Selasa, 17 Juni 2014

Karena aku cinta kau...



Mata meraka bertatapan dengan mesra, setelah kecupan hangat pada bibir Maya, Adnan melanjut pada senyuman genit, Maya mencibir manja lalu mencium tangan Adnan santun. Maya membalik badannya mengejar tangga busway yang  padahal tidak beranjak.  Kemudian sedan tua Adnan berbelok menerabas jalur tol menuju luar kota Jakarta.

Adnan masih terus berkutat dengan stiker-stiker merah bergambar garuda, simbol pilihannya pada suatu partai yang mengusung calon presiden. Maya mantap dengan jacket merah dan kemeja kota-kotaknya, rapih dengan celana jeans panjangnya. Ya, Adnan dengan kaos putih dengan logo garuda di dadanya dan gambar Capres serta bertulis No. 1 di punggungnya, gambar itu jelas, terang dan mencolok.

Tanpa ada gambar presiden pun kemeja kota-kotak Maya sudah melambangkan suatu pilihan juga, kalau kemarin Maya sudah berpakaian  kaos oblong putih dengan gambar hitam-putih pasangan Jokowi-JK, hari ini kelihatanya Maya sudah kehabisan kaos sang usungannya. Maklum sudah seminggu hujan terus mengguyur kota Jakarta tanpa pertanda apa-apa, yang hasilnya adalah jemuran yang masih saja berkibar-kibar diteras depan.

Pagi itu  pasangan muda itu terpisah di pusat kota Jakarta yang sudah dipenuhi orang-orang yang berolahraga sejak pagi. Beragam warna dan potongan manusia berlalu-lalang di CFD pagi itu, sepertinya ada juga even khusus sehingga kerumunan manusia dengan seragam bertema khusus nampak membludak.

Seperti kebiasaan mereka, Adnan menatap penuh cinta pada Maya dan seperti biasa pula Maya membalas dengan perasaan yang hangat, kecupan, gigitan mesra di dada Adnan akan mengakhiri gelak diantara mereka. Maya keluar dari mobil dan menghampiri kawanannya yang sudah berpakaian rapih bergambar Jokowi-JK. Beberapa ratus meter didepan Adnan memarkirkan kendaraannya untuk kemudian berbaur dengan gerombolan teamnya yang menamai diri mereka Sahabat Prabowo.

Bosan sudah baik Maya maupun Adnan menjawab pertanyaan rekan dan teman-temannya, mulai dari pertanyaan usil, rusuh, keppo sampai pertanyaan diskriminatif soal paham politik mereka.

Sebagai golongan minoritas, Maya memilih mengusung nama Jokowi-JK sebagai jagoannya di pilpres sedangkan Adnan dengan segala keyakinannya dan bumbu nasionalisme─yang sudah jenuh dengan ‘perampasan’ pulau-pulau indonesia diperbatasan yang selalu ditanggapi keprihatinan yang tak berkesudahan apalagi bersolusi─ Adnan yakin 100% dengan Prabowo-Hatta.

Kembali kerumah dengan status sebagai suami dan istri juga bukan tanpa masalah rumah tangga. Ditambah lagi dengan pandangan dan ideologi yang berbeda tidak membuat Maya dan Adnan enteng dengan kata cerai. Tapi perselisihan niscaya sebuah kepastian.

“Istri harus tunduk sama suami,” nasihat seorang teman pada Maya.
“Oh ya,” demikian selalu balas Maya enteng, segan rasanya berdebat dengan orang yang sudah pasti berbeda pandangan dengannya. Seharusnya setiap orang tau dari intonasi dan pertanyaannya, jenis apakah ini, dan perlukan diladeni??
“May, as long as we can, better if we avoid to have conversations about ideology and personal views with friend. Worthless” begitu nasihat sang suami berkali-kali pada Maya, yang walaupun sudah berkali-kali diingatkan selalu saja ada celah dimana Maya terpancing untuk menjelaskan, dan biasanya penjelasan ini akan berakhir pada penghakinan dan kepastian kalau ada pihak yang harus bersalah. Dan buntutnya Maya akan merepet pada suami.

Maya merapihkan peralatan sholat sang suami dan meletaknya keatas keranjang pakaian harian. Sementara sang suami menyelesaikan sholat di jam Isya biasanya Maya akan duduk menunggu di meja komputer  belakang arah Kiblat.

“What?” Adnan memulai percakapan sembari membuka-buka lemari baju, setelah dirasakan istrinya agak gusar dengan kelambananya berpakaian.
“Lama bener sih,” benar saja Maya langsung menyemprot agak kesal.
“Bajunya engga enak yang tadi, ganti dulu”
“Khan bisa ganti baju sambil nanya, masak harus rapih dulu baru nanya?”
“Iya kamu cerita aja, kenapa sewot sih?”
“Ihh, kamu gak nanya apa-apa terus aku tetibaan cerita gitu, apa susahnya sih nanya ‘ada apa’ sambil ganti baju, khan udah selesai juga sholatnya... gitu aja lama dehh, kebiasaan” Maya masih terlihat keki. Tangannya melipat-lipat sajadah yang sudah rapih sedari tadi.

Adnan menggeleng, tanda mengalah dan menghindari debat kusir yang tidak akan berkesudahan. Waktu 10 tahun lebih sudah cukup untuk mengetahui kalau ada hal yang menggangu istrinya soal ‘harga diri perempuanya’, hal-hal seperti ini biasanya akan membuat emosinya kembali ke masa ABG nya, labil dan berapi-api. Toh bukan hal baru, Maya sama dengan ribuan atau bahkan jutaan perempuan lain diluaran disana, suka yang tiba-tiba bercerita yang menurut para pria-pria bukan hal yang penting dan patut diperbincangkan, Maya juga suka tiba-tiba terheboh-heboh dan berjingkrat-jingkat sekedar untuk cerita “tadi ketemu di ini” atau “lihat” sesuatu yanng menurut hormon laki-laki Adnan bukan suatu hal yang istimewa.

Okey, I am sorry. Ada apa Maya??” Adnan tau akan percuma membalas repetan perempuan bermata kecil itu, mata yang dulu membuatnya terjatuh dalam cinta.
“Itu si  Riri, masih inget gak temen SMA aku yang rajin banget ikut semua kegiatan jaman dulu. Kita pernah ketemu dia di Atrium Senen, waktu baru-baru nikah dulu... ahh, pasti kamu inget dech. Kemarin aku ketemu dia mas, trus dia ngajak ngobrol sambil makan-makan gitu. Ujung-ujungnya malesin banget tau, pake ngajarin aku caranya supaya bisa bikin anak, berobat apa gitu, supaya bisa hamil. Gilaa, dia kira dia siapa, emang dia kawin udah berapa lamaa...”
“Nikah kali..” potong Adnan enteng
“Sama aja... kamu nih, ya pokonya aku gak nyaman banget sama bahasa dia, aku gak suka sama nasihat-nasihat dia soal anak... lah dia aja belum punya anak. Mau nikah sudah 10 tahun, 5 tahun 2 tahun bukan alasan lah, pokonya dia juga sama belum punya anak, so gak pantes nasihat-nasihatin aku soal anak” mata Maya masih menyala. Dadanya naik turun karena emosi.

Adnan tidak mengerti, bagian mana yang sangat membuatnya marah. Toh sebagai pasangan menikah 10 tahun, sesungguhnya bukan hanya Maya yang bosan dengan pertanyaan-pertanyaan soal anak. Walaupun “cuma” laki-laki Adnan juga sering menerima pertanyaan soal anak, tapi toh Adnan menerimanya sebagai sebuah takdir yang berlum berpihak, sedangkan Maya selalu mengganggap pertanyaan soal anak sebagai sebuat granat yang siap melukai harga dirinya, Adnan duduk manis dipinggir ranjang sambil mendengarkan kemarahan sang istri pada si Riri yang sesungguhnya Adnan lupa, yang seperti apa rupanya si Riri ini.

“Gila, loe ama laki loe bisa sepakat gitu soal pilpres cik?”
Ya ya ya, Maya juga sudah sangat bosan dengan pertanyaan seperti ini. Apanya yang hebat sih, apanya yang istimewa sih?? Maya pro Jokowi-JK, Maya terkagum dengan sikap sederhana dan kerja keras pak Jokowi belum lagi nasionalismenya yang tidak pernah masuk ke ranah agama dan sukuisme sebagai ‘jualan’ kampanye, Maya terkagum-kagum dengan misi-visi Jokowi yang pro-tehnologi, sesuai dengan bidangnya.

Sedangkan Adnan suaminya itu, pria besar berkulit melayu asli yang sudah 10 tahun menemani hari-harinya sebagai pasangan hidup itu menentukan pilihanya untuk menjadi Sahabat  Prabowo. Kesukaanya pada pelajaran geografi, kesukaanya pada organisasi dan sikapnya yang memang tegas dan bijaksana memberikan kemakluman pada Maya kalau sang suami merasa lebih sepaham dengan misi dan visi yang sudah di dengungkan oleh pihak Prabowo.

Maya juga merasa biasa saja dengan koleksi ke Jokowi-Jokowianya yang bersandingan dengan atribut ke Prabowo-prabowoan sang suaminya di kamar.

Mereka sama-sama sepakat bawahma Prabowo dan Jokowi adalah 2 figur baik dan istimewa hari ini,  mereka masing-masing akan membangun Indonesia lebih baik lagi, pasti dengan cita-cita yang lebih tinggi dari sekeda slogan dan bahasa kesedihan. Baik Maya maupun Adnan percaya, akan ada gebrakan yang lebih baik tahun ini, akan ada sesuatu yang luar biasa tahun ini, entah siapapun yang akan menjadi presidennya.

Akan tetapi dalam segala kesepakan itu Maya masih merasa sedikit lebih unggul dari pada Adnan, juga dalam segala cintanya buat sang istri Adnan percaya pilihanyalah paling tepat. Kata hati yang  mereka tidak diskusikan dengan gamblang tapi jelas tersirat dari setiap debat kusir yang terjadi diantara mereka ketika membahas soal pilihan presiden ini.  

Sambil menunggu Adnan menyelesaikan sholat maghrib di mesjid yang bisa didapatinya dijalan, Maya menunggu di bangku tunggu yang ada tidak jauh dari tempat parkiran. Sembari membunuh waktu diantara suara adzan yang mulai menggema,  Maya  membuka-buka media sosialnya lewat gadget. Kemudian yang bertaburan adalah perang debat dan sindiran soal capres dan cawapres. Ada kegundahan yang luar biasa dihatinya, ada kekesalan di wajahnya, mau rasanya membagikan betapa dia lebih hebat bergulat tiap harinya dengan pilihan dan perbedaan. Betapa kebodohan kelompok-kelompok entah itu pro No. 1 atau pro No. 2, Maya lebih melihatnya sebagai kumpulan dagelan yang dilakonkan pemain pendatang baru yang amatir, yang norak dan yang kampungan yang tidak sesungguhnya mengerti apa drama.

Para lover  dan hater, penyuka dan penguktuk, pencinta dan pemuja yang tidak tau  artinya persaingan. Tidakah mereka belajar ilmu ekonomi, cuma persaingan yang bikin bisnis maju, cuma kompetisi yang bisa bikin orang menjadi lebih maju. Dengan diasahlah kemampuan orang semakin terlihat. Dinding-dinding  Buku Biru Maya dipenuhi tulisan-tulisan amatir dan makian-makian, sedangkan TL si Burung Biru banyak  berisi umpatan sampah dan sanjungan tak jelas dari mereka─menurut Maya─pasti bahkan tidak mengerti apa arti dari substansi isi ‘janji’ kampanye si para tokoh utama ini.
  
Agama dan misi itu beda, visi dan pendidikan itu beda, ras dan kinerja tidak ada hubungannya man!!! Huh, desisnya galau... setiap kali membuka media sosial yang lama kelamaan Maya sudah tidak lagi merasa itu sebagai sarana sosial, karena didalamnya sudah jadi kumpulan-kumpulan komunitas, ektrimist, media niaga. Bukan jarang dimana yang satu menjatuhkan yang lain. Dimana koran/informasi/pengetahuan komunitas tertentu yang jelas-jelas tidak akan menciptakan perdamaian jika dibagikan dengan umum akan tetapi dengan entengnya (sekarang) dibagi-bagi secara umum. Ketika yang tidak mengerti ‘makna’ beriklan atau mengiklankan hal-hal yang mereka tidak mengerti esensi sesungguhnya, padahal mereka hanya tertarik dengan kalimat ‘agama’, kalimat ‘sukses’, kalimat ‘uang’  seandainya saja mereka lebih cerdas, mereka mungkin akan sadar bahwa bukan selebar kepicikan para pendukung fanatik yang tidak simpatik itu  maksud dan paparan para calon pemimpin besar itu.

Maya menutup HP dengan kesal, memasukanya kedalam sarung. Masih saja tiap refreshing feed-nya berisi link-kampanye, status dukungan yang lebih mirip ajakan berbau provokasi, status-satus dengan diskriminasi agama, mengungkit masa lalu, mencari salah, memaksa harus ada pihak yang salah dan entah siapa yang sesungguhnya harus disalahkan.

Maya merinding sekaligus bersyukur,  lebih 10 tahun berumah tangga, tanpa keturunan,  tragedi 2 kali keguguran, suami yang berbeda keyakinan, berbeda ras dan hari ini mereka berbeda pandangan  ideologi politik.  Hampir setiap hari Maya berhadapan dengan namanya pilihan. Pilihan untuk bertahan apa selesai, pilihan untuk meributkan atau mengalah tapi─pastinya dia tau─tidak iklas, pilihan untuk mendebat apa mendiamkan. Dan semuanya tidak mudah, sebagai manusia Maya tau pasti kalau Adnan juga punya perasaan yang sama, karena mereka sama-sama manusia, sama-sama punya rasa, sama-sama punya keyakinan, sama-sama punya sudut pandang. Maya sadar setiap hari pun Adnan juga berjuang.

Sampai hari ini Maya masih sangat menghargai keyakinan suaminya yang tidak jarang mengganggu jam tidurnya. Tapi Maya menikmatinya sebagai keindahan sebuah rutinitas harian, atau Adnan juga pernah komplen jika seandainya Maya lebih flexible dengan jam ibadah minggunya, agar bisa disesuaikan saja dengan keperluan holiday mereka. Maya tetap kekeuh dengan jadwal ibadah minggu paginya, dan kegiatan ibadah lainya yang  jam-jamnya tidak melulu bisa disesuaikan dengan jadwal kegiatan kepartaian maupun keagamaan Adnan.

Perbedaan agama bukan hal mudah buat seorang berkeyakinan kuat seperti Adnan atau Kristen taat seperti Maya. Tapi diusia muda, keinginan yang kuat mengalahkan logika mereka, cinta yang menggebu dan perasaan ‘sepaham’ mereka dalam melihat keragaman yang begitu liat membuat mereka menabung dengan tertatih-tatih untuk melegalkan pernikahan mereka di Singapore.

Hari ini Maya tau pilihanya tidak pernah salah, Adnan memang Tuhan ciptakan untuk melengkapi hidupnya. Ketaatan Adnan pada keyakinanya justru membuat Maya semakin kuat dengan agama yang diyakininya, ada penghormatan didalamnya, ada kasih yang humanis dari seorang laki-laki. Keaktifan dan jiwa sosial Adnan pula yang mempertemukan mereka pada suatu komunitas.

Adnan yang tidak pernah berkomentar soal warna kulitnya, Adnan jelas menyatakan cinta bahkan setelah  dia tau waktu itu Maya tidak lagi suci. Maya pernah korban pelecehan seksual masa sekolah, diskriminasi rasial membuatnya jadi korban kebodohan anak-anak muda.  Tatoo permanen bergambar singa mengaum punggung  kanan Maya seolah menjadi jawab atas semua kegelisahanya sebagai korban dan objek penderita ditahun-tahun yang lalu. Dan seorang Adnan melihat semuanaya sebagai paket kehidupan Maya, ini bukan soal salah dan benar, ini bukan soal warna dan bentuk, ini soal jiwa, ini soal hati, ini soal keyakinan, dan Adnan yakin sekali saat itu dan sampai hari ini, dia harus menjaga Maya sepenuh hati, dia harus ada bersama Maya, dia tau Maya membutuhkanya, dia tau dia semakin sempurna dengan menjadi malaikat pelindung buat Maya. Lagi mata sipit  Maya dan lidah celatnya pada hurup R  yang membuat Adnan terpukau.

Bertahun-tahun yang lalu, Maya sadar kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan tidak iklas sama sekali, basa-basi yang menakutkan dan boomerang yang dia tau dia tidak siap dengan jawabanya, tapi kesadarannya sebagai permpuan tidak sempurna tidak boleh jadi alasan pembenaran Adnan harus ikut menderita. Ini memang cinta tapi harus realistis, pernikahan ini bukan hanya milik mereka, ada Bapak-ibu Adnan, ada saudara-saudaranya, ada Mami-papi Maya dan juga banyak kerabat Maya dan mereka semua melihat, mereka pasti berkomentar.

“Kamu boleh nikah lagi kalau kamu pegen punya anak”
Adnan yang masih berkutat dengan komputernya, mengintip kearah Maya didepanya, “Serius??” tanya Adnan berbalik dengan antusias.
“Kamu khan harus punya keturunan supaya ada yang doa’in, supaya ada penerus, supaya saudara-saudara kamu engga mengucilkan kamu”
“Lalu mami-papi kamu gak pengen cucu??”
“Iya, tapi kamu khan laki-laki”
“Dan kamu perempuan”
“Iya beda lah... agama kamu juga menghalal-kan kamu menikah lagi,’ setengah mati Maya mencoba mengatur agar suaranya senormal mungkin tapi sejujurnya hatinya hancur, takut dengan sikap antusias Adnan barusan.
“Maya May, aku menikahi kamu dengan segala konsekwensi kehidupan yang tidak normatif sejak semula. Dan tiba-tiba, kamu minta aku normal dengan egoku sebagai manusia??” Adnan bangun dan berdiri disisi pintu kamar, Maya berganti duduk dari ranjang ke kursi Adnan tadi, kedepan komputer. Adnan sedang membuat artikel sosial, pekerjaan sampinganya selain sebagai karyawan swasta.
“Ya aku mau realistis aja, dokter juga udah bilang kecil kemungkinan aku akan punya anak, rahim aku terlalu lemah, dan kamu gak harus kasihan sama aku toh”
Gosh, Maya Maya... kita nikah baru 5 tahun, jalan kita masih panjang, ada 10 tahun lagi, 15 tahun, 20 tahun lagi bahkan aku minta sama Allah SWT supaya kamu jadi jodoh pertama dan terakhir aku... kita masih punya banyak kesempatan untuk menunggu bersama”
Get real lah mas??” ada semangat kecil yang sesungguhnya merasuk hati Maya.
“Aku mau ibadah aku dengan Tuhan-ku, bukan dengan pandangan orang lain. Aku mau menjalankan kewajibanku dengan tidak menyakiti hati orang lain, apalagi hati istri aku” ujarnya, seperti biasa teduh dan menenangkan.
“Aku percaya jodoh, mati dan rejeki sudah ada yang atur  dan anak itu adalah rejeki dari Tuhan, kalau belum dikasih masak aku perlu shortcut cuma sekedar membuktikan bahwa aku juga bisa punya anak” sambung Adnan lagi.
“Khan kamu yang selalu ajarin aku, semua akan indah pada Waktu Tuhan karena..”
“Tiada yang mustahil bagi orang percaya...” Maya melanjut kalimat Adnan bersamaan, membelit tangannya dipinggang suaminya. Dan ditahun-tahun kemudian Maya tidak pernah lagi memberikan ‘penawaran’ pada Adnan, karena Maya tau itu hanya bahasa kemunafikannya sebagai perempuan.

Terkadang Maya bersyukur dan berfikir betapa ketidak-adanya keturunan dalam perkawinan mereka sesungguhnya adalah anugrah, jika ada anak diantara mereka, mungkin akan ada kepicikan yang kemudian merayapi mereka. (Mungkin) mereka akan berharap anak memilih keyakinan yang dianut salah satu pihak. Dan keberpihakan si anak seperti menjadi ‘pilihan’ kebenaran mutlak atas perbedaan  yang mereka yakini.

Maya berfikir, jika anak kemudian berfihak padanya, mungkin dia akan menjadi sama pandirnya dengan orang-orang yang hidup dalam zona nyaman itu, seperti teman-teman di halaman birunya atau burung biru. Mereka si Mayoritas yang kelewat PD, si minoritas yang nyolot, si amatir yang sok pinter, mereka yang melalui hari dengan mencari-cari kesalahan orang lain, mengorek-ngorek borok kecil lawan dan memunculkan kebenaran semu yang menjadi milik si manis mulut, manusia-manusia dengan citra.  Mungkin jika hidup terlalu mudah buat Maya dan Adnan maka penghakiman dan realita hidup akan manjadi wacana saja bukan sudut pandang  perjalanan hidup mereka.

Maya mencium tangan Adnan sopan, lalu mengenggamnya erat menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat Maya menunggu tadi. Maghrib baru saja usai.

1 komentar: