan kekonyolan yang  kemudian menguatkan  sudut pandangnya terhadap perempuan. Sampai saaat ini. Dia tahu ini tidak adil, tapi rasa itu memang memaksanya untuk hidup dalam ‘pilihan’ menjadi tidak adil itu.

Seharusnya setelah pesta New Year  2 tahun lalu, Dean dan Laura akan meresmikan bertunangan mereka setelah masa pacaran  singkat yang manis. Pesta yang diadakan sejak sore memang meriah dan menghibur semua pengunjung. Setelah puncak menyambut kedatangan tahun yang baru, beberapa orang teman laki-laki—saat itu Adam tidak ikut— mengadakan permainan antar lelaki.

Dimana se-sloki minuman alcohol taraf tinggi menjadi ‘hukuman’ untuk setiap kesalahan permainan. Mirip Rusian Roulete dengan memutar botol sacara acak. Entah kenapa dan bagaimana setelah berkali-kali berpindah tempat, kesialan terus mengejar Dean. Setelah setengah mabuk selanjutnya bukan lagi permainan ‘laki-laki’ tapi lebih kekonyolan para lelaki. Malam itu beberapa rekan-rekan sejawat Dean menikmati mempermainkan si anak baik ini sampai mabok tingkat tinggi.

Setelah berapa lama tubuh Dean semakin terasa panas dan tiba-tiba ada gairah penuh menjalar. Sampai hari ini pun Dean tidak pernah mempertanyakan, “ada apa dengan sloki terakhirnya dan siapa peramu minuman panas itu?”.  Lampu disko masih lagi berkilat-kilat, tawa-tawa ceria makin membahana dan bau minuman beralkohol makin menyengat. Kelihatan mereka semua memang mabok berat, tapi ada hasrat yang lain memperkosa Dean dalam mabuknya.

Setelah mencumbu Laura dibawah ayunan lampu dan music yang sepertinya seirama, ditariknya tubuh Laura yang juga hangat dengan gelora menuju kamar. Dean yakin kalau saat itu dia tidak bercinta kepalanya akan pecah, dan Laura adalah kekasih yang sangat baik. Tanpa ada argument dan penantian sedikitpun, malam itu mereka lalui dengan masyuk.

Dean lupa protokolernya secara pasti sampai keesokan malamnya, setelah semua kepenatan-nya sedikit berkurang. Dia mendapati tubuhnya dan Laura hanya dalam balutan seprei.  Lamunan Dean  tiba-tiba buyar.

            “Ma…  maaf, sa… saya engga sengaja bu”.

* * * *

“Maaf….”, suara yang sama dengan  gesture yang tidak jauh berbeda dengan yang Dean lihat seminggu yang lalu. Ditempat yang berbeda tapi juga ditempat yang  sama.  Dean dan Adam sama –sama berbalik ke arah suara itu. Seorang gadis dengan seragam kerah  biru tebal  menjatuhkan mangkuk sayur Paramitha. Terlihat bolamata Mitha membesar, seandainya jam  istirahat  tidak seramai ini dia pasti akan mendamprat anak itu berkali-kali.
            “Siapa tuh?” Dean menyeruput  soft drink-nya..
            “Mitha”, Adam  membalas sekenanya. Menurutnya tidak ada yang istimewa dengan kecelakaan kecil barusan.
            “Aku juga tau Mitha bung. Bukan dia, tapi  anak yang nabrak dia?”.
“Oh..”, hanya itu yang terlontar dari mulut Adam, seperti tidak perduli dengan pertanyaan Dean. Adam masih menikmati makan siangnya dengan seksama.
Dean masih belum melepaskan tatapannya dari anak itu. Dia nampak jadi salah tingkah. Selain banyaknya mata yang menatap mereka sejurus juga seragamnya yang setengah basah. Demi statusnya yang lebih tinggi Mitha masih bisa menunjukan kemarahan dengan ekor mata dan kesinisan kata-katanya. Kemudian si gadis tadi bersama seorang temannya mengambil duduk dipojok, dekat jendela, menjauhi rombongan Mitha yang terus mengekor dengan sorot mata panas. Jelas tersirat ketakutan dan malu yang tertahan dipias wajahnya.

* * * *

Seharusnya ini adalah hari yang indah, entah apa yang Adam lakukan terhadap mobil yang  kemarin dipinjamnya. Yang pasti sejak pagi tadi sedan dengan merk Jepang itu ngambek. Bunyi mengkerit-keritnya yang sudah berulang tetap tidak membangunkan sang mesin yang terlelap. Dean melempar tatapan bertanya pada Adam.
            “Sumpah Dean, masa iya gue ngisengin mobil lo”.
            “Aku gak nyalahin kamu kok, asal kamu tau aja mobil aku masih dibengkel. Jadi pastinya hari ini kita perlu jalan lebih pagi untuk nunggu jemputan”.
            “Hah, kenapa gak telpon Laura aja, dia pasti bawa mobil”.
            “Please, kalo kamu  mau. Aku mau siap-siap ketempat jemputan”.
            “Taxi khan banyak man?”, Adam masih belum bisa terima kenyataan bahwa dia akan naik bus jemputan. Bus besar yang hanya akan dia naiki jika semua kendaraan didunia ini mogok. Itu janjinya pada dirinya sendiri.
 Dean mengangkat alis matanya dan meninggalkan Adam dalam kebingungan, dengan menahan kesal Adam mengikuti langkah Dean menuju kamarnya dilantai 5.
“Salah hari nih numpang nginepnya”, sesalnya berkali-kali.

* * * *

Entah sebuah kemajuan atau kebodohan. Sejak hari Dean mendapati dirinya dan Laura dalam keadaan yang tidak bisa dibilang bisa itu, segala simpati dan rasa cinta Dean menguap terhadap Laura. Hari-hari yang berjalan, kemudian kepindahanya ke luar negeri demi tugas, semua seperti menjadi alasan tambahan. Kemudian berpuncak ketika di luar negeri Laura sempat mengabarkanya sebuah berita berita.   
            “Aku sih engga yakin juga kalu aku hamil Dean, aku Cuma gak nyaman aja dengan kondisi aku belakangan ini”, cerita Laura dengan enteng ketika Dean mempertanyakan kegunaan dari beberapa obat yang diceritakan Laura.
            “Just inchase darling..”, dan tawa renyah Laura yang biasanya menghapus semua gundah dihati Dean seakan menjadi auman singa lapar yang tidak puas setelah memakan anaknya sendiri.

Sejurus kemudian Dean merasa rendah, karena dia sudah melanggar komitmennya sendiri. Komitmen untuk tidak akan menggauli gadis yang belum menjadi istrinya. Dan yang lebih membuat simpatinya terhadap Laura hilang adalah kenyataan bahwa kesalahan yang mereka pernah lakukan coba ditutupi dengan ‘kesalahan’ yang lain lagi. Dan kemudian Dean juga sadar ini bukan pertama buat Laura. Lamunan  Dean terhenti, kakinya terijak.
            “Eh sory pak, sorry… maaf, saya engga sengaja”.

Anak itu terbungkuk menjumput tasnya yang jatuh, rambut hitamnya tergerai. Tubuh Dean yang lumayan besar cukup mengganggu langkah orang untuk maju dalam bus jemputan tersebut.
            “Loe sih, udah gue bilang jangan deket pintu”, Adam setengah  ngomel.
            “Lagian coba kalo kita naik mobilnya Laura, engga bakal sengsara gini deh”, sambungnya lagi, masih dengan rasa tidak puas.

Bus berhenti.
            “Morning  Dean, lho tumben naik jemputan,” bu Desy, wanita setengah usia itu adalah salah satu teman baik Dean yang lain. Dengan segala kedewasaan dan pengertian yang dalam biasanya asisten manager personalia berperawakan tambun itu sealu menjadi last shelter Dean setelah  dia merasa mentok dengan Adam.
            “Pagi Bu Desy”, sapa Dean dengan hangat.
Dengan ekor matanya Dean mencoba menangkap wajah orang yang menginjak kakinya tadi. Gadis yang kemarin menabrak Mitha. Banyak geram yang tertahan mulai terdengar dibelakang.
            “Kamu itu ceroboh banget sih”, bisik-bisik yang tidak pelan. Dean bisa mendengar suara itu. Dan beberapa komentar kesal lainnya. Entah sebuah simpati pada Dean atau memang omelan yang tertunda buat si gadis itu.
.
* * * *

            “Aku mau pulang dengan naik jemputan”, ucap Dean datar.
            “WHAT! Are you nuts”, Adam kebakaran jenggot.
            “Kenapa sih kamu Dam, aku kan gak bilang pulang mau jalan kaki tapi naik jemputan. Oke,,, kalau aku bilang  mau pulang jalan kaki baru namanya. I am nuts”.
Dengan entengnya Dean kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Adam masih ternganga keki, aneh dan semua yang tidak umum dia dengar. Seharusnya dia mampir keruangan teman ini untuk minta dirayukan Laura, agar sepanjang minggu ini mereka diperbolehkan menumpang mobilnya. Dan Adam yakin, permintaan Dean akan selalu tak tertolak oleh Laura. Tidak pula dicari asal muasalnya.
            “Loe ngejatohin martabat manager Dean”, Adam menahan kesal dalam suaranya. Berlagak santai dan tenang tapi hatinya sudah gondok sekepalan tangan.
            “Engga terbalik tuh bung… aku  justru  menunjukan kesahajaan seorang manager”, diplomasi Dean.
“Apalagi manager ganteng en keren kaya gue”, Dean tau Adam paling keki dengan kalimatnya barusan. Kemudian pura-pura cuek.
            “Oh yeah. I see…” Adam keabisan kata-kata. Mukanya terasa panas, kuping terasa sakit dengan kalimat barusan Dean. Ganteng, heh…

Adam sebenarnya tidak kurang ganteng daripada Dean. Mereka sama-sama punya bodi yang oke, tampang juga oke. Adam lebih kepada manis sedangkan Dean mungkin karena sedikit berdarah kauskasia kelihatan lebih ganteng. Litle bit only. Soal tajir, emang Adam kalah satu level sama Dean. Tapi soal selera Adam dua tingkat diatas Dean. Keduanya terdiam, suara tuts computer Dean seperti memecah kesunyian. Adam membolak-balik buku tentang keberangkatan kapal yang tidak dia pahami sama sekali. Mau langsung balik ke meja tidak etis, masih sedikit jaga gengsi.

* * * *

            “Cleo nelpon semalem”, kata Dean memulai.
            “Baguslah, kalo loe emang udah engga mau sama Laura sama bule itu aja”.
Dean mendesah agak kesal, menatap Adam dalam-dalam.
            “Apaan  loe.  Ada yang salah sama kata-kata gue”
Dean menghela nafas dalam-dalam, seulas senyum  tipis tapi penuh arti mengembang diwajahnya.
            “Dam, this is my last word”.
Adam menganguk dalam diam yang penuh pengertian. Memang Adam seperti  memancing Dean untuk terus mengucapkan kalimat ini.
            “Laura was my past,  swear I didn’t love her anymore. And for that, I mind it
            “Iya gue tau lo serius Dean”, Adam setengah memelas.
Seulas senyum tipis tersungging malas disudut bibir Dean.
            “Lo khan tau gue udah  lama suka banget sama Laura”
            “Sorry tapi aku gak kira  kamu serius, I think you just kidding for her”.
Adam membanting  tubuhnya disofa kerja Dean.
            “Tapi gue yakin Laura masih cinta mati sama loe”.
            “Itu hak dia, never mind”.
            “Dan dia engga bakal terima cinta gue”.
            “Itu masalah Loe”, sambar Dean cepat.
            “Harusnya ini jadi  masalah kita Dean, karena dia bandingin gue sama loe?”.
            “Dam… gue ngomong ini sama loe buat yang terakhir kalinya, kalo sampe loe nanya soal masalah  Laura lagi,  I’ll kick your ass”, sembur Dean kesal.
Adam terhela, Dean  menarik nafas panjang.
            “Aku sudah melanggar komitmen, dan yang paling engga bisa aku terima adalah… Laura mengganggap semua ini biasa. I was love her, tapi ternyata prinsip kita beda, aku udah sumpah sama diri sendiri untuk menjaga gadis yang bakal jadi istri aku. Never hurt her apalagi merenggut kegadisannya”.
            “Laura  mau ngelakuin ini pasti gara-gara cintanya sama lo Dean”.
            “Whatever, tapi gue sendiri merasakan kalau itu adalah bagian dari kebiasaan dia. Sorry man, gue gak bisa berdamai dengan ginian”
            “Loe  terlalu menghakimi Dean”.
            “Dam loe denger ya, if I need sex I’ll do it with others. Gue akan bayar setinggi dia mau, tapi sekali lagi gue  bilang. Tidak dengan  wanita yang akan nemenin gue sampai beranak-cucu. Tidak dengan perempuan yang bahkan tidak sayang dengan bakal anaknya sendiri. Harga diri aku  belum bisa nerima kalau gadis yang harus jadi istri aku  seperti itu. Aku gak bisa Dam, bukanya aku gak nyoba… memang gak bisa”. Beban Dean seperti terpajang dibahunya.

Adam ikutan terdiam. Kalau boleh jujur Adam sendiri sebenarnya ragu dengan perasaannya sendiri. Kadang dia yakin kalau dia cinta mati sama Laura, tapi disisi lain Adam sadar kalau memang Laura sedikit  ‘liar’ walaupun selama ini Adam  menanggapiya sebagai sebuah kewajaran karena dasar segala daya tarik laura. Tapi sampai kapan Adam bisa mentoleransi ‘kenakalan’ itu, Adam juga tidak berani menjawab,

* * * *

            “Hah, lo gak serius khan?”, mata Adam terbeliak, mulutnya mengnganga.
            “I don’t know, but its bother  me a lot
Adam tidak tau harus bersikap bagaimana. Selain kebaikan Dean hal seperti inilah yang selalu  membuat Adam terkagum pada sosok seorang Dean. Pemikirannya yang agak konservatif. Adam sendiri sama sekali bukan penganut paham tersebut tapi jauh didasar lubuk hatinya Adam—tidak bisa berbohong bahwa dia berharap cukup confidence untuk bisa jadi diri sendiri—tapi Adam sadar dia belum berani.
            “Namanya  Diana, anak produksi”
            “Tau  dari  mana loe?”
            “Pertama tiba di kantor ini dompet aku jatuh di parkiran, ternyata anak itu yang nemuin dan aku  baru taunya minggu kemaren”
            “Lalu what!
            “Engga taulah, yang pasti aku suka aja kalo liat anak itu”
            “Dia itu Fresh graduate Dean,  dia masih teenager
            “Tau lah mungkin aku yang kelewat  konyol, naksir anak yang harusnya lebih cocok jadi adik aku”.

Adam terdiam lagi. Bukan itu yang sebenarnya mau dia omongin sama Dean. Tapi Adam berusaha menahan lidahnya. Setengah melempar papperwork ditangannya ke depan Adam,  Dean  tersenyum simpul.
            “Kenapa kamu  jadi kaku gitu”
            “Entah lah Dean gue kehabisan kata-kata. Tapi loe cuma iseng khan?”
Dean mendesah, meletakan pantatnya disisi Adam seraya menepuk bahu teman baiknya ini. Sebentar kemudiam mengambil minuman kaleng dari kulkas kecil yang ada tepat disebelah kirinya.
            “Aku tau apa yang kamu pikir Dam”
Adam ikut  mengambil minuman ringan, belum lagi menenggaknya dia tersentak dengan kata Dean. Hampir minuman itu terjatuh dari genggamanya.
            “Status sosial”, sambung Dean padahal pelan.
Yup, tepat jawab Adam dalam diam. Dia masih terbatuk-batuk, Dean tertawa lepas.

Kalau boleh jujur Adam sadar kok banyak juga anak-anak produksi yang lumayan manis dan cantik, walaupun mereka berpenampilan sederhana. Tapi kalau harus terang-terangan naksir dan dilihat orang, apalagi rekan sekantor? waduh entar dulu deh. Bisa menjatuhkan pangsa pasar, genggsi dong!! Apalagi kalo harus dikomper  sama Laura atau minimal Mitha. Huh,,, Adam lebih milih makan perasaan daripada jatuh genggsi. Terdengar konyol ? Tidak juga.
           
* * * *

            “Itu siapa bu?”, Dean mencoba mengatur otaknya untuk tenang.
Bu Desi sedang merekap daftar absen karyawan, tersenyum tipis. Malam ini sebenarnya bukan jatahnya untuk piket menjaga anak shif malam dan memang tidak pernah. Karena ‘menjaga’ adalah bagian dari job desk staf HRD saja. Akan tetapi demi mengikuti permohonan Dean untuk menemaninya melihat produksi malam hari wanita dengan kacamata lumayan tebal itu luruh.
            “Itu Aris dia anak Quality. Kalau kamu tegesin mukanya pasti kamu kenal lah, dia itu udah hampir 3 tahun kok disini”.
Dean diam, bukan masalah itu yang dia mau tau sebenarnya tapi bagaimana Dean perhatikan dari ruangan ini kalau lelaki itu terus dekat  pada Diana. Seharusnya control checking produk tidak dilakukan dengan posisi sedekat itu. Pikirnya lagi. Dean tidak lagi bertanya, ada secuil kesal didadanya. Walau dia tahu alasanya tapi Dean berusaha menutupinya.

* * * *

Waktu terus berjalan, tipuanya dengan sering menumpang di bus jemputan mulai membuat tidak nyaman hubungan pertemanannya dengan Adam. Sandiwara dengan ‘menggunakan’ Cleo sebagai alasan untuk memutuskan hubungan dengan Laura juga masih tidak efektif. Laura masih memaksakan perasaanya terhadap Dean. Padahal sejak 6 bulan bertugas di luar negeri Dean sudah memutuskan hubunganya dengan Laura. Alasanya, khilaf terlanjut merajut cinta lokasi dengan seorang gadis pirang berkulit putih bernama Cleopatra. Walau sadar dicampakan Laura tidak juga menunjukan sikap mundur barang selangkah, harga dirinya sebagai gadis idaman semua pria tidak memperbolehkanya menerima nasib dengan semudah itu. Laura masih berjuang atau paling tidak harus terus menjaga image bahwa tidak ada yang berubah dari hubungan antara si Putri cantik dan pangeran ganteng. Bahwa setampan-tampanya Dean, dia bukan orang yang punya bargain power untuk mengakhiri kisah ini. Laura masih kuat memegang prinsip itu dan menjaganya dengan baik.    

Tapi waktu juga tidak lagi bisa membuat Dean membohongi dirinya lagi, dia yakin dengan perasaanya. Dean merasa sudah waktunya untuk jujur.
            “Just can’t stant it”, dasahnya ditempat gym.
            “Gue gak  mau komentar apapun, yang pasti jangan sampai loe bertindak bodoh. Diana itu engga kenal loe, ada apa dia sama si Aris itu kita juga gak tau. So kendalikan diri loe. Kalem man, don’t be silly Man”.
Dean meletakan dumbel 2 kg tersebut, menarik nafas pelan untuk relaksasi.
            “Heh, aku  gak sangka diusia yang  udah nyaris kepala 3 gini, aku malah jadi sentimental”, matanya seperti berpikir tajam.
            “That’s what’s call love”, Adam mengangkat bahu. Seperti tidak yakin dengan jawabanya. Melanjutnya tarik beban dengan tumpuan bahunya yang kokoh.
            “Gue kacau ya?”, kalimat Dean seperti tertahan.
Adam menarik nafas panjang, berhenti sesaat dari exercisenya.
            “Gue mau loe tau, loe selalu jadi orang yang gue kagumin Dean. Gue salut loe berani jadi diri loe sendiri. Loe berani nunjukin siapa diri loe, gue mungkin belum seberani loe Dean. So apapun selanjutnya, gue selalu dukung keputusan loe”.
“Hmmm, setelah gue perhatiin, kelihatanya Diana emang anak  walaupun sederhana”, sambung Adam, ada ketulusan terpancar dari matanya.
Mereka ber high five, “thanks Dam”.
            “Go head man, star your war”, kembali Adam  tersenyum tulus.

* * * *

            “Kamu yang nemuin dompet saya waktu itu ya?”.
            “I... iya pak”, wajah putih gadis itu Nampak pucat. Bagaimana tidak, belum ada sejarahnya seorang Manager Exim bertegur sapa dengan orang produksi secara formal dan langsung begini.
            “Kamu engga usah panik gitu dong”, Dean jadi merasa sedikit bersalah.
            “Hmm…”, Diana hanya mesem. Kepalanya masih tertunduk dalam-dalam.
Rambut hitamnya digelung penjepit, beberapa ekor anak rambut jatuh dipipinya. Menurut Dean itu seksi, kaos putih membalut tubuh kecil itu, Dean  baru sadar ternyata Diana itu mungil. Tingginya hanya sampai sebahu nya. Celana jeans semi ketat memadu pantas ditubuh kecilnya.
            “Saya suer gak ngambil apa-apa lho pak”, dengan suara agak ditekan Diana memecah kesunyian, Diana menggigit bibirnya, berasa ngilu dengan sepi ini.
            “Oh, it’s not about that. Sorry sorry... I lost nothing. Aku eh saya… eng ngg bahasanya enakan mana ya, manggilnya apa ya?”, Dean terkekeh.
Diana tidak bisa menahan senyum, rentetan gigi putihnya menyembul manis.
            “Terserah bapak aja, aku atau saya khan artinya sama aja”.
Alis Dean terangkat, sudut bibirnya terangkat angkuh tapi kalinya siratnya hangat.
            “Oh, oke oke. Aku eh Saya cuma mau bilang thanks”.
Tangan Dean terjulur untuk menjabat, senyum manis Diana terkembang lagi. Mendadak Dean jadi salah tingkah sendiri. Jabatan tangan itu terasa seperti aliran listrik bertegangan tinggi yang membuat tangan mereka tidak bisa terkenaan lebih lama dari 2 detik.  
            “Kebetulan aja kok pak, gak penting kok”, suara Diana masih terbata hanya sesekali dia berani mengangkat kepalanya. Seperti menyadari bahwa lawan bicaranya seorang pimpinan Diana berusaha lupa  kalau lelaki itu ganteng, dan melupakan naluri perempuanya untuk mempertegas dimana garis-garis kegagahan itu secara pasti.
            “Apanya nih yang engga penting? dompet saya atau sayanya”, seharusnya Dean bermaksud untuk sedikit mencairkan suasana dengan sedikit guyon.
            “Eh.. anu, maksud saya, engga pak bukan.. bukan, saya engga maksud..hmm”, wajah itu semu merah, benar-benar anak intovert. Guyonan Dean malah membuat Diana langsung mati kutu.
            “Maaf pak, saya… tidak, maaf..”, kemudian Diana seperti menyesali diri, sedikit mengngutuki diri sendiri. Bulir bening nyata disudut matanya.

Entah syndrome apa ini dinamakan para ahli, Diana tidak terbisa dengan orang baru, Diana selalu tidak pandai menyusun kalimat, Diana terlalu sering menunduk, Diana terbiasa menabrak orang.. Diana begitu mudah kikuk dan biasanya akan berakhir dengan mata yang sembab. Selain degup jantung—yang jika bukan karena terbiasa—pasti bisa membuat orang pingsan seketika. 

Dering intercom telepon. Sesaat memberi kesempatan bagi keduanya untuk menghela napas lega. Cepat Dean menyambut.
            “Gimana, sukses!!”, tidak perlu ditebak lagi.
            “Gila loe, entar lagi gue telpon loe balik”, Dean senyum sendiri.
Buru-buru Diana menghapus bulir bening disudut matanya.
            “Jangan nangis dong, aku engga ada maksud lho”, Dean juga bingung sendiri.

Hening lagi. Diana seharusnya sudah pulang sejak 45 menit yang lalu tapi pembicaraan yang cuma sedikit ini ternyata lumayan menbuang waktu. Dean masih diposisi berdiri, sedikit bersandar dimeja kerjanya. Diana duduk dipinggir bangku dan masih dengan wajah yang tertunduk. Dean hanya bisa menatap leher gadis kecil itu.

            “Pulang bareng ya… ?”, pintu ruang kerja Dean tiba-tiba terseruak.
Wajah cantik Laura muncul dengan ceria, walau sudah sesore ini riasan wanita cantik itu tidak nampak memudar sedikitpun.  Dean hanya bisa ternganga karena kaget. Beberapa detik kemudian Adam setengah berlari berusaha mengejar Laura tapi tidak ada gunanya lagi. Dan yang juga tidak kalah kaget  dan takut adalah Diana. Wajahnya seketika lebih memucat lagi, tubuhnya bergetar, matanya terasa panas dan dadanya sesak. Rasanya ingin secepat kilat kabur dari ruangan penuh bos-bos ini, tapi lututnya seperti terpatri dengan sudut sofa. Telapak kakinya terasa lengket dengan lantai.

            “Ngapain kamu disini, kamu anak produksi khan?”, tembak Laura dengan cepat, begitu sadar kalau disisi kanannya ada seorang gadis kecil duduk dengan santai.
            “Sss... sa… saya..aa.. mmm..”, lidah Diana kelu.
Laura membalik tubuhnya, mengejar Dean dengan mata membulat. Sorot mata elang yang pernah Dean kagumi, sorot mata yang pernah menatap Dean dengan penuh gairah dengan sebatang rokok terselip manis dijarinya disuatu petang yang membara.

            “Ngapain dia disini, apa maksudnya... kamu mgurusin anak produksi”, Laura berputar diantara mereka, tatapanya masih sinis dan tajam.
            “Engga engga La, ini gue  yang mau ketemu anak ini”, Adam memotong.
Laura kembali beraksi dengan matanya, manatap ketiga manusia didepannya dengan pongah dan penuh selidik.
            “Dalam rangka apa nih, ada udang dibalik batu. Or, jangan bilang…”,  senyum sinis menungging disudut bibirnya. Senyum penuh ejekan.
            ‘Dean, you must say something… aku mau penjelasan dari kamu”, serunya dengan memaksa, nada manja itu membuat darah Dean terdesir.

Dean merasa sangat bodoh karena tidak ada hal yang berusaha untuk dilakukannya, malah Adam yang terlihat berusaha membela. Diana Cuma bisa mematung dalam tangis. Walau tanpa suara tetesan airmatanya terus membasahi wajah.
Kesal tidak juga ada penjelasan dari 2 manusia yang biasa disematnya dengan gelar teman itu, membuat Laura melangkah mendekati Diana.

            “Kamu ini siapa, mau berganjen ganjen sama bos ya, anak line apa sih kamu, siapa leader kamu, tau diri sedikit dong. Heh siapa nama kamu?”
Seperti junior dalam perploncoan, dan Laura senior yang dalam action, semua hanya bungkam.

            “Lelaki tolol mana nih yang naksir bocah ini!”, sembur Laura panas.
            “Laura..”, nyaris bebarengan Dean dan Adam.

Ketakutan dan kesedihan yang dalam makin jelas terpancar pada wajah Diana yang polos tanpa riasan. Jelas dia tidak punya nyali sama sekali untuk membantah, bahkan utuk mengangkat kepalanya dia tidak sanggup. Bahunya bergerak-gerak, dadanya semakin sesak demi menahan tangis yang nyaris tak terbendung lagi. Laura mengangkat dagu mungil Diana.
            “Kamu mau ngomprengin Bos ya, mau jadi Venus liar”.
            “Laura kamu udah keterlaluan”, Dean menyesali diri, dia tidak mampu berbuat lebih. Hanya menatap Laura dengan kecewa.

Kesinisan kembali mengembang di wajah cantik Laura, memperhatikan Dean dari atas kepala sampai kaki demikian juga terhadap Diana.
            “Hi Boy, it’s that all your taste”, senyumanya bermakna ejekan.

            “Cewek jalang kecil, mau ngerayu Bos khan. Perempuan apa kamu, berani-berani masuk ruangan bos, kamu tuh bener-bener gak punya malu!!”, Laura menuding kening Diana dengan penuh umpatan.
            “Laura”, sebuah tarikan spontan. Laura terjegang beberapa langkah demi hempasan tangan Dean
            “Dean, kamu gila ya?”, Adam  juga terhenyak.
            “Dean kamu… berani kamu bikin gitu sama aku”, Laura merapatkan tubuhnya pada Dean. Menampar Dean dengan keras. Lalu setengah berlari meninggalkan mereka. Plakk…

Adam terkaget. Kepala Diana terangkat sebentar tapi jelas dia lebih sering mengatupkan bolamatanya. Dean menahan nafas sesaat. Hening, suara hak sepatu Laura makin menjauh.
            “Laura, tunggu…” Adam kebingungan. Dean menggeleng.
Akhirnya Adam menjatuhkan tubuhnya di sofa. Diana hanya mampu termagu sambil menutupi  mulutnya, shocked. Dean masih belum bergeming dari posisinya.
            “Pak maaf. Sa..saya bi..bisa pulang”, dengan segala sisa kekuatan dan tenaga yang ada Diana membuka mulutnya untuk minta ijin keluar. Tanpa menunggu jawaban, Diana mengambil langkah panjang untuk menjauh, kepalanya masih belum berani terangkat. Dean dan Adam tertunduk bersamaan, sebenarnya Dean merasa masih setengah hati dengan kejadian baru saja.

            “Mas… aku takut, aku engga tau ada apa?”.
            “Ssstt udah udah. Sekarang kamu tenangin dulu diri kamu”.
Diana menjatuhkan kepalanya penuh ketenangan dibahu Aris, isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Sesegukanya masih sesekali terdengar.  Dengan lembut Aris menarik tangan Diana menuju parkiran motor. Aris membiarkan jaketnya tergantung dibahu Diana. Agin menjelang malam mulai mendesir.
            “Udah dong sedihnya, nanti dikira bibi aku engga bisa jagain kamu. Lagi udah malam  kamu juga belum makan lagi”, Aris seperti menyalahkan situasi.
            “Nanti kita terusin ceritanya dirumah”. Aris mengatur motornya agar bisa keluar dari tempat parkir tanpa mengganggu beberapa motor security yang sudah berjejer disebelahnya.
Belum lagi Diana bisa membuka mulutnya hanya linangan airmatanya yang masih jatuh satu-satu. Rembulan petang membuat air bening itu berkilat-kilat diwajah Diana.

 Mereka berpapasan dengan Dean dan Adam di area parkiran mobil.
            “Malam pak”, sapa Aris hormat sembari mendorong motor. Diana hanya tertunduk disebelahnya, tidak berani menatap para bos yang beberapa menit yang lalu dihadapinya diruangan atas dengan sebuah ‘drama’.
            “Oh, malam juga. Belum pulang kamu”, balas Adam tenang.
            “Saya habis nunggu temen pak, mari pak udah malam”.
            “He eh..”, senyuman bos seorang Adam terpasang. Dean memaksa tersenyum.
Diana semakin merapatkan tubuhnya pada Aris, masih mencoba melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Nampak wajah Pak Dean dan Pak Adam juga sudah sangat kelelahan.

Dean hanya diam dalam mobilnya, Adam berusaha mengerti.
            “Calm down Man, Diana itu cantik. Wajar kalo udah punya pacar”, ujar Adam pelan seperti membaca kegalauan hati Dean demi pemandangan baru saja diparkiran.
Dean menunggu sampai motor lelaki itu lewat, hanya untuk melihat hal yang dia tau dia tidak mau lihat. 

            “Argg… semua berantakan. Anak itu malah ketakutan”, sesalnya.
Adam menstater mobil, lalu merayap pelan dibelakang sepeda motor hitam Aris. Sampai akhirnya terpisah di perempatan jalan. Dean masih sempat menatap punggung Diana sebelum Adam mengambil arah jalan  tol, sedangkan mereka memasuki jalan umum.

Tidak ada hal yang terlalu istimewa sama anak itu, tapi entah kenapa Dean tertarik. Padahal semua orang menjulukinya si ceroboh, si kikuk, si bodoh. Betapa tidak, entah menyenggol mangkok di jam makan, menginjak kaki orang di mobil jemputan, terkunci dikamar mandi bahkan hampir tiap hari anak itu menabrak orang yang berpapasan dengannya, baik di line kerja sampai di area parkir.

Seperti tadi, Dean bahkan bisa mencium wangi rambut  hitamnya yang panjang itu karena anak itu bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika berjalan. Entah apa yang pasti  tapi  gadis ABG itu seperti memikat Dean dengan segala ‘kelemahan’nya.

Diana bergidik, mengingat hal tadi. Mencoba melupakannya dengan memejamkan mata tapi tidak membuahkan hasil. Seminggu sejak melihat pak Dean,sebagai orang kontak baru gadis itu setuju dengan semua  yang dikatakan orang-orang lama.
            “Manager paling ganteng, yang baik hati”.

Ya ya, sangat baik hati. Beberapa kali tanpa sengaja Diana menabraknya di ruang quality. Bahkan 2 kali menginjak kakinya waktu di bus jemputan. Bukan kecelakaan yang menyenangkan sebenarnya, karena setelahnya tidak sedikit staff yang menegur dengan ketus kecerobohoanya tersebut. Diana sudah berusaha lebih hati-hati tapi tetap saja salah satu kebiasaan buruknya itu terukang lagi.  Dan seperti biasa pula hanya  senyuman yang sangat teramat manis itu yang terlontar dari wajah pak Dean. Padahal beberapa orang dibelakang complain dan complain.

Diana cepat membuka kelopak matanya yang nyaris terpejam, hembusan angin menapar pelan wajahnya. Motor Aris melaju lambat, sepupu gantengnya itu terus berbicara tapi Diana terlalu hanyut dalam angannya untuk mendengarkan kata-kata Aris dengan seksama.

Waktu tanpa sengaja menemukan dompet coklat yang ternyata milik pak Dean  diparkiran, bukanya tidak sejuta bunga tiba-tiba bermunculan di hati Diana. Mungkin kesampean juga mimpinya utuk bertatapan langsung sama manager ganteng yang baik hati itu. Walau dia sadar kalau nyalinya tidak akan  sebesar itu.

MIMPI KALI YE… hati kecilnya meledek dengan seringai. 

Bahkan untuk membayangkannya saja Diana malu sendiri.
“Bener kata Bu Laura, akau harus tau diri“, teriaknya berkali-kali dalam hati.

Tapi memang pikiran itu yang menggoda hatinya, angan-angan konyol mengelitik dikepalanya. Jika, seandaninya, mungkin, mungkinkah kalau tadi Bu Laura tidak keburu datang ‘mungkin’ Pak Dean bermaksud  mengajaknya pulang bersama.

Diana merasa malu sendiri dengan mimpinya itu, tapi memang hayalan itu sempat terbersit kok.. Dia mencoba melupakannya dengan membenamkan wajahnya dibalik jaket merah milik  Aris.

            “Ah…” desisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar